Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Bhātara Sang Amurwabhumī

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Kadhiri gonjang-ganjing. Awan tebal berarak menyelimuti langitnya. Seisi kota raja dicekam ketakutan. Ini bukan ulah Bhātara Kala, melainkan prahara yang lahir akibat skandal kekuasaan.

Śrī Kṛtajaya, Raja yang mendaku sebagai trah terakhir Erlangga itu, sedang kerasukan Dewa Kāli. Demi mengabadikan kekuasaannya, ia membabi buta menciptakan rasa takut kepada semua rakyatnya. Para rṣi, pendeta Śiwa dan Budhha, serta para bhujangga, dipaksa untuk melegitimasi kepongahan itu.

Prahara memuncak pada pertengahan 1144 Saka [1222 M]. Para pemuka agama dan cendekia yang selama ini menjadi simbol kemegahan Daha, terpaksa harus eksodus. Nyawa mereka tidak aman bila tetap tinggal di sana. Ulah Śrī Kṛtajaya sudah di luar batas. Ia mentahbiskan dirinya sebanding dengan Bhātara, seraya menuntut para pemuja Siwa dan Buddha untuk menyembah dirinya.

Para rṣi dan pendeta marah. Mereka yang mengenal ilmu rahasia tahu persis bahwa, menyembah Raja adalah persekutuan. Dan apalagi, maklumat itu tidak menggambarkan tabiat raja-raja Jawa. Inilah penghinaan terhadap Kahyangan yang sesungguhnya. Alam pasti murka karenanya.

Kṛtajaya tidak habis akal. Ia yang telah lama mengamal tantra dan menggenggam kekuasaan, tahu bagaimana cara mengintimidasi para rṣi, pendeta dan bhujangga. Sebagian yang benar-benar membahayakan, dibunuh seketika. Banyak di antara mereka yang memilih berdamai. Tidak sedikit pula yang mencari suaka ke Kutaraja, Tumapel. Konon, di sana telah lahir Raja muda yang menjanjikan perlindungan.

Raja muda itu misterius. Asal-usulnya banyak dirahasiakan. Kabar tersiar hanya menjelaskan bahwa ia adalah titisan Trimutri. Brahma adalah bapaknya, Śiwa mengangkatnya sebagai putra, dan kekuatan Wisnu mengalir dalam dirinya. Kabar itu hanyalah isyarat untuk menegaskan laku hidupnya yang mengabdi total pada darma. Dan, ia begitu dicintai oleh rakyatnya.

***

Dialah Śrī Ranggah Rājasa. Pada Abdhidēśēndu, 1104 Saka atau 1182 M, ia sukses membangun kekuasaan di wilayah timur gunung Kawi, lalu ia namai Kutaraja. Di lain waktu, ia juga dikenal sebagai Śrī Girindra, untuk menyerap semua legitimasi dan kekuatan raja-raja Shailendra di pundaknya.

Dia mengenal hampir seluruh kawasan Daha dan Janggala dalam sebuah pengembaraan yang panjang. Dia keluar masuk di hampir semua petapaan. Berteman dengan hampir semua kehidupan akar rumput. Di lingkungan yang luas itu, ia dikenal sebagai Ken Angrok.

Bukan tidak mungkin, ia adalah pangeran terakhir Janggala yang disembunyikan karena gejolak kekuasaan yang tidak pernah reda di seluruh wilayah Daha, terutama sesudah kepergian Śrī Jayabhaya. Dengan begitu, ia juga pewaris sah tahta Janggala—mungkin juga Daha, karena darahnya tersambung langsung pada Śrī Lokeswara Erlangga.

Para rṣi dan pendeta yang mengerti rahasia langit, tahu bahwa kekuasan yang utuh di Jawa sedang disiapkan untuknya. Seluruh kekuatan Dewata masuk dalam dirinya, hingga taraf tidak bisa ia kendalikan.

Diam-diam Kṛtajaya sudah tahu rahasia itu. Ia panik tetapi justru mengintimidasi seluruh rakyat, dengan mengeruk semua legitimasi agama dan spiritualitas di luar haknya. Raja kalut itu tidak lagi bisa membedakan, mana kekuasaan dan mana agama. Ia tiada henti memaksa semua penyembah Śiwa dan Buddha, bersujud di kakinya.

Setiap hari semakin banyak orang yang mencari suaka ke Kutaraja. Hampir semua rṣi, pendeta, dan bujangga akhirnya menemukan rumah baru di Tumapel. Sampai pada akhirnya, mereka semua memberanikan diri untuk meminta Ranggah Rājasa mengakhiri skandal kekuasaan-agama yang memalukan itu.

Kosmologi kekuasaan di Jawa yang diyakini berabad-abad lamanya sudah terang di mata para rṣi dan pendeta. Seorang Raja tidak bisa memaksa orang melakukan persekutuan. Raja sudah merupakan titisan para Dewa, hanya bila menyelenggarakan kehidupan yang bahagia dan sentosa menyerupai sentosa Kahyangan.

Para pemuka agama dan cendekia itu kasyaf, tahu bahwa kualitas itu hanya ditemukan pada diri Ranggah Rājasa. Karenanya, mereka sekaligus menahbiskan gelar Bhātara Sang Amurwabhumī kepadanya. Ialah raja yang akan mewujudkan keselamatan bumi.

***

Eksodus ke Kutaraja makin tak terbendung jumlahnya. Kṛtajaya naik pitam. Ia menggebrak-gebrak meja, menghancurkan apa saja perabotan Kedhaton, dan memerintahkan Mahisa Bungalan, Patih yang adiknya sendiri, untuk menyerang Kutaraja.

Ranggah Rājasa sejak awal tidak memulai peperangan. Tetapi mendengar kabar serangan itu, ia tidak mau menunggu sampai pasukan Mahisa Bungalan masuk ke wilayahnya. Tidak perlu waktu lama untuk mengumpulkan seluruh kekuatan Kutaraja. Dukungan para rṣi, pendeta dan bhujangga menyertainya. Masyarakat hingga wilayah Daha diam-diam juga ingin berlindung kepadanya.

Pertempuran itu akhirnya meledak di Gantēr. Pasukan Kadhiri di lapisan depan, dipimpin Mahisa Bungalan. Pasukan cadangan langsung dikendalikan oleh Kṛtajaya sendiri. Di tengah kecamuk itu, Kṛtajaya membakar semangat pasukannya, bahwa ia tidak mungkin terbunuh kecuali oleh Bhātara Guru.

Dalam tempo yang cepat saja, seluruh pasukan Mahisa Bungalan bisa ditundukan oleh Ranggah Rājasa. Raja yang memahami darmanya itu, hanya tersenyum mendengar sesumbar Kṛtajaya. Baginya, itu hanyalah ekpresi kepanikan. Di tengah para rṣi dan pendeta yang menjadi saisnya, Ranggah Rājasa memohon diizinkan untuk menahbiskan dirinya sebagai Bhātara Guru. Hanya legitimasi itulah yang dibutuhkan untuk menghukum kepongahan Kṛtajaya.

Pasukan Kutaraja terus merangsek, hingga masuk ke jantung Daha. Mahisa Bungalan sudah tewas lebih dulu. Sisa pasukan Kadhiri hanya bisa mundur bersama rajanya, sampai pada akhirnya, seluruh Kedhaton jatuh ke tangah Bhātara Guru.

Ada pengampunan bagi yang menyerah. Sementara, Kṛtajaya bersama dengan istri-istrinya, diizinkan untuk meninggalkan Daha, sampai kekuasaan Daha dan Janggala disatukan kembali seperti zaman Śrī Jayabhaya.

Sejak masa itu, Jawa kembali bersatu. Nāgarakṛtāgama 40-4 mengisahkan, “tunggal tang janggala mwang kadhiri samasamāngēka nāthāti ṡantā” [bersatu Janggala dan Kadiri di bawah pimpinan seorang raja yang bijaksana]. Panji-panji penghormatan terhadap agama ditegakan. Kehidupan sosial dijamin di bawah pengakuan atas ragam berbedaan.

Ranggah Rājasa sendiri menjadi Raja pertama di tanah Jawa yang ditahbiskan sebagai Śiwa-Buddha. Di dalam dirinya mengalir kesadaran atas ragam perbedaan yang bisa diolah untuk mewujudkan sentosa bumi. Dialah Bhātara Sang Amurwabhumī. []

 

Tulungagung, 18 April 2019

Bukan sejarah mainstream [] Ditulis untuk mengisahkan, meminjam narasi Denny JA, “indahnya langit dan syahdunya remaja yang sedang kasmaran.” Selamat kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah dengan sangat cerdas mementahkan politik identitas.

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme