Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Kisah Cinta dan Intrik dalam Kosmologi Kejawen

Muna Roidatul Hanifah [] mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam semester IV; peneliti muda IJIR []

Muna Roidatul Hanifah [] mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam semester IV; peneliti muda IJIR []

Istilah Kejawen memiliki tempat sentral dalam sejarah Jawa. Kejawen dianggap sebagai segala hal yang berkaitan dengan  kebudayaan Jawa, terutama dunia mistiknya.

Segala bentuk laku dan cara pandang masyarakat terhadap spiritualitas Kejawen tentu terkait erat dengan bagaimana asal mula pandangan ini lahir. Suwardi Endraswara dalam bukunya ‘Mistik Kejawen’ menjelaskan bahwa wawasan tentang Kejawen bermula dari kepercayaan masyarakat terhadap dua tokoh misterius, yaitu Sri dan Sadono.

Sri dipercaya sebagai penjelmaan Dewi Laksmi, yakni Dewa padi. Sedangkan Sadono adalah penjelmaan Wisnu yang menurut kepercayaan merupakan Dewa pencipta. Dalam agama Hindu, keduanya dikisahkan sebagai sepasang suami istri (Hadiwijono, 1983: 21).

Dalam versi yang lain, kitab Tantu Panggelaran (kitab penciptaan manusia) menceritakan, Dewi Sri menjelma ke dalam diri putri Daha bernama Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana, sedangkan Sadono menjelma menjadi Raden Panji Asmorobangun. Kisah ini sering disebut Kisah Galuh Candrakirana atau Kisah Panji.

Kisah ini masih cukup populer di kalangan masyarakat, terutama di daerah asalnya, Kediri, Jawa Timur. Cerita ini salah satunya dibawakan dalam bentuk Tari bernama Kethek Ogleng. Kebanyakan orang telah mengenal dan pernah menikmati pertunjukan kisah ini, namun masih sedikit sekali yang menyadari bahwa kisah keduanya mewakili titik lahirnya kepercayaan yang dianut oleh mayoritas masyarakat Jawa.

Tarian ini menggambarkan Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji yang saling mencintai. Keduanya merajut harapan untuk membangun sebuah keluarga yang harmonis. Namun Raja Kediri, ayah Dewi Sekartaji menginginkan putrinya menikah dengan laki-laki yang sudah dipilihkannya. Mendengar berita tersebut, Dewi Sekartaji memutuskan untuk lari meninggalkan istana secara diam-diam [sesungguhnya terlalu banyak versi cerita Panji, cerita ini hanya satu versi saja].

Berita kaburnya Dewi Sekartaji terdengar oleh sang Panji, dan membuatnya segera pergi untuk mencari kekasihnya. Di tengah pencariannya, ia singgah di rumah seorang pendeta yang memberinya petunjuk untuk mencari ke arah Barat dan dengan menyamar sebagai kera.  Sedangkan Dewi Sekartaji telah menyamar sebagai Endang Rara Tompe yang berusaha lari menyembunyikan diri ke atas gunung dan memutuskan menetap di sana.

Mereka pada akhirnya tinggal berdekatan, tanpa menyadari penyamaran satu sama lain. Endang Rara Tompe dan si Kera lama kelamaan saling akrab dan banyak menghabiskan waktu bersama. Tarian pun diakhiri dengan gerakan Endang Roro Tompe yang menaiki manusia kera sebagai lambang penyatuan keduanya. Cerita ditutup dengan kembalinya keduanya dalam wujud aslinya.

Begitulah awal mula cerita mistik Sri dan Sadono yang sebenarnya adalah penjelmaan dari Dewa, dan dianggap sebagai nenek moyang masyarakat Jawa. Tempat pertemuan mereka, menurut beberapa sumber terjadi di gunung Tidar, Magelang. Tempat itu kemudian oleh Sri dan Sadono diberi tetenger (tanda), dengan menancapkan paku tanah Jawa.

Paku ini kelak dinamakan Pakubuwana. Paku yang dianggap menjadikan tanah  Jawa tenang, sehingga Sri dan sadono dapat memiliki banyak keturunan. Keturunan yang dimaksud di sini adalah masyarakat Jawa.

Selain dalam seni tari, kita dapat menemukan ekspresi penyatuan Sri dan Sadono dalam bentuk lain, yaitu patung Loro Blonyo. Patung ini berbentuk sepasang pengantin dengan pakaian khas Jawa. Dahulu kala patung Loro Blonyo ini hanya dimiliki oleh kalangan priyayi dan diletakkan di dalam rumah tradisional Joglo di senthong (kamar) tengah. Patung ini akan selalu kita temui sebagai pajangan dalam pernikahan adat Jawa.

Makna patung Loro Blonyo adalah sepasang pengantin yang disatukan dalam ikatan pernikahan. Ikatan ini yang kemudian melahirkan kesuburan dan kemakmuran. Kesuburan dalam arti keturunan maupun tanaman.

Loro Blonyo juga melambangkan keharmonisan yang berkesinambungan. Maka dari itu, patung ini kini banyak diletakkan di rumah karena dipercaya dapat memberikan sugesti positif bagi sepasang suami istri.

Terlepas dari hal-hal di atas, kepercayaan masyarakat Kejawen terhadap asal-usul masyarakat Jawa menjadi gambaran mengenai betapa kentalnya kepercayaan mistis bagi masyarakat Kejawen. Di zaman modern ini, kita masih mendapati berbagai tradisi-tradisi, di antaranya adalah sedekah bumi, larung sesaji, dan semacamnya. Dalam Sejarahnya di kemudian hari tradisi ini dirawat dan dikembangkan menggunakan nilai-nilai Islam. Hal ini dikenal dengan Islam Kultural.

Kisah Sri dan Sadono melahirkan banyak cerita mistik yang tetap berkaitan, seperti Togog dan Semar, Ajisaka dan Dewata cengkar, Dora Sembada, juga mitologi-mitologi Kejawen yang berwujud cerita asal usul berbagai daerah yang bermacam-macam.

Melihat bagaimana Kejawen dibangun di atas dasar-dasar mistik berupa penjelmaan Dewa menjadi manusia, maka dapat kita pahami bahwa hal hal mistik adalah ruh kehidupan masyarakat Jawa. Ruh inilah yang menghidupkan kesakralan  ritual maupun kesenian yang dilaksanakan. Sekaligus juga, membuat nya tetap lestari sampai saat ini. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme