Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Mantra Temu Manten

Ravika Alvin Puspitasari [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester IV; Staf Magang IJIR []

Ravika Alvin Puspitasari [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester IV; Staf Magang IJIR []

Pernikahan merupakan hal sakral bagi masyarakat Jawa. Upacara ini membutuhkan ritual tertentu atau prosesi penting yang biasanya dilakukan oleh orang yang dianggap memiliki akses terhdapa Yang Sakral, yaitu dukun manten.

Tidak setiap orang bisa menjadi dukun manten. Biasanya, untuk menjadi dukun manten, seseorang biasanya memiliki darah keturunan dukun manten meskipun tidak menampik bahwa orang bisa belajar secara mandiri. Ilmu dukun manten merupakan ilmu ma’rifat, setidaknya begitulah yang diyakini oleh pemiliknya. Di sisi lain, dukun manten harus melakukan tirakat dan menjauhi segala larangan agar ilmunya tetap manjur.

Dalam lingkungan masyarakat, dukun manten memiliki tujuan membangun kerukunan sesama manusia, melalui budaya, adat, maupun kepercayaan. Dalam upacara manten, dukun manten harus bisa mengucap ritual genduri manggulan, rapalan doa untuk pager-pager atau menangkal sesuatu yang tidak diinginkan ketika acara pernikahan sedang berlangsung.

Di samping itu, dukun juga harus bisa membuat kembar-mayang beserta tebusannya. Dukun manten harus bisa mbubak (membuka asal-usul seorang manusia atau sangkan paraning dumadi). Selain itu, dukun manten bisa melaksanakan upacara panggih manten.

Dalam mempelajari hal tersebut, dukun manten mempunyai prinsip sendiri-sendiri. Untuk saat ini kebanyakan  dukun manten tidak memenuhi syarat-syarat yang telak ditentukan. Jadi kebanyakan asal-asalan dan mengubah tatanan yang telah disepakati dalam adat jawa. Seperti mengubah tata cara berpakaian atau meminimalisir waktu agar lebih ringkas. Tetapi tidak menjadi masalah besar karena tidak mengubah total pakem-pakem adat Jawa itu sendiri.

Seorang dukun manten juga harus memelajari hari dino pitu pasaran limo nogosasi, nogodino, nogotahu, wuku, tahun. Hal ini bermanfaat untuk mencari hari baik bagi pernikahan. Jadi tidak bisa sembarangan menentukan waktu dan tanggal penyelenggaraan pernikahan. Karena, orang Jawa mempercayai bahwa salah perhitungan atau penentuan hari dapat menyebabkan balak.

Saya beruntung berkesempatan bertemu dengan seorang dukun manten. Menurutnya, adat yang digunakan dalam ritual temu manten yang ia praktikkan berasal dari adat istiadat Surakarta. Hal itu dapat kita lihat dari berbagai sesajen, ubo rampe maupun prosesi ritual temu manten.

Dukun manten mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk keperluan temu manten atau panggih. Terdapat beberapa sesaji sebagai syarat dalam temu manten. Sajen tersebut berisi kloso kriseik, jarik sido mukti, bokor berisi kembang setaman,  telur ayam Jawa asli, sajen komplit pisang rojo asli, gantal (daun sirih), kendi berisi air.

Setelah dukun manten menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam temu manten, kemudian terdapat acara panggih kedua mempelai. Dalam prosesinya, pertama, salaman: mempelai laki-laki dan perempuan dipertemukan untuk saling berjabat tangan. Kedua, dukun manten memanjatkan doa atau mantra untuk kedua mempelai sembari merangkul pundak mereka.

Dalam praktiknya, doa itu ada yang dirapal secara lahir dan diucapkan dalam batin dukun manten. Adapun doa yang dirapal dengan jelas, berbunyi “duh Gusti kulo nyuwun lare kekalih ingkang kulo dawupaken anggenipun bangun bale wismo, mbangun keluarga agung, tansah nampi kekahanan ingkang toto, titi, tentrem, guyub rukun, atut runtut pindo kaki nini lan mituno”.

Sedangkan doa yang dirapal secara batin, hanya diketahui dukun manten. Intinya, dukun berharap agar ketika menjalani hidup kedua mempelai jangan sampai putus di tengah jalan, menjalani rumah tangga bisa selamanya utuh. Doa yang dimunajadkan dalam batin hanya menjadi rahasia dukun manten. Biasanya ditambahkan pula doa berbahasa Arab, yang hanya digunakan sebagai formalitas saja.

Ketiga, dukun manten mengarahkan manten putri membasuh kaki manten laki-laki, masing-masing tiga kali. Keempat, mempelai perempuan berdiri jalan melingkari laki-laki, supaya mempelai laki-laki dalam rumah tangga tidak keluar dari naungan seorang istri. Kelima, mempelai laki-laki diperkenankan untuk menginjak telur ayam Jawa, agar kelak di kemudian hari secepat mungkin mendapatkan buah hati.

Keenam, ibu mempelai perempuan memberi air minum dari kendi kepada kedua mempelai, dengan tujuan agar keduanya saling menghargai dan menghormati orang tua. Setelah prosesi temu manten dilakukan, mempelai dibawa ke kursi pelaminan dengan dituntun orang tua mempelai, dilanjukan prosesi sungkeman dan kacar-kucur di kursi pelaminan.

Setelah itu dukun temu manten lepas dari mempelai dilanjutkan dengan dukun perias manten. Dalam prosesi tersebut, seharusnya ada prosesi siraman sebelum temu manten, tetapi saat ini sudah jarang dilakukan. Biasanya, hanya kalangan menengah ke atas yang masih melestarikan prosesi tersebut.

Beruntung, tradisi dukun manten masih dilestarikan sampai sekarang. Meskipun ada beberapa ritual yang hilang seperti siraman, tetapi tidak mengubah pakem yang ada. Hal yang terpenting yaitu melestarikan budaya dan tradisi turun temurun karena memuat nilai-nilai adiluhung bagi masyarakat Jawa. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme