Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Mantra Tandur untuk Kesejahteraan Hidup

M Afifudin Khoirul Anwar [] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

M Afifudin Khoirul Anwar [] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Masyarakat Jawa telah megenal mantra sejak dulu, salah satunya mantra tandur. Mantra ini khususnya digunakan untuk membantu petani dalam bercocok tanam.

Adapun beberapa jenis mantra tandur yang digunakan dalam pertanian, yaitu mantra membakar kemenyan ketika membajak sawah, mantra menebar benih, dan yang terakhir mantra ketika padi terlihat hijau dan sudah berisi.

Dari beberapa jenis mantra di atas, mantra dibaca pada saat dilakukan membakar kemenyan di sawah. Bacaan mantra yang pertama adalah, “nyai danyang kaki danyang nyai bodo kaki bodo, anggenipun tanem dinten puniko, nyuwun pandungo wilujeng slamet saking kersane Gusti”.

Kalimat nyai danyang, kaki danyang, nyai bodo, kaki bodo merupakan pembuka mantra tandur karena pada kalimat tersebut merupakan salam yang dipercaya oleh masyarakat pelaku sebagai dzat yang dapat dimintai sesuatu.

Pada kalimat kedua anggenipun tanem dinten meniko nyuwun pandongo wilujeng slamet  merupakan isi mantra. Sedangkan pada kalimat yang terakhir slamet saking kersane gusti Allah merupakan penutup kata mantra karena pada kutipan tersebut menyatakan permintaan do’a selamat yang berasal dari kehendak Allah.

Mantra yang kedua “suket teki podo mati tandure iji royo royo koyo mendung, iki bageanmu mbok sir muliho lowe tak sediani wedak tak sediani ngilon tak sediani suri brai-brio ndok omah ndok gedung roro denok. Pada kalimat pertama suket teki podo mati tandure ijo  royo-royo koyok mendung sebagai kalimat pembuka yang memiliki fungsi sebagai menundukan tumbuhan . Pemantra memberikan pemberitahuan kepada rumput teki agar mati atau tidak tumbuh dan yang tumbuh hanyalah tanaman (padi) yang hijau dan subur.

Pada kalimat kedua  iki bageanmu mbok sri muliho kowe tak sediani wedak tak sediani ngilon tak sediani suri brai-braio ndok omah ndok gedung roro denok  merupakan isi dari mantra tandur yang memiliki fungsi menundukkan roh halus. Roh halus tersebut ditundukkan supaya tidak mengganggu kegiatan yang akan dilakukan oleh petani.

Adapun dua buah mantra di atas ditunjukan untuk penguasa jagad dan roh leluhur nenek moyang. Yang pertama mantra untuk dipersembahkan kepada yang menguasai alam jagad raya ini dan yang kedua mantra yang dipersembahkan untuk roh-roh halus, agar tidak merusak tanaman para petani . Kedua mantra tersebut harus dibaca saat ritual sedang berlangsung yang di pimpin oleh candoli.

Selain mantra tandur digunakan dalam bidang pertanian, mantra tandur juga memiliki makna kesejahteraan hidup. Makna yang terkandung dalam mantra tandur memiliki harapan manusia memperoleh kekuatan hidup. Kesejahteraan yang dimaksud dalam hal ini memiliki harta maupun materi yang mencukupi segala kehidupanya dan ketenangan batin yang dirasakan. Kepemilikah harta ataupun kekayaan berkaitan dengan kepuasan lahir. Kekayaan secara lahir tidak utuh sebagai kekayaan bila tidak diiringi oleh kepuasan batin. Kepuasan batin tersebut diperoleh dari keberkahan atas kekayaan yang dimiliki.

Kesejahteraan hidup dapat kita peroleh dari keadaan alam yang subur. Kesuburan yang diolah dengan baik akan menghasilkan kualitas tanaman yang baik. Dari sinilah kualitas tanaman yang baik akan mendukung keadaan hidup yang sejahtera, yaitu keadaan manusia yang memiliki harta dan benda. Kesuburan tanaman yang ada tidak hanya dapat digunakan untuk kebutuhan hidup pribadi saja, namun hasil pertanian pun menjadi barang niaga yang tentunya memberikan keuntungan yang luar biasa.

Untuk mewujudkan harapan tersebut, manusia manusia melakukan berbagai cara untuk meraihnya. Salah satunya berusaha dengan lahir dan batin. Upaya secara lahir ialah dengan cara mengolah alam, sedangkan upaya secara batin dilakukan dengan cara berdoa kepada Tuhan. Doa yang dipanjatkan kepada Tuhan merupakan doa yang penuh kesungguhan dan penuh rasa penyerahan diri. Seperti bacaan yang terdapat dalam mantra tandur bahwasanya manusia berusaha mencoba dan hasilnya  adalah kehendak Tuhan.

Selain upaya yang berupa kegiatan fisik, upaya untuk memperoleh kesejahteraan juga dilakukan dengan berdo’a. sama halnya dengan mantra yang merupakan suatu doa kepada Tuhan untuk segala hal yang bisa memberikan kesejahteraan kepadanya. Hal tersebut membawa ketenteraman jiwa dan kepuasan batin yang dapat diperoleh salah satunya dengan terpenuhinya kebutuhan lahir. Dengan demikian ketika kebutuhan lahir telah terpenuhi, jiwa akan terasa lebih tenang dan rasa syukur kepada Tuhan. Hal ini juga menjadi faktor yang bisa meningkatkan penghambaan atau ibadah seseorang kepada Tuhan.

Pembacaan mantra tandur biasanya dilakukan oleh orang yang dikenal dengan istilah candoli yang bermakna seseorang yang bertugas untuk menjaga hasil panen dan bahan-bahan lainya di acara hajatan. Namun masyarakat jawa memiliki pandangan sendiri tentangcCandoli, dalam masyarakat Jawa candoli memiliki arti sebagai orang yang memiliki keahlian dalam hal yang berhubungan dengan alam metafisika, bisa disebut sebagai orang pintar.

Candoli akan memberitahukan bahwa akan ada sebuah proses menanam padi dan candoli meminta do’a agar diberikan keselamatan. Roh halus ditundukkan dengan disediakan sesaji yang lengkap dan juga disediakan bedak, sisir, dan kaca. Pemantra menyuruh roh halus yang sedang ada di sawah untuk pulang.

Jadi mantra tandur ini masih banyak dilestarikan oleh masyarakat Jawa sampai saat ini karena, mantra tandur memiliki fungsi sebagai ritual sebelum memulai proses menanam. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme