Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Mantra Lelungan Orang Jawa

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Keselamatan adalah hal utama dalam hidup manusia, begitu juga penghayatan orang Jawa. Ketika bepergian, orang Jawa mengupayakan keselamatan fisik dan yang tidak fisik. Melalui doa yang dirapal atau mantra, orang Jawa bermaksud agar segala halang rintang dalam perjalanan disingkirkan Tuhan. Hal ini menegaskan bahwa, masyarakat Jawa mempercayai adanya pelbagai kemungkinan balak, saat mereka keluar rumah.

Gangguan atau ancaman itu bisa berasal dari alam seperti, binatang buas, orang, ataupun lainnya. Selain itu, gangguan itu juga bisa muncul dari dunia gaib seperti, jin, lelembut, demit dan makhluk halus lainnya. Melihat jenis-asal gangguan itu, orang Jawa memiliki mantra yang berbeda.

Saya mendapat salah satu mantra, yang diyakini masyarakat manjur  untuk melindungi diri dari alam, binatang buas. Mantra itu berbunyi “culingkam culingkem tunggak papak kala mingkem, kem kebingkem saking kersane Allah. Wong kepingin mlaku utowo mblayu, slamet kala yo slamet”.

Pengamal mantra-doa ini memaksudkannya agar ia selamat dari berbagai kala (binatang buas, seperti ular, kala jengking dst). Terutama bila seseorang hidup di daerah yang masih berupa hutan, amalan ini menjadi penting untuk berjaga-jaga dari binatang liar. Narasumber saya sehari-harinya bermata pencaharian petani dan pembabat tebu sehingga tak jarang ia menjumpai binatang buas seperti ular berbisa.

Pengamal mantra, secara spesifik meniatkan penggalan mantra “kala mingkem” dengan maksud agar ia tidak diganggu ular. Pelaku meyakini bahwa ketika ia merapal doa tersebut, ular tidak akan menggigitnya atau bahkan ular itu akan kabur dengan sendirinya. Sedangkan dalam penggalan mantra “tunggak papak”, pelakunya memaksudkan agar ketika ia berjalan atau terburu-buru ketika berlari, tidakatersandung apapun, entah batu, lancipan kayu “tunggak” dsb. Khasiat seperti inilah, menjadi penyebab  mantra itu dimiliki oleh banyak orang.

Informan menceritakan bahwa amalan bepergian ini populer di tahun 90-an. Ketika itu, hutan masih banyak. Masyarakat desa tidak bisa secara mudah menebang pohon karena dilindungi negara.  Padahal, orang-orang membutuhkan kayu itu untuk keperluan sehari-hari. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian lainnya mencuri kayu itu untuk penghidupan.

Biasanya, pencuri kayu berangkat di waktu malam. Meski demikian, nyatanya mandor penjaga hutan selalu menjaga kawasannya itu sehingga, mau tidak mau agar selamat dari kepungan mandor, orang harus tunggang-langgang ketika membawa kayu curian. Umumnya, Pengamal mantra merapal mantra itu sebelum atau bahkan selama mereka dikejar mandor.

Karena suasana gelap  tanpa satupun alat penerang, mereka meyakini bahwa ketika mereka sudah merapal mantra itu, kayu lancip, duri tak akan melukainya ketika mereka menginjaknya. Pelakunya merasa benda-benda penghalang itu seakan-akan lunak ketika terinjak. Binatang buas semacam ular, jika terinjak tidak akan menggigit bahkan dengan sendirinya “kala-kala” akan menyingkir ketika pengamal melintasi jalan yang dilalui.

Meskipun mantra tersebut memiliki manfaat yang besar, rupanya mantra itu hanya bisa berfungsi jika diturunkan dari seorang spiritualis. Guru spiritual berfungsi sebagai perantara atau pembuka gerbang akses calon pengamal dengan sumber kekuatan Tertinggi. Bukan itu saja, dibutuhkan sebuah laku agar mantra itu mujarab. Tirakat berupa puasa. Informan menyebut ada 3 jenis puasa yang harus dilakukan seorang pengamal. Seseorang harus menjalani puasa senin dan kamis selama 7 kali, kemudian puasa mutih dan disusul puasa pati geni selama 3 hari 3 malam. Begitulah doa yang dirapal orang Jawa untuk menjauhkannya dari malapetaka yang berasal dari alam.

Adapun mantra untuk menangkal diri dari gangguan ghaib, orang Jawa memiliki mantra yang berbeda. Salah satu mantranya berbunyi, “Allahhuma, Genderuwa, olehne Dhanyang ngela dasar ing bumi, bumi tuwa buyute Dhanyang desa…..; Dhanyang desa…. ingsun ewangana muji; apa sun puji?…… Lupute lara, lupute panca bala, lupute bilahi kabeh; ingsun urip, warasna sebab berkate kiyai Dhanyang” (R.P Suyono, 2009: 164). Doa ini dirapal sebanyak tiga kali oleh orang yang hendak bepergian.

Kedua doa yang saya paparkan di atas, sama-sama memohon perlindungan kepada Dzat Adi Kodrati. Pada mantra pertama, hal ini secara jelas tersurat dari kalimat “saking kersane Allah” hal ini mengisyaratkan bahwa dalam keadaan apapun, manusia harus pasrah kepada Tuhan atas segala takdir dalam hidupnya. Begitupun dalam mantra kedua, Tuhan sebagai dzat penolong, tersurat dengan lafal “Allahhuma”.

Begitulah cara orang Jawa dalam menghayati hidup dan  mengupayakan keselamatannya. Kedua mantra di atas hanyalah sedikit dari sekian banyaknya mantra yang difungsikan untuk bepergian. Para pengaji Islam Jawa, masih perlu menggali lebih banyak mantra-doa yang mungkin jenisnya beragam dan tak terhitung jumlahnya. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme