Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Nabi-Nabi dan Sahabat dalam Kidung Rumeksa Ing Wengi

Qurrota A’yun [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung-KHI; Staf Magang IJIR []

Qurrota A’yun [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung-KHI; Staf Magang IJIR []

Siapa sangka ada nama-nama Nabi dan sahabat dalam mantra Jawa. Lazimnya, penyebutan nama mereka, seringkali hanya kita temui di dalam cerita-cerita nabi atau sirah nabawiy (perjalanan kenabian). Namun, bagaimana jika ternyata penyebutan nama mereka tersemat juga dalam sebuah kidung yang penggunaanya diperuntukkan melindungi diri dari ancaman kekuatan klenik, terutama pada malam hari. Lantas, makna apa yang tersirat dari penyebutan nama-nama tersebut.

Konon, banyak kidung diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Terutama dari sekian banyak kidung tersebut, salah satunya adalah kidung rumeksa ing wengi, yang berarti perlindungan pada malam hari. Kidung ini juga dikenal dengan sebutan Mantrawedha. Jika kidung ini dibaca (dilafalkan) dengan keyakinan tinggi, maka akan menciptakan dan menghasilkan kekuatan atau suatu daya transenden (Chodjim, 2013).

Sunan Kalijaga menyusun beberapa doa dalam bahasa Jawa, tujuannya agar masyarakat Jawa—yang saat itu menjadi sasaran dakwah beliau, tidak kesulitan dalam memahami kandungan doa yang dibacanya, dan agar siapapun yang melafalkannya (khusunya orang Jawa) memiliki kemantapan hati dalam setiap doa yang dihaturkannya. Doa-doa yang disusunnya itu berupa kidung atau mantra. Adapun penjelasan mantra tersebut sebagai berikut:

Ati Adam. Daya Nabi Adam dihadirkan sebagai hati karena dia adalah manusia pertama dalam kepercayaan Islam, yang  mana penciptaannya (ditafsiri)  berawal dari hadits qudsi yang berbunyi, “manusia adalah rasa-Ku, maka Aku adalah rasanya”. Sehingga oleh Sunan Kalijaga, daya daripada Nabi Adam dihadirkan sebagai hati. Karena itu, ia (hati) merupakan tempatnya rasa.

Utekku baginda Esis. Dalam perbendaharaan Islam Jawa, Nabi Sis merupakan anak Nabi Adam yang keenam (dari kelahiran siti Hawa), yang berasal dari kata “sita” yang berarti enam. Nabi Sis dikenal sebagai bapak dari para manusia bijaksana. Bahkan dalam kitab Paramayoga karya Ranggawarsita, para dewa merupakan anak cucu (keturunan) dari Nabi Sis. Maka tidak mengherankan jika daya Nabi Sis dihadirkan sebagai otak bagi para pembaca kidung ini, karena dengan adanya otak itulah manusia bisa berfikir (Ranggawarsita, 2001).

Pangucapku ya Musa. Adapun Nabi Musa yang dinyatakan sebagai daya pengucapan, tidak lain adalah karena beliaulah yang berjulukan kalimullah (Nabi yang dapat berkomunikasi dengan Allah secara langsung). Daya nabi Musa diyakini sebagai ucapan yang mengandung kekuatan yang luar biasa bagi pembaca kidung ini.

Napasku Nabi Ngisa linuwih. Daya Nabi Isa dihadirkan sebagai napas, dikarenakan beliau adalah satu-satunya nabi yang dilahirkan tanpa seorang ayah dan juga diberikan mukjizat dapat menghidupkan orang yang sudah mati. Diyakini bahwa kelahiran dan kekuatannya didukung oleh adanya roh kudus (kekuatan Jibril). Daya Nabi Isa dihadirkan sebagai kekuatan napas, yang tak lain berfungsi sebagai tali tubuh (Chodjim, 2002).

Nabi Yakup pamiyarsaningwang. Daya Nabi Yakub dihadirkan sebagai pendengaran, hal ini karena diyakini bahwa Nabi Yakub adalah sosok yang waskita, yang bisa mendengarkan sasmita dari Tuhan, yang membuatnya yakin bahwa Nabi Yusuf masih hidup meski sepuluh saudara (yang membencinya) mengatakan bahwa Yusuf telah meninggal dimakan binatang buas.

Dawud suwaraku mangke. Adapun daya Nabi Daud dihadirkan sebagai suara. Karena beliau dikenal akan suaranya yang merdu, yang bisa menimbulkan kekuatan magis bagi siapapun yang mendengarkannya.

Nabi Ibrahim nyawaku. Daya Nabi Ibrahim dihadirkan sebagai nyawa, karena masyarakat Jawa meyakini bahwa beliau memiliki nyawa rangkap, yang berasal dari kisah dalam al-Quran yang menjelaskan bahwa beliau tidak mati meski api besar berada di sekelilingnya, bahkan api itu menjadi dingin dengan izin Allah.

Nabi Sleman kesakten mami. Daya Nabi Sulaiman dihadirkan sebagai kesaktian, hal ini sesuai dengan kisah dalam al-Quran yang menceritakan betapa digdayanya beliau sehingga memiliki bala tentara sedemikian banyak, termasuk jin dan yang akhirnya bisa menaklukkan ratu Balqis, ratu penguasa jin.

Nabi Yusup rupeng wang. Sedangkan Nabi Yusuf dihadirkan dalam rupanya, di mana beliau dikenal sebagai nabi tertampan, bahkan Nabi Muhammad pun pernah bersabda, bahwa “Separuh dari ketampanan seluruh manusia di muka bumi adalah milik Nabi Yusuf, sedangkan separuhnya lagi dibagikan kepada seluruh manusia di muka bumi”. Dalam hal ini bukan berarti bahwa rupa pembaca kidung ini akan berubah, akan tetapi akan memancarkan cahaya dan aura. Roman mukanya yang berubah menjadi teduh akan timbul belas kasih bagi yang hendak menjahatinya.

Edris ing rambutku. Daya Nabi Idris dihadirkan pada rambut, yang berarti adalah pelindung kepala yang sekaligus merupakan mahkota wajah. Hal ini berkaitan dengan citra Nabi Idris yang dalam al-Quran dijelaskan bahwa beliau adalah orang yang jujur dan sabar, yang senantiasa berbuat kebenaran dan ucapannya berasal dari ketulusan hati.

Selanjutnya disebutkan keempat sahabat rasul yang dikenal dengan sebutan khulafaur rasyidin. Urutan ini memang tidak sama dengan urutan masa kekhalifahan, melainkan dari hubungan personal, meski masing-masing memiliki kedekatan yang berbeda halnya.

Baginda Ngali kuliting wang. Daya sahabat Ali yang dihadirkan sebagai kulit. Abu Bakar getih, daging Ngumar singgih, balung baginda Ngusman. Daya Abu Bakar sebagai darah, Umar sebagai daging, dan Utsman sebagai tulang. Keempatnya adalah pembangkit umat Islam setelah Rasulullah wafat. Maka daya keempat sahabat itu dihadirkan dalam kekuatan doa untuk keselamatan lahir dan batin bagi pembacanya.

Sumsumingsun Patimah linuwih. Daya Fatimah dihadirkan sebagai sum-sum, dimaksudkan untuk menghadirkan daya hidup yang mengalir di dalam tubuh manusia. Siti Aminah bayuning angga. Sedangkan daya ibunda Aminah sebagai kekuatan jasmani karena dari daya Aminahlah yang menyebabkan hadirnya Kanjeng Nabi. Kehadiran dayanya pada pembaca kidung untuk membangun kekuatan, menolak marabahaya dan menerima amanat yang luhur.

Ayup ing ususku mangke. Daya Nabi Ayub dihadirkan sebagai usus, karena beliau dikenal akan kesabaran dan ketabahannya dalam menghadapi ujian yang diberikan Allah. Nabi Nuh ing jejantung. Daya Nabi Nuh sebagai jantung, yang tak pernah putus asa dalam menunaikan tugasnya sebagai Nabi. Nabi Yunus ing otot mami. Daya Nabi Yunus dihadirkan sebagai otot, yang mampu menahan kekuatan negatif yang datang padanya.

Kemudian Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, dihadirkan sebagai daya mata.  Netraku ya Muhammad. Yang dapat melihat alam lahiriah maupun yang batiniah. Sehingga terwujudlah manusia yang iling lan waspada. Tajamnya sorot mata membuat seseorang mampu menyadari keadaan di sekelilingnya dan waspada akan kemungkinan negatif yang menimpa di kemudian hari. Pamuluku Rasul. Sedangkan mengenai rasul, dalam pandang Jawa adalah “sang perantara” antara yang Ilahi dan yang manusiawi. Daya rasul ini dihadirkan dalam air muka, paras, dan pancaran wajah.

Kidung ini mengandung beberapa nilai, yang salah satunya adalah etika berwasilah (perantara). Wasilah yang diajarkan oleh kidung ini adalah wasilah kepada para nabi dan sahabat, penyebutan daya dan nama para nabi beserta sahabat dianggap mampu memunculkan (mendatangkan) daya dan kekuatan bagi para perapalnya (Shidiq, 2008).

Dalam melafalkan mantra dalam kidung ini, harus terdapat kesadaran bahwa orang yang berdoa itu lemah, sehingga yang dimintai (dengan sarana doa) adalah pihak yang lebih kuat. Itulah mengapa, mantra yang dibaca orang ‘polos’ (yang terlihat bodoh) lebih cepat diterima permohonannya karena keyakinan dan kepasrahan mendalam. Sedangkan orang pandai (yang tampak berilmu) seringkali terbebani dengan banyak kesangsian karena ilmu yang diperoleh masih pada tahap perapalan dan bersifat rasional.

Pada posisi demikian, kidung seperti dijelaskan di atas cukup memberikan gambaran penting dalam dimensi kekuatan mistik kehidupan masyarakat Jawa. Jika kidung ini adalah benar karya Sunan Kalijaga (?), maka saya kira salah satu pondasi kekuatan mistik masyarakat Jawa adalah agama. Atau sebaliknya, kekuatan mistik di Jawa dijadikan pintu masuk untuk penyebaran agama. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme