Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Jimat Kesaktian Ritual Tiban

Fikri Imanullah [] Mahasiswa STAI Diponegoro Tulungagung; Jaringan Penulis Islam Jawa []

Fikri Imanullah [] Mahasiswa STAI Diponegoro Tulungagung; Jaringan Penulis Islam Jawa []

Ritual Tiban atau seni Tiban berasal dari kata dasar tiba bahasa Jawa yang berarti jatuh. Tiban mengandung arti yakni timbulnya sesuatu yang tidak diduga sebelumnya. Dalam konteksnya dengan peristiwa tersebut, maka Tiban merujuk kepada hujan yang jatuh dengan mendadak. Dalam percakapan sehari-hari disebut udan tiban.

Kesenian Tiban merupakan kesenian yang muncul di Desa Wajak Kidul Tulungagung. Tiban merupakan salah satu budaya tradisional daerah Wajak yang merupakan suatu permainan adu kekuatan daya tahan tubuh dengan menggunakan cambuk lidi aren sebagai senjatanya.

Istilah Tiban muncul pada zaman pemerintahan Tumenggung yakni pada masa Surontani II. Hal ini dimaksudkan untuk mencari bibit-bibit prajurit yang tangguh dan gagah perkasa yang nantinya akan dipersiapkan untuk menghadapi Kerajaan Mataram.

Dikisahkan pada waktu itu Peresmian Adipati Nilo Suwarno atau Surontani II yang bergelar Pangeran Kertokesumo, mendatangkan Gusti Kanjeng Sinuwun Senopati Mataram. Pesta besar-besaran mengadakan kesenian Tayub. Panembahan Senopati menghadiri dan menobatkan Adipati Baru.

Pada saat itulah, Panembahan Senopati jatuh cinta kepada Roro Pilang. Percintaan keduanya berakhir dengan kehamilan Pilang. Hal ini diketahui oleh orang tuanya yaitu Adipati Surontani. Roro Pilang ditanya siapa yang telah menghamilinya. Roro pilang menjawab pertanyaan orang tuanya dan mengaku bahwa Panembahan Senopatilah yang telah menghamili dirinya.

Adipati Surontani murka dengan memerintahkan kepada senopatinya untuk ke Mataram meminta pertanggungjawaban dari Gusti Panembahan Senopati. Sambil menunggu kabar dari senopatinya, Tumenggung Surontani II mengadakan pertunjukan adu kekuatan yang sekaligus merupakan hiburan rakyat.

Pertunjukan tersebut dinamakan Tiban. Sebenarnya semua ini merupakan taktik Tumenggung surontani II untuk mencari bibit-bibit prajurit yang nantinya akan dipersiapkan untuk menghadapi Kerajaan Mataram, apabila Gusti Panembahan Senopati murka atas pengiriman Patih Tumenggung Surontani II untuk meminta pertanggungjawaban dan beliau mengirimkan pasukannya untuk menyerang katemenggungan Wajak.

Dari kisah itulah sampai sekarang Tiban Masih tetap membudaya dalam masyarakat di daerah Wajak. Seperti telah dikemukakan, Tiban telah mengalami perubahan dalam hal tujuan diadakannya kesenian tradisional tersebut, yang semula untuk mencari prajurit tangguh, sudah tidak berfungsi bagi masyarakat Wajak. Anggota masyarakat sebagai pendukung dari kebudayaan lalu mengubah tujuan kesenian tersebut.

Dari proses itulah saat ini Tiban telah mempunyai tujuan baru yang telah disetujui oleh masyarakat Wajak, yaitu Tiban dijadikan alat untuk meminta hujan pada waktu terjadi kemarau panjang. Para petani menganggur karena sawahnya tak dapat diolah, sungai-sungai mengering. Musim kemarau seakan-akan tidak ada selesainya. Segala upaya sudah diusahakan untuk mendapatkan air, namun belum dapat memenuhi kebutuhan pengairan, yang didapat hanya sebatas kebutuhan minum dan kebutuhan dapur.

Selanjutnya sebagai ritual masyarakat memberikan pengorbanan diri tersebut dengan menggunakan pecut yang terbuat dari sodo Aren (lidi tumbuhan berbuah kolang-kaling). Prosesi ritual di antara para peserta upacara tradisi ini saling mencambuk secara bergiliran. Sudah barang tentu dalam tradisi ini banyak cucuran darah.

Ritual ini dipercaya bisa menurunkan hujan ketika kemarau panjang. Hujan yang semacam inilah yang disebut udan Tiban. Saat hujan turun, kegembiraan masyarakat Wajak beserta Pinisepuh tidak dapat digambarkan, bersyukurlah mereka atas Rahmat-Nya. Ritual ini masih diteruskan oleh masyarakat setempat secara turun temurun, penyelenggaraannya dilaksanakan pada setiap musim kemarau dan diselenggarakan di tengah persawahan.

Sampai saat ini upacara ini terus berlangsung meskipun telah beralih fungsi yang semula sebagai media religi berubah menjadi suatu permainan rakyat sekaligus sebagai tontonan, sesuai perkembangan, prosesi upacaranya pun sekarang disesuaikan semacam pertandingan ada kalah dan menangnya, dan tempat penyelenggaraannya tidak di sawah lagi, bisa di panggung atau arena buatan semacam di alun-alun dan lainnya.

Dengan demikian di Desa Wajak sendiri telah terjadi perubahan kebudayaan yang menghasilkan kebudayaan yang dianggap berfungsi atau berguna sehingga dapat dijadikan pedoman hidup masyarakat.

Kesenian Tiban di desa Wajak Kidul memiliki rangkaian  urutan pada setiap penyajian iringan musiknya. Kesenian Tiban yang ada di padepokan Wajak Surontani merupakan kesenian Tiban yang secara struktur penyajianya pada bagian pembuka, bagian inti, dan bagian penutup mempunyai keunikan pada instrumen sebagai pendukung dan gendhing yang dipakemkan pada setiap pertunjukanya.

Kesenian Tiban di desa Wajak Kidul memiliki struktur penyajian musik sebagai berikut: pada bagian pembuka memiliki gendhing Rengeng-rengeng dengan Instrumen musik berupa gambang dangong suwuk.

Bagian inti kesenian Tiban memiliki gendhing Dolanan, gendhing Dolanan tersebut berupa gendhing Sluku-sluku Batok yang menggunakan instrumen musik berupa kendang gedhe, gambang, kenthongan, kenong, dan gong suwuk. Setelah itu pada bagian penutup yaitu gendhing Girong yang menandakan suatu akhir dari pertunjukan kesenian Tiban, dengan menggunakan instrumen musik berupa kendang gedhe, gambang, kenong, dan gong suwuk.

Dalam perkembangan ilmu gaib saat ini seperti yang dilakukan dalam tradisi Tiban ini diidentifikasi sebagai kejawen. Mantra yang dilakukan dalam tradisi ini pun tidak memiliki pakem dan menyesuaikan pinisepuh setempat serta dilaksanakan biasanya diawali dengan bacaan Bismillah kemudian dilanjutkan dengan mantra berbahasa Jawa. Biasanya diakhiri dengan dua kalimat Syahadad.

Sepintas ilmu ini mirip dengan  ilmu kanuragan karena bisa memperlihatkan kekebalan tubuh para pelakunya terhadap benda-benda berbahaya. Namun ilmu ini tidak dapat digunakan dalam konteks bertarung yang sesungguhnya. Masyarakat Jawa umumnya masih mempercayai kekuatan mistis yang dianggap berpengaruh terhadap kehidupan

Sedangkan di Desa Wajak sendiri ada jimat untuk menolong bagi siapa yang menginginkan kekuatan ilmu kanuragan dan juga terkena gigitan binatang yang mempunyai upas atau racun. Jimat tersebut dinamakan Batu Soleman, sampai sekarang batu tersebut tetap dimiliki oleh penduduk Desa Wajak Lor, Tulungagung. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme