Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Mantra, Jawa

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Mantra-mantra adalah nyanyian langit. Ditangkap oleh para mistikus sebagai nyanyian jiwa. Di dalamnya bertumpuk rahasia langit. Mungkin rahasianya rahasia. Itulah mengapa mantra oleh para pelakunya juga dihayati sebagai bisikan Ilahiah. Betapapun rahasianya, bisikan langit itu tetap dijelmakan menjadi rapalan manusia. Sebagiannya malah dipahatkan menjadi tulisan ala bumi.

Begitulah kisah mantra. Pada awalnya, mantra berasal dari bahasa archaic, sudah lahir sejak 1500 SM. Mantra-mantra dikaitkan dengan ajaran Vedic Sanskrit, yakni bahasa Veda yang paling kuno (Frits Staal, 1996). Menjadi sangat populer di dalam sekte Tantra pada 600 M, lalu menyebar ke berbagai belahan bumi dan menjadi fenomena lintas budaya (Robert A. Yelle, 2003).

Di semua kebudayaan, bentuk-bentuk mantra dikenal secara beragam. Ada yang menggambarkan serapan Vedic Sanskrit kemudian bercampur dengan bahasa lokal, ada pula yang lepas sama sekali dengan ayat-ayat Veda. Betapapun beragamnya, mantra tetap saja diyakini sebagai ayat-ayat suci dalam bahasa paling murni.  Dirapalkan oleh para mistikus sebagai sarana untuk (kembali) menyibak rahasia langit, atau demi mencapai sesuatu yang murni dan Ilahiah.

Dalam bahasa murni itu, mantra hampir tidak pernah bisa dimengerti secara fonetis maupun sintaksis. Usaha memecahkan mantra dari segi itu memang terus dicoba oleh para ahli, meski begitu, saya kira itu usaha yang hanya akan menjamah bagian permukaan dari sifat Ilahiah mantra. Dalam bahasa murni itu, mantra-mantra hanya dimengerti sebagai perpaduan bunyi dan nada, diulang-ulang dan membentuk struktur matematis. Ia bersifat sastrawi, ritmik sekaligus mistik.

Pada Awalnya Adalah Nada

Saya percaya pada dimensi melodis mantra. Bisa jadi, semua bermula dari nada. Bahkan, hakikat ada itu sendiri adalah bunyi dan nada. Konon, seorang mistikus Yunani kuno, Pythagoras dari Samos, dalam suatu permenungan mistisnya bisa menangkap bunyi yang bersumber dari planet-planet di jagad raya, membentuk nada, melodis sekaligus matematis. Inilah pijakan kebudayaan manusia mengenal nada dan musik.

Itulah mengapa, ketika ditanya tentang alasan mengapa manusia ada. Pythagoras dengan enteng menjawab, “untuk mengamati langit”. Jawaban ini adalah jawaban seorang mistikus. Manusia memang selalu berkecendrungan ingin menyibak rahasia langit, surga, kahyangan. Dan, Pythagoras sendiri mungkin sudah mencecap rahasia itu di dalam nada.

Begitulah. Hakikat senyatanya adalah bunyi dan nada. Setidaknya, ajaran Śiwa kuno di Jawa (Javanese-Śaivim) mengokohkan keyakinan tersebut. Ajaran kuno itu menegaskan Śiwa sebagai realitas tertinggi, mewujud menjadi mantra yang tidak lain adalah bunyi-suara (śabda). Nada dan ada sebagai realitas tertinggi, dengan begitu bersifat identik. Segenap yang ada bermula dari nada, dan akan kembali kepadanya (I.B. Putu Suamba, 2014).

Pada hakikatnya, segala yang ada hanyalah manifestasi bunyi dan nada. Dalam ajaran Parama Śiva Tattva, iluminasi seperti ini disebut dengan praņava (ońkāra) yang bersifat gaib, rahasia dan penuh cahaya. Nāda adalah manifestasi tertinggi, dan mewujud dalam ragam materi jagad semesta karena kekuatan Ilahiah, yang disebut śakti. Kekuatan inilah yang menjelmakan nāda menjadi semesta, sekilat kun fayakun.

Mantra di Jawa

Para mistikus pastilah menghayati rahasia tersebut. Sejurus dengan ungkapan di atas, mantra diyakini sebagai perwujudan realitas tertinggi, dan pada saat bersamaan mantra juga merupakan sarana bagi para mistikus untuk menyibak hakikatnya. Sekurang-kurangnya, mengintip rahasia langit demi menyentosakan jiwa.

Di Jawa—seperti halnya di banyak kebudayaan besar lain, mantra dihayati sebagai nyanyian langit. Nada suci yang hanya mungkin ditangkap oleh pribadi-pribadi suci. Mereka itulah para mistikus dan spiritualis yang terus menjalani tirakat dan laku berpantang demi mencecap rahasia langit. Itulah mengapa, mantra selalu dikaitkan dengan ritual-ritual yang bersifat mistik.

Sebagai kebudayaan yang mewarisi ajaran kuno Parama Śiva Tattva, masyarakat Jawa juga sangat menghormati sifat śakti yang dipancarkan oleh realitas tertinggi. Para perapal mantra di Jawa, sangat memahami rahasia tersebut. Sebagian besar mantra lalu dijadikan sebagai sarana untuk menitiskan sifat ilahiah śakti kepada pribadi-pribadi yang mendambakannya. Melalui laku mistik dan japa-mantra, orang lalu menyerap sifat-sifat adi-manusiawi yang mewujud menjadi segala jenis kedigdayaan.

Mantra jelas merupakan fenomena lintas budaya, dan dengan begitu tidak mengherankan bila mantra-mantra di Jawa—setidaknya yang dituliskan oleh para guru spiritual atau murid-muridnya, selalu menggambarkan adanya jejak serapan dari Vedic Sanskrit di dalamnya, terutama ajaran Tantra. Setidaknya, Andrea Acri (2006) yang pernah mensurvei ragam manuskrip tutur atau tattwa, yang masih tersisa di Bali dan sebagian merupakan warisan tutur Jawa, menggambarkan adanya hubungan paralel antara sumber-sumber tersebut dengan ajaran kuno Sanskrit Siddhāntatantras.

Kajian ini cukup menggambarkan betapa di masa lalu, ayat-ayat suci berbahasa Sanskrit menjadi pondasi bagi lahirnya lontar-lontar tutur Jawa. Dalam kadar tak terhingga pula, mantra-mantra bersifat Tantrik yang masih lestari hingga saat ini, juga menggambarkan serapan yang sama. Meski begitu, Andrea Acri sendiri manyadari bahwa ada banyak distorsi, pengurangan, dan ketidaksesuaian di antara kedua sumber. Ini membuktikan bahwa, selalu ada kemungkinan terjadi kreativitas sintesis dengan bahasa lokal, ketika tradisi oral bermigrasi ke tempat baru dan berlangsung dalam rentang waktu yang panjang.

Dalam perkembangannya, hanya sedikit saja mantra Jawa yang bersifat Tantrik. Dalam horizonnya yang luas, mantra Jawa mungkin saja menyerap bahasa Veda Sanskrit, tetapi jangan lupa, sebagian mantra juga menyerap unsur-unsur Arab dan Islam yang datang kemudian. Kenyataan ini merupakan sinyal untuk membenarkan dua hal sekaligus: pertama, nyanyian langit sekalipun ketika sudah menjelma ke dalam bahasa bumi, akan dengan mudah bersintesis dengan yang lokal. Kedua, para mistikus Jawa besar kemungkinan menangkap nyanyian-nyanyian langit dengan cara mereka sendiri.

Mantra, sekali lagi, telah menjadi fenomena lintas budaya. Betapapun secara filologi, istilah mantra itu sendiri merupakan bahasa Sanskrit, bukan berarti bahwa semua nyanyian langit secara eksklusif hanya diberikan kepada para mistikus di Asia Selatan. Seperti Pythagoras dari Samos yang mendaku telah mencecap nada-nada rahasia langit, banyak mistikus Jawa juga menegaskan pengalaman sama. Semua genap dengan klaim kemurnian masing-masing.

Kemurnian itu misalnya ditemukan dalam ragam jenis mantra Jawa yang khas. Sebagian mantra berbentuk kidung, lalu dinamai kidung mantra Jawa. Mantra jenis ini tunduk pada metrum macapat, seperti ditemukan dalam Kidung Rumekso Ing Wengi atau Mantrawedha (Arps, 1992). Mantra kekidungan demikian, bahkan tidak ditemukan kesamaannya dalam kebudayaan lain. Ada juga jenis mantra rapalan yang keluar dari pakem macapat.

Di antara banyaknya mantra yang dilestarikan dalam tradisi oral, dalam perkembangan mutakhir mantra-mantra Jawa sebagiannya juga terdokumetasikan dalam Kitab Primbon Betaljemur (KPB) yang berjumlah 10 jilid. Kidung Rumekso Ing Wengi sendiri termaktub dalam Kitab Primbon Atassadhur Adammakna (KPAA), berisi 12 mantra mencakup mantra keselamatan (rahayu), kasekten, dan katentreman (Wahyu Widodo, 2018). Ini hanyalah satu bagian saja dari Kitab Primbon Betaljemur.

Lalu, adakah hubungan Kitab Primbon tersebut dengan ajaran Vedic Sanskrit? Secara filologi, betapapun ditemukan satu dua kata yang mungkin merupakan modifikasi dari bahasa Sanskrit, akan tetapi tidak cukup argumentasi untuk menegaskan bahwa mantra-mantra dalam Kitab Primbon tersebut merupakan modifikasi dari ajaran Tantra. Sebaliknya, mantra-mantra itu justru menegaskan ke-Jawa-an yang inklusif karena terbuka dengan bahasa universal.

Misalnya, mantra untuk menjaga bayi dari godaan mahluk halus, seperti termaktub dalam Kitab Primbon Betaljemur Adammakna (KPBA). Salah satu mantra berbunyi, “Hong brahma mara siayama swa henu.” Kata ‘Hong’ pada mantra tersebut, besar kemungkinan merupakan modifikasi dari ॐ (Om, Aum) yang merupakan kata sakral dalam Veda, meski begitu tidak lantas bermakna bahwa mantra tersebut merupakan serapan total dari ajaran suci Veda.

Bandingkan dengan mantra Kulhu Durgabali yang termaktub dalam Kitab Primbon Ajimantawara (KPA), berbunyi, “Sato moro sato mati, jalma mara jalma mati, śetan mara śetan mati, buna mara buna mati, sedya ala mati kersaning Allah, lailahailallah Muhamad rasulullah.” Apakah dengan begitu mantra ini merupakan serapan total terhadap Islam atau al-Quran?

Penjelasan kebahasaan dengan mudah menjawab iya, tetapi hal ini juga bisa diargumentasikan sebaliknya, bahwa mantra Jawa bisa menyerap semua bahasa universal menjadi komposisi bunyi dan nada yang berdaya magis. Marilah menengok mantra-mantra di pesantren, kita segera akan menemukan bagaimana mantra-mantra disandingkan dengan sejumlah ayat al-Quran. Ayat-ayat disejajarkan dengan bahasa Jawa, bahkan bahasa yang vulgar dan tabu sekalipun. Yang paling populer di antara mantra pesantren itu adalah mahabbah, pelet. Dan sekali lagi, fenomena ini tidak dengan sendirinya mengerucut pada kesimpulan bahwa mantra-mantra di Jawa didikte oleh bahasa Arab atau al-Quran.

Toh, Robert W. Hefner (1985) yang pernah meneliti tradisi Tengger, tidak pernah melihat kemanjuran atau mujarabnya mantra ditentukan oleh ketepatan dalam merapal doa. Sebaliknya, daya magis mantra justru ditentukan oleh orang yang memimpin ritual di Tengger. Peran para mistikuslah yang menentukan tingkat kemanjuran mantra. Pandangan ini juga sangat meyakinkan diperkuat oleh Keeler (1987) yang melihat kedahsyatan mantra justru ditentukan oleh daya sugestinya.

Satu hal yang pasti, diserap dari bahasa universal maupun bersifat bahasa murni, mantra-mantra di Jawa sebagian besarnya tidak melulu diritualkan demi kepentingan langit. Sebagian besar mantra justru untuk menyelesaikan problem di bumi.

Hartarta (2010) pernah mengidentifikasi setidaknya ada 13 jenis mantra, yaitu: pengasihan, kanuragan, kasuksman, pertanian, penglarisan, panyuwunan, panulakan, pengobatan, trawangan, pengalarutan, sirep, pangracutan, dahyangan. Di antara semua mantra, mungkin hanya mantra kasuksman, penglarutan dan pangracutan saja yang berurusan dengan pengasahan diri pribadi dalam rangka menyingkap rahasia langit demi sesuatu yang murni dan sejati. Sisanya, 10 jenis mantra justru dalam rangka menjawab problem-problem duniawi.

Tradisi ini mirip dengan kecenderungan tradisi mistik-rasional yang berkembang di Yunani kuno sebelum periode Sophis. Setiap orientasi kerja mistik-rasional yang dilakukan oleh para filosof-mistikus selalu dalam rangka menyelesaikan problem sosial-kemanusiaan. Inilah yang disebut dengan bios theoretikos, ilmu berdimensi praksis. Para filosof-mistikus adalah orang-orang yang menyibak rahasia langit dalam rangka menyelesaikan persoalan-persoalan yang membelenggu manusia di bumi.

Melampaui semua itu, dalam kasus Jawa, semakin japa-mantra dikomat-kamitkan—terutama bila yang dikomat-kamitkan adalah nada-nada yang sudah tertulis, rasanya semakin paradoks saja dengan ideologi ngelmu yang diimani oleh hampir semua mistikus Jawa di dalam suatu konsep, “sastrajendra hayuningat pangruwating diyu”. Dalam konsep tersebut, sesuci-sucinya kitab suci adalah kitab teles, bahasa murni yang ada dalam diri manusia. Sesakral-sakralnya mantra adalah nada yang tetap dibiarkan menjadi nyanyian langit.

Itulah mengapa ngelmu dan mantra dalam tradisi Jawa, selalu tabu untuk dituliskan. Nyanyian langit itu begitu dijaga ketat kerahasiaannya. Ditransformasikan dalam tradisi oral dengan mahar yang sangat berat. Tidak pernah dibiarkan bocor apalagi dituliskan.

Dalam ideologi ngelmu seperti ini, ada benarnya kita mengingat risalah Gorgias—filosof-mistikus Yunani kuno yang kontroversial. Dalam suatu risalah ia menyatakan, “[1] tidak ada apapun; [2] seandainya ada, pasti tidak bisa diketahui; [3] seandainya bisa diketahui, pastilah tidak bisa dinyatakan; [4] bahkan, seandainya bisa dinyatakan, tidak mungkin bisa dimengerti.”

Bahkan seandainya nada-nada suci dari langit itu bisa dinyatakan, ia tidak pernah bisa dimengerti. Jangan-jangan, mantra yang sesungguhnya adalah keheningan total, Hung, suatu keadaan murni total yang tidak mungkin untuk dituturkan. Itulah mantra sejatinya. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme