Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Tuah Susuk Kecantikan

Venella Yayank Hera Anggia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Venella Yayank Hera Anggia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Susuk di Jawa dipercaya mampu memancarkan aura kecantikan. Tidak hanya itu, susuk dapat membuat penggunanya menjadi lebih menarik dari sebelumnya secara instan. Orang yang melihat pengguna susuk akan terpesona, menjadi tertarik, tunduk dan takluk.

Walaupun begitu, susuk juga memiliki banyak kelemahan dan pantangan. Pengguna susuk diharuskan untuk menghindari setiap pantangan agar susuk tidak kehilangan energinya. Namun, kelemahan dari susuk seringkali terabaikan oleh pengguna.

Seringnya, jimat untuk susuk merupakan perhiasan pilihan yang memiliki nilai tinggi dalam masyarakat. Susuk tersebut kebanyakan terbuat dari emas, perak, intan atau bahkan serangga samber lilin. Perhiasan itu kemudian diisi dengan mantra-mantra pemancar aura oleh dukun susuk.

Susuk dari perhiasan itu dulunya hanya digunakan oleh orang-orang tertentu, misalnya penari atau pelakon. Hal tersebut dipercaya bahwa susuk dari perhiasan akan memberikan pesona yang lebih kuat. Tapi saat ini, susuk bisa digunakan oleh siapapun saja.

Susuk terbagi menjadi tiga jenis, yaitu susuk tanam, susuk cair, dan susuk kapsul. Susuk tanam adalah susuk tradisional yang dulu sering dipakai. Penggunaan susuk ini dengan cara ditanam. Susuk tanam biasanya berupa emas, perak atau intan yang berbentuk jarum kecil. Seringnya, susuk ini dipasang pada area wajah, tangan, kaki, atau di samping organ vital.

Selain susuk tanam, terdapat juga susuk cair. Susuk ini berupa air khusus yang telah dibacakan mantra oleh dukun. Air inilah yang nantinya akan dikonsumsi oleh pengguna untuk memancarkan pesonanya. Pengguna yang memilih susuk cair percaya bahwa penggunaan susuk jenis ini akan lebih mudah menyerap pada tubuh.

Selanjutnya, bentuk susuk diubah menjadi bentuk herbal untuk mengurangi dampak negatifnya pada tubuh pengguna. Susuk herbal menggunakan serangga samber lilin yang telah diambil sarinya dan dijadikan kapsul. Penggunaan serangga samber lilin diyakini bahwa cahaya mengkilat dari serangga samber lilin memiliki daya tarik terpancar yang alami.

Pengguna susuk terkadang tidak hanya memasang susuk pada satu tempat di tubuhnya. Mereka akan memasang susuk pada beberapa tempat, karena efek susuk sendiri langsung memberikan kepuasan pada pemasang. Oleh karena itu, setiap pengguna pasti tidak akan puas jika memasang susuk hanya pada satu tempat saja.

Sebelum dukun memasang susuk, pemasang akan disarankan untuk berpuasa terlebih dahulu selama tujuh hari. Puasa ini bertujuan untuk membersihkan diri dan memperlancar pemasangan susuk. Setelah pemasangan selesai berpuasa, dukun akan membacakan mantra pemancar aura pada susuk. Mantra tersebut hanya diketahui oleh dukun dan akan berbeda-beda mantra pada setiap proses pemasangannya.

Pemasangan susuk pun tidak lepas dari ilmu hitung Jawa. Hitungan tersebut akan berpengaruh pada aura pemasangan susuk. Pemasang susuk akan disarankan untuk memasang pada bulan Rajab. Pemilihan pada bulan Rajab diyakini bahwa pemasangan susuk pada bulan ini dapat menambah kekuatan susuk.

Untuk memasang susuk biasanya dukun membutuhkan bahan lain yang berupa kembang telon. Kembang telon yang sering digunakan oleh dukun yaitu, sekar kenanga, sekar mawar, dan sekar kanthil. Pemilihan kembang inipun tidak sembarangan, karena setiap kembang memiliki arti-arti tersendiri.

Pertama sekar kenanga, bunga kenanga dipercaya memiliki arti bahwa segala keinginan pemasang diharapkan bisa terkabul. Yang kedua sekar mawar atau bunga mawar digunakan untuk mengeluarkan semua aura yang dimiliki oleh pemasang. Kemudian terakhir bunga paling terpenting terdapat dalam sekar kanthil. Bunga tersebut digunakan untuk pemikat dan membuat jatuh cinta orang yang melihatnya.

Ketika memasang susuk, dukun akan memasukkan susuk ke dalam sekar kantil. Selain itu, dukun juga akan menggunakan minyak susuk. Hal tersebut agar dalam pemasangannya lebih mudah dan tidak terasa sakit pada kulit. Setelah selesai pemasangan susuk, pengguna pasti akan diberi pantangan-pantangan tertentu oleh dukun. Pantangan ini dimaksudkan agar susuk tidak kehilangan energinya.

Pantangan-pantangan dalam susuk paling banyak berupa makanan. Paling umum pantangannya yaitu, pisang dan daun kelor. Pisang yang menjadi pantangan pun tidak semuanya tetapi hanya ada dua jenis yaitu pisang mas dan pisang kepok. Dua jenis pisang ini diyakini bahwa dapat melunturkan energi dalam susuk.

Selain pisang, daun kelor juga harus dihindari bagi pengguna susuk. Dalam dunia spiritual, daun kelor dapat menetralisir ilmu-ilmu gaib. Walaupun begitu, setiap dukun susuk memiliki pandangan berbeda-beda dalam hal ini. Pantangan tersebut pada dukun susuk tertentu hanya berlaku selama tiga hari sesudah pemasangan susuk.

Terlepas dari pantangan-pantangannya, susuk juga memiliki kelemahan. Kelemahan tersebut biasanya akan mulai terlihat dampaknya ketika pengguna akan meninggal. Kebanyakan pengguna susuk akan kesulitan meninggal dunia ketika susuk yang berada dalam tubuh mereka belum dilepaskan.

Susuk merupakan bagian dari berbagai khazanah jimat di Jawa. Susuk juga digunakan sebagai alternatif untuk memancarkan aura kecantikan yang sejak dulu hingga saat ini masih ada di relung kebudayaan Jawa. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme