Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Aji Rajah Kalacakra, Ajian Sunan Kudus

Yudha Ahmada Ariffakh Ruddin [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Yudha Ahmada Ariffakh Ruddin [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

“Hong Ilahêng, Sang Hyang Kålå Kang Katon Sun Umadêp, Sun Umarép, Singkir Sumingkir, Kenå Sanjatå Prabu Kresna. Ya Maraja – Jamasa Ya, Ya Marani – Nirama Ya, Ya Silapa – Palasi Ya, Ya Dayudå – Dayudå Ya, Ya Siyaca – Cayasi Ya, Ya Simaha – Mahasi Ya”.

Aji Rajah Kalacakra merupakan mantra tiada tanding. Ilmu rajah Sunan Kudus ini memiliki kegunaan melindungi dan memusnahkan ilmu magis lain. Seseorang yang memiliki ilmu Rajah Kalacakra merupakan titisan para wali. Mereka merupakan orang-orang pilihan yang sudah melewati bermacam laku spiritual berat, sampai bisa mengamalkan Aji Rajah Kalacakra.

Mantra merupakan suatu ungkapan yang dasarnya memiliki unsur kata ekspresif, berirama, dan isinya diyakini dapat mendatangkan kekuatan gaib (Syam, 2009: 42). Mantra dibacakan oleh seorang pawang yang memiliki spiritualitas tinggi. Mantra juga merupakan kata-kata atau puisi. Masyarakat Jawa menggunakannya untuk berdoa kepada Tuhan atau berkomunikasi dengan mahluk gaib (Budiharsono, 2014: 157).

Masyarakat Jawa juga mengenal Rajah Kalacakra melalui cerita pewayangan Wali Sanga. Sunan Kudus tokoh pertama yang memiliki keris bernama Kalacakra, yang ia rajahkan ke kursi tempat pertemuan Sultan Hadiwijaya dan Pangeran Arya Penangsang. Kekuatan Rajah Kalacakra yaitu melunturkan kekuatan dan menghancurkan segala bentuk pertahanan gaib. Dalam cerita Arya Penangsang tersulut amarah dan gelap pikiran sehingga ia menduduki kursi Rajah Kalacakra, seketika kekuatannya luntur dan tewas di tangan Sultan Hadiwijaya.

Masyarakat Jawa memiliki beberapa versi penamaan mantra ini. Literasi masyarakat Jawa menyebutnya Rajah Kalacakra. Buddhisme yaitu Kalacakra Vajra pada masa kejayaan Arya Saka Muni Buddha digunakan untuk membabarkan darma kebenaran. Rajah Kalacakra Vajra pertama dituis dikulit hewan bergambar Bhatara Kala oleh Kanda Buwana. Tujuannya supaya setiap yang merapalkannya tidak akan diganggu oleh Bhatara Kala.

Menurut Koentjaraningrat dalam (Budiharso, 2014: 159) membenarkan bahwa agama Jawa merupakan perpaduan yang kompleks budaya-budaya tradisional (mistisisme, Hinduisme, Budhisme) serta Islamisme. Agama Islam memiliki perpaduan dengan suatu budaya tradisional yang bersifat mistisme yaitu mantra.

Aji Rajah Kalacakra oleh masyarakat Jawa sering digunakan sebagai bentuk perlindungan, dari malapetaka sampai gangguan mahluk gaib. Bentuk perlindungan ini diwujudkan berupa penulisan mantra di kain (mori) yang dipendam di tengah-tengah rumah. Ritual ini biasa dilakukan sesudah bentuk dasar rumah selesai dibuat. Peletakan rajah juga dibarengi slametan awal pembangunan rumah. Kegunaannya supaya rumah, orang yang tinggal dan lingkungan sekitarnya terlindungi dari malapetaka.

Hal ini sejalan dengan pendapat Pemberton dalam mengenai pengertian konkret. Mantra ini sering dibacakan dalam ritual atau seremonial masyarakat Jawa yang disebut slametan. Selain itu juga menuliskannya di kertas beberapa kali dan dimasukkan ke dalam botol berisi air. Menuliskan Rajah Kalacakra harus menghadap kiblat dan kondisi suci tempat maupun badan. Merajahkannya dengan menguyurkan air tersebut ke sekeliling rumah sambil merapal Aji Kalacakra dan diteruskan membaca ayat kursi.

Rajah Kalacakra dikenal ampuh sebagai tameng untuk melindungi diri. Masyarakat Jawa yang menguasai Aji Kalacakra bisa mengunakannya untuk memberikan perlindungan berupa pagar gaib kepada harta benda, rumah, orang lain dan menolak bala mahluk gaib. Biasanya rajah ini berupa sinar yang memancar dari dalam dada pemiliknya.

Sinar yang keluar berwarna kuning keemasan dengan sinar putih di dalamnya, bermakna kesucian jiwa. Sinar itu membentuk perisai yang melindungi bagian depan. Untuk melindungi sisi lain harus membuat rajah baru dan meniatkan untuk melindunginya.

Untuk menguasainya, tentu ada beberapa laku yang perlu ditempuh. Pertama bisa memulai untuk berpuasa dimulai Selasa Kliwon selama 40 hari, tujuannya meredam hawa nafsu keduniawian. Berlanjut dengan berpuasa mutih selama 7 hari, puasa ini bermaksud agar nafsu panas seperti, binatang, egois, birahi, dan amarah bisa benar-benar diredam. Selama menjalankan puasa tetap merapal Aji Kalacakra sambil mengheningkan diri menyatu dengan Sang Maha Agung.

Aji Kalacakra memerlukan guru spiritual. Guru spiritual selama prosesi pembelajaran terus mentrasfer energi ke muridnya dengan pengijazahan mengunakan lisan dan tulisan. Jelas ada keikutsertaan pihak ketiga berupa khodam baik atau buruk yang mencerminkan penerima energi. Mantra Aji Kalacakra bisa dasyat kekuatannya dengan sering diwiridkan. Merapalkan mantra Kalacakra harus berkombinasi dengan jiwa yang bersih dari sifat keduniawian. Tahap kedua jari telunjuk disentuhkan ke tanah sambil menuliskan rajah tersebut. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme