Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Kosmologi Surup dan Larang-Pantangnya

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Surup merupakan waktu yang misterius dan menakutkan  bagi orang Jawa. Konsepsi ini berawal dari cara pandang masyarakat atas dunianya. Kemudian, pandangan  tersebut mengejawentah ke dalam norma-norma yang berkembang di masyarakat. Biasanya, aturan hidup itu mewujud berupa  pantang-larang.

Taslim dan Junaidi Syam (2007:664) mendefinisikan pantang-larang sebagai perbuatan yang dilarang melakukannya. Apabila dilanggar, hal itu diyakini dapat membahayakan hidup pelakunya atau membuatnya menjadi berperangai buruk. Secara sosial, pantang larang berguna sebagai penebal emosi kepercayaan, media edukasi-nasihat orang Jawa serta upaya rasional orang Jawa, dalam menjelaskan gejala alam yang sulit dimengerti dan menakutkan supaya dapat diupayakan penanggulangannya (Danandjaya, 1991: 169-170).

Merujuk uraian-uraian tersebut, larang-pantang di Jawa yang menyangkut waktu surup, merupakan wacana orang Jawa dalam memaknai hidupnya. Beberapa pantangan masih akrab di telinga kita hingga saat ini misalnya, larangan keluar rumah, mandi keramas, hingga tidur di waktu surup.

Larang-pantang tersebut, rupanya bermula dari kosmologi Jawa mengenai kalender. Orang Jawa membatasi hari dalam kalendernya dengan waktu surup. Hal ini sangat terkait dengan penanggalan Jawa yang didasarkan pada hitungan bulan sehingga, terbenamnya matahari menjadi hitungan pergantian hari orang Jawa (John L. Esposito, 1995: 301). Selain itu, surup dipahami orang Jawa dalam kaitannya tentang posisi matahari. Untuk memahami itu, kita harus memulai melihat makna Timur bagi orang Jawa. Masyarakat meyakini Timur sebagai simbol permulaan kehidupan. Hal ini merujuk pada istilah penyebutan arah Timur orang Jawa yaitu wetan.

Wetan memiliki makna wiwitan yang artinya permulaan matahari terbit. Fenomena ini, kemudian disimbolkan orang Jawa sebagai keadaan asal-muasal keberadaan manusia. Pemahaman seperti itu, juga dipraktikan para spiritualis di Jawa. Mereka selalu mengahadapkan tubuhnya ke arah timur (wetan) ketika mereka bersemedi. Tujuannya adalah agar mereka dapat mengenali jati diri dengan melihat asal-muasal hidupnya (Endraswara, 2015: 65). Itulah cara orang Jawa memahami kehidupan dari refleksinya atas dunia serta menerapkannya dalam tata kehidupannya.

Refleksi itu juga dapat kita temukan dalam pemahaman masyarakat mengenai arah Barat. Arah Barat juga memiliki nilai filosofisnya sejauh dikaitkan dengan posisi matahari. Secara substantif, Barat dipahami masyarakat dalam relasinya dengan waktu. Dalam kosmologi Jawa, Timur (posisi matahari terbit) diyakini sebagai permulaan hidup, maka Barat (waktu surup) dipandang sebagai batas akhir kehidupan. Hal inilah yang mengikat kuat masyarakat dengan membuat pantang-larang aktifitas di waktu surup.

Aja metu surup-surup itulah salah satu pantangan yang sering kita dengar. Waktu surup diyakini orang Jawa sebagai ambang batas kemunculan makhluk halus, lelembut. Lelembut merupakan sosok yang dapat menjahili, menakut-nakuti hingga mengganggu manusia. Beberapa gangguan itu, seringkali berupa kesurupan atau dalam masyarakat disebut sawanen.

Melihat akar katanya, Kesurupan dan waktu surup merupakan satu turunan. Clifford Geertz (Geertz, 2013: 14) menyebut bahwa akar kata kesurupan adalah “masuk”, “memasuki sesuatu”, sekaligus memiliki makna  “waktu matahari tenggelam”. Ia juga mengatakan bahwa, barangkali waktu surup merupakan waktu yang sangat berbahaya bagi orang Jawa dalam kaitannya dengan makhluk halus.

Makhluk halus atau lelembut diyakini orang Jawa memiliki aktifitas yang hampir serupa dengan manusia. Mereka berkunjung kepada teman-temannya di saat matahari mulai terbenam. Mereka juga berkeliaran dan melintasi jalan-jalan yang umumnya dilalui manusia. Anggapan tersebut, mengindikasikan lebih jauh bahwa orang yang keluar pada waktu surup, cenderung mudah diganggu lelembut hingga kesurupan.

Selain pelarangan keluar ing wayah surup, terdapat beberapa pantang-larang di Jawa lebih menekankan pada prinsip untuk kehidupan manusia sendiri, bukan karena aspek makhluk selainnya. Salah satu pantang-larang itu adalah larangan mandi keramas di kala matahari terbenam. Orang tua Jawa seringkali menuturkan hal itu kapada anak-cucunya dengan redaksi “aja adus surup-surup” atau “aja keramas ing wayah lingsire srengenge”.

Melanggar hal di atas, diyakini masyarakat dapat memberi nasib sial pada kematiannya kelak. Surup, sekali lagi dipahami masyarakat sebagai waktu akhir. Sehingga, masyarakat juga mempercayai bahwa mandi keramas di waktu demikian, akan mengakibatkan pelakunya meninggal di waktu surup. Kematian seperti ini, merupakan hal yang cukup mengkhawatirkan bagi orang Jawa.

Bagaimana tidak, meninggal di waktu surup bukan hanya menjadi kecemasan bagi si meninggal tetapi juga akan merepotkan banyak pihak. Orang-orang meyakini bahwa orang yang meninggal dunia, menuntut agar jasadnya segera dikebumikan. Di sisi lain, orang Jawa mempercayai bahwa menggali tanah di waktu malam adalah perilaku buruk. Sehingga, umumnya, jenazah itu akan diinapkan di rumah dan dimakamkan esok hari.

Karena upacara kematian selalu melibatkan tetangga, maka akan sangat merepotkan kalau masyarakat harus disibukkan dengan pengurusan jenazah di waktu petang. Pada akhirnya, untuk mengantisipasi kematian di waktu surup-petang, orang-orang mengupayakan tidak mandi keramas di kala matahari terbenam.

Selain itu, terdapat satu pantangan yang juga berkaitan tentang waktu surup. Pantangan itu berbunyi “aja turu surup-surup”. Pantangan ini berlaku bagi setiap orang, mulai bayi hingga orang tua. Tidur di waktu surup, dipercaya dapat menyebabkan bayi rewel sepanjang malam. Sedangkan untuk orang dewasa, hal tersebut bisa mengakibatkan linglung. Bahkan konon, jika seseorang tidur di waktu surup genap hingga 40 hari berturut-tururt bisa menyebabkan gila.

Beberapa pantangan di atas merupakan refleksi orang Jawa dalam memahami dunianya. Pantangan itu dijadikan penganutnya sebagai pedoman hidup dan dihayati supaya mencapai keharmonisan di dalam kosmos. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme