Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Mantra dan Puasa Mutih untuk Kekebalan

Muhammad Ato’illah A [] Mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi Semester II; Staf Magang IJIR []

Muhammad Ato’illah A [] Mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi Semester II; Staf Magang IJIR []

Masyarakat Jawa melakukan banyak hal mistik untuk mendapatkan kesaktian. Salah satunya adalah dengan jalan melakukan puasa mutih. Puasa ini mengharuskan pengamalnya hanya makan nasi putih dan minum air putih, atau hanya makan makanan yang tidak memiliki rasa.

Puasa mutih banyak diamalan oleh orang yang menginginkan ilmu kanuragan. Ilmu kanuragan sendiri adalah ilmu yang berfungsi untuk membela diri secara supranatural. Dan ilmu ini mencakup kemampuan bertahan (kebal) terhadap serangan dan kemampuan untuk menyerang dengan kekuatan yang tidak lazim.

Puasa mutih dilakukan pada waktu-waktu tertetu, sesuai tujuan yang diinginkan para pencari ilmu kanuragan.  Umumnya pada tanggal pertengahan bulan saat bulan purnama selama tiga hari.

Puasa mutih juga diyakini dapat mengumpulkan seluruh energi spiritual. Penyatuan energi inilah yang menjadikan kondisi tubuh menjadi kuat. Tubuh akan menjadi seperti terlindungi oleh aura spiritual yang nantinya akan digunakan sebagai proteksi atau untuk perlindungan terhadap hal-hal yang akan mengenai diri sesorang tersebut.

Konon puasa mutih dipercaya sebagai peningkatan aura bersih dalam tubuh seseorang. Aura bersih ini bisa dikatakan sebagai aura putih. Hal ini diyakini berfungsi sebagai suatu pelajaran spiritual dan untuk berkomunikasi dengan dunia ghaib. Orang yang mempunyai aura putih akan menjadikannya terlihat lebih berkarisma, dan terlihat bersih. Ada pula keyakinan bahwa orang yang melakukan puasa mutih akan terlindung dari serangan gaib yang jahat.

Selain itu, puasa mutih memiliki manfaat lain selain dari aspek spiritual. Dari segi fisiologis. puasa mutih dapat menurunkan kadar gula dan garam dalam darah, karena seseorang hanya mendapatkan asupan karbohidrat yang dibutuhkan oleh tubuh, dan air putih agar tidak dehidrasi. Manfaat lain adalah mengurangi asupan lemak dan membantu mengurai racun-racun yang ada dalam tubuh.

Dalam puasa mutih, tidak lepas dari yang namanya mantra atau do’a yang digunakan. Mantra atau do’a yang digunakan biasanya sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh pelakunya. Ada orang menjalani puasa dalam rangka mendapatkan rejeki, kekuatan, jodoh,  kekayaan, pangkat dan sebagianya. Biasanya yang paling banyak diburu adalah untuk mendapatkan kekuatan, yakni kekuatan gaib berupa kekebalan tubuh.

Contoh do’a dalam puasa mutih yang digunakan sebagai sarana mendapatkan ilmu gaib atau kekebalan tubuh adalah, “Bismillahirrohmanirohim. Aku lanang sejati, puserku enem tus buntutku, teguh ayu tanpa guru, ajiku siwelut putih. Atempak kaya dhengkul. Sing sapa ala maring aku, dhilak-dhiluk kaya peliku. Aku sapa, aku kembang pulutan, jambul ana gerbane.”

Mantra ini dibaca sebelum sesorang melakukan amalan puasa mutih. Pelaku harus menjalankan sesuai aturan yang sudah ada, jika seorang mampu melakukannya dengan baik, maka seseorang itu akan mendapatkan kekuatan sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Kebanyakan mantra seperti ini sering digunakan oleh orang-orang yang notabenenya sebagai petarung. Seperti di lingkungan saya, di Desa Bakung Kecamatan Udanawu, Blitar. Hampir semua orang yang berkecimpung di dunia pertarungan seperti Pencak Silat, Ju Jit Tsu, dan petarung Pencak Dor, menggunakannya untuk tujuan sebagai alat kekebalan tubuh saat dipukul lawan.

Kekebalan ini merupakan berkat dari kekuatan energi spiritual yang tinggi. Seakan-akan orang itu terlindungi oleh kekuatan orang lain yang menyerangnya. Kekuatan tersebut juga melekat dalam diri pelakunya. Tubuhnya serasa mempunyai tabir pelindung, dan perlindungan diri itu bersumber dari kekuatan spiritualnya.

Warga masyarakat Desa Bakung yang berkecimpung di dunia pencak silat, rata-rata memilih puasa mutih untuk membantu dalam hal tirakatnya. Karena diangap selain mendatangkan kesehatan bagi tubuh juga dipercaya sebagai pembersihan hati dari hal-hal yang bersifat negatif.

Ternyata dalam melakukan puasa mutih ada pantangan-pantangan yang harus dihindari, dan pantangan tersebut sebisa mungkin harus dihindari agar tidak menyimpang dari tujuan dan peningkatan spiritual yang dilakukan. Pantangan-pantangan tersebut misalnya, tidak boleh mengikuti hawa nafsu (hasrat seksual), tidak boleh membunuh, tidak boleh mencuri, tidak boleh berdusta, tidak boleh memabuk-mabukan, dan tidak boleh menangkap makhluk hidup lain.

Yang harus diperhatikan, puasa mutih ini juga meyimpan efek samping bagi pengamalnya. Pengamal akan kekurangan asupan gizi seperti sayur, ikan, daging, yang dibutuhkan oleh tubuh. Namun, jika dalam melakukan puasa mutih ini disertai dengan menjalani praktik dan menjauhi pantangan dengan tepat, maka tubuh akan tetap sehat.

Inti laku puasa mutih adalah untuk mencari energi spiritual. Ketika energi spiritual ini mengalir dalam diri seseorang, maka orang itu akan memiliki aura yang kuat dalam dirinya. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme