Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Nguri-Nguri Tradisi Ruwahan di Jawa

Sakiyatun Nada [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Sakiyatun Nada [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Salah satu tradisi yang masih kerap dilakukan masyarakat Jawa untuk menyambut bulan puasa adalah tradisi ruwahan. Masyarakat Jawa memperingati tradisi ruwahan ini pada hari ke-10 menjelang bulan puasa. Ruwah (bulan ke-8 dalam kalender Jawa atau bisa disebut dengan bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah).

Istilah bulan Ruwah berasal dari kata arwah (Geertz, 1998). Pada bulan Ruwah ini menurut masyarakat Jawa diyakini sebagai bulan yang bagus untuk berelasi secara spiritual dengan leluhur. Oleh karena itu, pada bulan tersebut masyarakat Jawa rutin melaksanakan ritual-ritual untuk menyambut bulan puasa. Ritual tersebut seperti ritual bersih kubur, ritual kenduri, ritual ziarah kubur dan berakhir dengan ritual padusan/mandi.

Tradisi ruwahan merupakan ritual tahunan yang diadakan setiap bulan ruwah dalam penanggalan Jawa dan pada bulan Sya’ban dalam penanggalan Islam. Ritual ini biasanya dijalankan selama bulan ruwah selama sebulan itu. Tiap orang atau warga berbeda dalam melaksanakan ritual ini. Tergantung kesiapan dari masing-masing warga. Akan tetapi, terkadang ada juga yang bersamaan.

Tradisi ruwahan ini dijalankan untuk mengingat para leluhur atau keluarga yang sudah meninggal melalui do’a. Apalagi ada keyakinan bahwa, bulan Sya’ban ini merupakan hari raya bagi orang yang sudah meninggal. Jika orang yang masih hidup memiliki hari raya Idul Fitri maka bulan Sya’ban ini adalah hari raya bagi orang yang sudah meninggal. Jadi tidak hanya orang yang masih hidup saja yang memiliki hari raya idul fitri tapi juga orang yang sudah meninggal.

Masyarakat Jawa menjaga tradisi ruwahan tersebut berasal dari tradisi peninggalan nenek moyang, namun, dulu dalam tradisi tersebut yang diagungkan adalah roh-roh penunggu punden desa, roh nenek moyang dan para dewa. Kemudian, Walisanga mengakulturasi tradisi ruwahan tersebut dengan membedakan niatnya yang awalnya mengagungkan roh atau dewa menjadi niat semata-mata hanya beribadah karena Allah SWT dalam bentuk ukhuwah, shodaqoh, kenduri atau selametan  dan ziarah kubur (nyadran atau nyekar).

Tradisi ruwahan sendiri dalam hal ini adalah manifestasi dari akulturasi budaya Jawa dan  tradisi pendahulu yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Jawa sejak dulu. Selanjutnya, keberagamaan Islam Jawa saat ini masih menjadi model keberagamaan yang banyak dilakukan oleh masyarakat Jawa, termasuk di daerah pantai utara (Pantura). Meski, implementasi ajaran Islam murni banyak berkembang, namun tidak serta merta menghilangkan tradisi Islam Jawa yang sudah lama ada.

Tradisi ruwahan dalam hal ini memiliki titik keseimbangan antara tradisi Jawa yang bercorak Hindu-Budha dengan tradisi Islam. Salah satu ciri dari tradisi Jawa adalah kepercayaan akan adanya roh-roh yang telah tiada, dan mampu memberi manfaat dan mudharat bagi yang masih hidup. Lalu oleh Islam, tradisi ini dipoles sedemikian rupa dengan nuansa islami yang juga memberikan penghormatan kepada orang yang telah meninggal.

Secara pandangan sosial, ruwahan memberi makna komunalisme sosial yang terbentuk melalui interaksi sosial antar individu. Ruwahan merupakan ritual di dalam ruang publik (public sphere), di mana individu-individu dipertemukan dalam satu kepentingan, yakni tradisi dan agama. Slametan yang disertai pemberian berkat mengandung nilai sosial sedekah yang menjadi semangat filantropi dalam Islam. Saling memberi dan menerima akan sangat terasa dalam tradisi ruwahan ini, meskipun dalam kadar dan frekuensi yang berbeda.

Akhirnya, tradisi ruwahan  ini menjadi sebuah kearifan lokal (local wisdom), bagi masyarakat tertentu memiliki makna kultural-religius yang penting. Setelah berabad-abad lamanya tradisi ini berlangsung, kearifan ini telah menunjukkan substansi ajaran Islam dalam membangun toleransi dan humanisme. Prinsipnya adalah melestarikan tradisi lama yang baik, dan menyerap terhadap hal baru (modernitas) yang lebih baik.

Selain itu, tradisi ruwahan ini juga diwarnai dengan berbagai makanan lezat yang wajib hadir untuk melengkapi tradisi tersebut. Aneka jenis makanan yang kerap disajikan saat tradisi ruwahan antara lain adalah kolak, kue apem, dan ketan. Berbagai makanan tersebut kemudian dibagikan kepada tetangga sekitar. Selain lezat, berbagai makanan tersebut ternyata sarat akan makna.

Kolak, misalnya melambangkan hubungan dalam persaudaraan yang semakin dewasa dan penuh rezeki. Beberapa orang juga menyebutkan bahwa kolak menjadi simbol untuk mengingatkan kita terhadap Khaliq atau Sang Pencipta. Sedangkan kue apem yang bertekstur lengket menjadi simbol eratnya tali silaturahmi antar masyarakat. Lain lagi dengan kue apem yang memiliki makna sebagai ungkapan saling memaafkan jika terjadi kesalahan. Berbeda lagi dengan ketan yang berarti sebagai “kraketan” atau “ngraketke ikatan”, yang artinya merekatkan ikatan. Maka, ketan dapat menjadi simbol eratnya persaudaraan antarsesama manusia (Geertz, 1972).

Selain membagikan tiga makanan tersebut, beberapa orang biasanya juga melakukan sedekah ruwahan secara bersama-sama. Biasanya, setiap keluarga besar akan menyajikan nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya, dan dibagikan kepada warga yang datang. Tentunya, bersedekah dengan membagikan makanan tersebut merupakan bentuk amal kebajikan. Sedangkan membersihkan makam leluhur merupakan bentuk perhatian yang menjadi penanda bahwa kita tidak melupakan orang tua dan para leluhur.

Tradisi ruwahan ini diakhiri dengan acara padusan. Ritual ini biasanya dilaksanakan setelah Dhuhur dan Ashar. Fungsi tradisi ruwahan ini yaitu membersihkan diri secara lahir batin ketika mau memasuki bulan Ramadhan. Intinya, tradisi di bulan ruwah tersebut melambangkan kesucian lahir dan batin serta wujud suka cita dalam menyambut bulan puasa. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme