Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Punya Cara Menyambut Ramadhan

Ramadhan menjelang. Anak-anak Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), IAIN Tulungagung menyambutnya dengan riang.

Mereka tahu cara takzim kepada titah Banginda Rosul. “Siapa yang menyambut Ramadhan dengan (riang) gembira, maka diharamkan jasadnya masuk api neraka.”

Tentu saja, bagi anak-anak AFI yang mendalami filsafat dan pemikiran, cara paling gembira menyambut Ramadhan adalah dengan diskusi. Mengasah pikiran agar tidak beku. Itu juga merupakan sesuatu yang religius dan dianjurkan agama.

59243977_2267705880214185_108791195190165504_nKali ini, diskusi mereka kemas dengan beken. Tajuknya “Safari Ramadhan: Ngaji Filsafat Islam”. Tidak tanggung-tanggung, mereka bikin enam seri diskusi, dimulai pada 29 April 2019 dan berakhir pada 16 Mei 2019. Selama enam seri itu, Safari Ramadhan mengulas hampir semua tokoh dan pemikiran filsafat Islam.

Saat pertama kali paflet disebar di social media, Dr. Abad Badruzaman, Pembantu Rektor III IAIN Tulungagung, langsung melempar pujian. “Yang begini (acara se-beken ini) hanya ada di IAIN Tulungagung,” tulisnya.

Tak terlukiskan betapa saya membanggakan mereka, bukan semata-mata karena pujian itu. Mahasiswa AFI yang mengorganisir diri dengan baik di bawah Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) itu, memang punya rekam jejak yang cukup panjang dalam menghidupkan marwah kampus sebagai lembaga intelektual.

Bertahun-tahun lalu, ketika jumlah mahasiswa AFI masih bisa dihitung dengan jari, mereka sudah menjadi penjaga lestarinya diskusi-diskusi taman di kampus. Mereka juga selalu menyelenggarakan ‘Madrasah Filsafat’, tiap tahunnya. Bahkan, sebelum saya mengajar di IAIN Tulungagung, saya sudah mementori mereka di setiap acara ‘Madrasah Filsafat’ itu.

Perjumpaan saya dengan mahasiswa AFI, seperti suatu kehendak alam saja. Dulu, saya sahabat dan mentor mereka. Sampai hari ini, relasi itupun tidak berubah. Saya sangat menikmati semua situasi bersama mereka karena hobi yang sama. Diskusi, diskusi dan diskusi.

***

Sejak 2018, diskusi yang dikelola mahasiswa AFI bukan hanya semakin intens dan terarah. Kali ini, mereka juga semakin sadar cara mengemas diskusi, sehingga mampu menyeret lebih banyak lagi mahasiswa lain untuk terlibat.

Itu berlaku bagi mahasiswa di lingkungan IAIN Tulungagung, maupun mahasiswa dari kampus-kampus di luar IAIN, bahkan pengaruh iklim diskusi itu juga menyeret mahasiswa dari kampus-kampus ternama lain di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Mereka tahu cara mengemas diskusi menjadi lebih menarik. Misalnya, hanya sekadar membuat pamflet yang bergaya milenial dan eye-catching, hingga membuat prosiding setiap diskusi. Bahkan, diskusi-diskusi mulai didokumentasi dengan rekaman video dan disiarkan live streaming.

Semua upaya itu mereka lakukan di tengah kesibukan kuliah, juga keterlibatan aktif di Institute for Javanese Islam Research (IJIR) sebagai peneliti-penulis. Sesibuk apa mereka? Saya bisa pastikan, saban semester saya menugasi setiap mahasiswa dengan satu penelitian. Belum lagi tulisan ilmiah populer yang pasti terus saya tagih tiap pekannya.

Di tengah jadwal yang padat itu, mereka masih mengelola diskusi taman tiap pekan. Mereka bikin payungnya dengan nama, Studi Klub Aqidah dan Filsafat (SKAF). Mereka juga masih intens menggelar diskusi film. Dan menyambut Ramadhan 2019 ini, mereka—di luar sepengetahuan saya, bahkan telah merancang diskusi berseri “Filsafat Islam” yang beken itu.

***

Safari Ramadhan sudah dibuka secara resmi, Senin, 29 April 2019. Saya mendapat kehormatan untuk memberi sambutan dan membuka acara tersebut.

Saya juga senang sekali karena para pemantik diskusi adalah para alumni AFI yang sedang kuliah S2 di Program Pascasarjana IAIN, maupun alumni yang sedang berjuang keras untuk meraih beasiswa di Program Pascasarjana di luar IAIN.

Dalam sambutan itu saya bertanya, mengapa tema Safari Ramadhan ini “Revitalisasi Filsafat Islam Klasik”? Apakah agar tampak religius? Atau tema itu ekspresi kerinduan, mungkin juga romantisme?

Mahasiswa AFI sangat paham bahwa mendiskusikan filsafat Islam klasik, menjadikan orang mudah terjebak di dalam romantisme. Mudah melambungkan kebanggaan atas kejayaan Islam di masa lalu, tetapi mudah lupa situasi hari ini.

Mereka juga paham bahwa, keterjerembaban total filsafat Islam di wilayah ontologi dan metafisika, telah menyeretnya di dalam kebuntuan yang hampir berusia seribu tahun lamanya.

Mereka paham itu. Dan tentu saja, saya bertanya bukan dalam rangka menggali jawaban apalagi berdebat mereka. Betapapun jebakan romantisme itu begitu menganga, saya akhirnya menginsafi dahaga mereka akan khazanah filsafat Islam klasik.

Begini ceritanya. Sejak dua tahun yang lalu, kami—pengelola Jurusan AFI, sangat ‘berambisi’ merampingkan mata kuliah yang terkait dengan filsafat Timur dan filsafat Islam karena prioritas mengembangkan soft skill penelitian dan penulisan.

Tanpa kami sadari, rupanya hasil akhinya, porsi mata kuliah filsafat Islam sangat tidak berimbang dengan filsafat Barat dan metode penelitian.

Oh my God, saya seketika sadar. Betapa kreatifnya mereka, membuat saluran-saluran intelektual yang tidak cukup mereka cecap di ruang kulaih. Saya lalu mulai curiga, jangan-jangan Safari Ramadhan adalah kritik diam-diam yang dilontarkan mahasiswa kepada kami.

Mereka tentu memiliki pengetahuan cukup untuk tidak jatuh pada sikap romantisis, baik dalam cara beragama terlebih lagi dalam cara berilmu. Sesuatu di luar apa yang bisa kami pikirkan, para mahasiswa rupanya tidak rela bila jurusan ini semakin (terkesan) sekuler.

Baiklah-baiklah. Kode keras ini kami terima sebagai bahan refleksi yang sangat penting untuk mengelola Jurusan ini, ke depannya.

Sekali lagi, tak terlukiskan betapa bangganya saya kepada semua mahasiswa kritis itu. Terima kasih Hendrick Nur Kholis, Fitria Rizka Nabelia, Sulkhan Zuhdi, dan semuanya yang tidak mungkin saya sebut satu persatu di sini.

Selamat menyambut Ramadhan. []

 

Tulungagung, 30 April 2019

Akhol Firdaus—Plt Kajur Aqidah dan Filsafat Islam

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme