Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Mantra Sangkal Putung

Ahmad Fahmi Amirudin [] Tasawuf & Psikoterapi Semester II; Staf Magang IJIR []

Ahmad Fahmi Amirudin [] Tasawuf & Psikoterapi Semester II; Staf Magang IJIR []

Masyarakat Jawa sejak dulu sudah mengenal berbagai macam pengobatan tradisional. Salah satu adalah pengobatan untuk menyembuhkan tulang yang patah. Profesi ini biasa dikenal sebagai dukun sangkal putung.

Metode pengobatan sangkal putung ini tanpa menggunakan operasi. Penggunaan operasi biasanya ditempuh dengan menanamkan platina ke tulang yang patah. Pengobatan seperti ini tentu saja membutuhkan biaya yang besar.

Berbeda dengan metode yang digunakan oleh tukang sangkal putung. Pengobatan tradisional ini juga tidak menggunakan obat bius. Karena itu pasien akan merasakan sakit sepanjang proses pengobatan. Soal biaya, dukun sangkal putung tidak berani untuk mematok harga.

Masyarakat lebih banyak memilih sangkal putung karena memberikan hasil yang lebih cepat, dan pasien yang berobat ke sangkal putung akan mendapat perawatan rutin yaitu pemijatan yang dilakukan tiap hari untuk membetulkan sambungan tulang dan memperlancar aliran darah. Proses pemijatan akan dilakukan berkala bila tingkat keparahan cidera tinggi. Pasien yang diterapi diharuskan istirahat total dan tidak boleh menggerakkan bagian tubuh yang cidera selama beberapa hari.

Metode utama pengobatan ini salah satunya mengandalkan mantra saat proses penyembuhannya. Salah satu mantra misalnya:

Bismillaahirrohmaanirroohim; Kun fayakun tuntum balung podo balung; Tuntum otot podo otot; Tuntum daging podo daging; Tuntum bayu podo bayu; Tuntum sum-sum podo sum-sum; Tum tinuntum ketiban iduku putih; Sambung kersane Allah; Panas mawah mawah; Ketiban iduku putih adem asrep saking kersane Allah; Laailahaillallaah muhammad rosulullah; Cipto mati, roso mati, roso ilang (3x tarik nafas); Lebur kang ajur laailaha illallah; Sing sopo ganggu jahil karo aku; hiyo iku satrune Allah( hu allah 3x tarik nafas).

Doa ini dibaca seraya dukun sangkal putung meletakkan tangan di tulang yang patah. Setelah itu juga meluruskan tulang secara pelan-pelan sambil membaca mantra atau doa tersebut dengan kesungguhan memohon pada-Nya agar si pasien diberi kesembuhan. Selanjutnya dipasang penahan tulang dan ikat bagian-bagian tulang yang patah.

Selain mantra atau doa yang dibaca sebelum mengobati pasiennya, ada juga amalan-amalan yang dilakukan oleh juru sembuh yaitu seperti puasa 15 hari dimulai pada hari Kamis kliwon, lalu membaca doa-mantra “fain tawallau faqul khasbiyallahu laa ilaha illa huwa alaihi tawakaltu wa huwa rabbul arsyil adhziim”  setiap usai sholat fardhu. Usai puasa dukun sangkal putung juga harus memberi makan 15 anak yatim di sekitar rumah.

Tidak seperti ilmu biasa, sangkal putung tidak dapat dipelajari dengan mudah, dari berbagai juru sembuh sangkal rata-rata mereka mendapatkan ilmu ini lewat jalan turunan, maksudnya adalah ilmu yang diturunkan dari generasi ke generasi. Mulai dari buyut, kakek, orang tua kemudian diri sendiri. Biasanya ilmu turunan ini juga hanya dikuasai oleh satu orang keturunan saja. Uniknya, beberapa orang juru sembuh mengaku mendapatkan ilmu turunan ini lewat jalan mimpi.

Jalan mendapatkan ilmu sangkal putung diyakini merupakan ilmu yang menitis dari generasi pendahulu. Melalui mimpi pesan-pesan dari para leluhur tergambar jelas di dalam batin.

Meskipun ilmu sangkal putung tidak dapat dipelajari dengan mudah tapi bukan berarti tidak bisa dipelajari sama sekali. Untuk mempelajari ilmu sangkal putung ini ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama harus ada gurunya dan kedua mau untuk melakukan syarat-syarat tertentu, seperti membaca berbagai mantra-mantra, puasa mutih selama 40 hari dan di hari terakhir tidak makan, tidak minum dan tidak tidur selama sehari semalam, bertawasul kepada orang-orang atau guru-guru, dan selanjutnya ditiupkan kepada air sebanyak 3 kali dan diminum sisanya dibalurkan ke tubuh.

Pewarisan sangkal putung berlangsung turun-temurun dari keluarga, namun sesuai dengan perkembangan zaman pewarisan sangkal putung dapat diwariskan kepada individu selain anggota keluarga asalkan terjadi proses pembelajaran, pengorganisasian belajar, dan tirakat.

Tujuan dari pewarisan kearifan lokal seperti sangkal putung adalah untuk menjaga eksistensi dari kearifan lokal yang menjadi roh dan jati diri sebuah masyarakat. Bilamana kearifan lokal tidak diwariskan kepada generasi penerus maka dapat dimungkinkan kearifan lokal tersebut akan hilang. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme