Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Ajaran Tasawuf dalam Serat Gatholoco

Hamim Mustofa [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Hamim Mustofa [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Serat Gatholoco adalah salah satu karya sastra yang sangat kontroversial di abad 19 M, yaitu pada zaman Mataram Surakarta. Mengapa serat ini sangat kontroversial? Karena serat ini dianggap sebagai karya sastra picisan (mesum) yang hanya dilontarkan untuk menghujat Islam.

Namun dibalik kontroversi tersebut, ternyata serat ini menyimpan ajaran Tasawuf. Salah satu ajaran tasawuf yang terkandung dalam serat ini adalah Manunggaling Kawula Gusti.

Secara garis besar Serat Gatholoco ini merupakan kisah santri lelana yang tokoh pusatnya adalah seorang pengembara yang bernama Gatholoco. Ia digambarkan sebagai sosok yang buruk rupa dan menjijikkan. Nama Gatholoco saja sudah memiliki arti yang sangat tabu yaitu “kelamin pria yang digosok”.

Ia menganggap dirinya sebagai lelanange jagad. Gatholoco memiliki dua nama lain yaitu, Barangkinisik (benda yang digosok-gosokkan di dalam lobang), dan Barangpanglusan (benda yang dihaluskan dengan cara dikeluar-masukkan). Maknanya tiada beda, tak lain adalah kelamin pria yang digosok (Furqon dan Busro, 2017).

Pengembaraannya itu untuk mencari ilmu dan pengalaman. Dalam perjalanannya Gatholoco berdebat ilmu dengan banyak ulama, yaitu tiga orang guru dari pondok desa Rejasari, yaitu Ngabdul Jabar, Ngabdul Manab, dan Hamat Ngarib, serta tiga orang guru lagi dari pondok desa Cepekan yaitu Kasan Mustahal, Kasan Besari, Kyai Ngabdul Jalal.

Para kyai tersebut diajak oleh Gatholoco untuk bertanya jawab, melakukan perdebatan mengenai metafisika, dengan tujuan untuk menjerat mereka dalam logika yang berbelit-belit mengenai mistik Islam (Sri Ngabekti, 2003: 11).

Sudewa, dalam tulisanya “Wanita Jawa: Antara Tradisi dan Transformasi” (yang dihimpun dalam “Citra Wanita Jawa dan Kekuasaan” karya Budi Santoso), menyebutkan bahwa Serat Gatholoco berisi perdebatan ajaran tasawuf, berisi dialog antara guru laki-laki dengan  murid perempuan dengan menggunakan kata-kata yang kasar dan terkadang jorok. Sang guru bernama Gatholoco, yang berarti alat kelamin laki-laki. Sedangkan sang murid bernama Perjiwati, yang berarti alat kelamin perempuan.

Serat Gatholoco bukannya anti-Islam, melainkan menggugat ketidaktuntasan pemahaman terhadap Islam. Karena kebanyakan orang hanya memahami Islam sebatas permukaanya saja. Banyak dari mereka yang ahli fikih, ahli hadis, ahli al-Quran, namun mereka mengesampingkan tasawuf. Sehingga mereka terkadang menilai seseorang hanya dilihat dari penampakan luarnya saja, mereka tidak mempertimbangkan sisi dalamnya. Akibatnya mereka sering menjadikan ilmunya sebagai bahan untuk menjatuhkan orang lain.

Latar belakang penciptaan serat ini awalnya sebagai media penyembahan dan pelaksanaan ajaran nenek moyang, yaitu untuk mengetahui cikal bakal manusia. Maka dari itu diperlukan ligga-yoni, sehingga terbentuklah manusia. Dan dari lingga-yoni pula manusia dilahirkan di dunia, atau dengan kata lain asal manusia itu adalah bapak dan ibu (Sukahar, 1999: vii).

Oleh karena itu, ada beberapa pandangan yang menilai bahwa Serat Gatholoco sarat akan muatan tasawuf, terutama tentang hakikat hidup, sangkan paraning dumadi, dan juga manunggaling kawula gusti.

Ajaran tentang Manunggaling Kawula lan Gusti dapat dilihat dalam pupuh berikut: “Badanku kena ing rusak, urip-mami angawruhi, saobah-osiking badan, Rasulu’llah andandani, krana ingsun kekasih, kinarja Pangéraningsun, marang sungunging sipat, nggesangken saliring tunggil, ija ingsun ija Allah ja Muchammad.” (Gatholoco, pupuh sinom bait ke 45).

Maksud dari bait di atas adalah bahwa badanku ini bisa dirusak, akan tetapi hidupku (ruh) abadi, hidupku tahu seluruh keberadaan tubuh ini, Rasulullah (ruh)-lah yang menghiasi, karena Aku (Hidup/Ruh/Rasulullah) adalah kekasih (-Nya), dianggap sebagai tempat untuk Mengabdi (bagi tubuh fisik), tempat untuk mengabdi bagi seluruh sifat (maksudnya segala sifat yang baik maupun yang buruk), menghidupi segalanya dalam satu kesatuan, (sesungguhnya) Aku (ruh) adalah juga Allah adalah juga Muhammad.

Pandangan tersebut hampir sama dengan pandangan Spinoza mengenai substansi. Menurut Spinoza, Allah atau alam adalah kenyataan tunggal. Ia menyebutnya Deus sive Natura – seluruh penampakan alam adalah manifestasi Allah (Budi Hardiman, 2004: 48).

Jika dilihat dari sudut pandang keseluruhan kesusatraan suluk Jawa itu sendiri ataupun tasawuf yang menjadi paradigma sastra suluk Jawa, Serat Gatholoco tak tampak sebagai sebuah kontroversi. Ia sungguh tak kelihatan menghujat Islam secara keseluruhan. Ia hanya menggaungkan kembali tema umum sastra suluk Jawa ataupun konsep-konsep tasawuf dengan cara dan gaya bahasanya yang khas. Mode ke-Islamannya pun tak senyap akan preseden, baik dalam kesusastraan suluk Jawa sendiri ataupun dalam khazanah tasawuf. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme