Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Mantra Pengasihan: Rahasia Asmara dalam Klenik Jawa

Mega Mustikasari [] Mahasiswa Tasawuf Psikoterapi semester IV []

Mega Mustikasari [] Mahasiswa Tasawuf Psikoterapi semester IV []

Masyarakat Jawa sering menggunakan mantra untuk mempermudah kehidupan, salah satunya untuk urusan asmara. Mantra ini banyak dikenal sebagai mantra pengasihan. Mantra ini berguna untuk mendekati orang yang disukai.

Masyarakat Jawa percaya mantra tersebut dapat memengaruhi seseorang, sehingga dipercayai mampu membuat seseorang yang mulanya benci menjadi cinta. Hal ini lantaran jiwa dan batinnya dipengaruhi oleh lantunan japa-jampi yang diucapkan oleh perapal mantra.

Adapun salah satu mantra pengasihan yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa adalah pengasihan Joyo Kusumo. Mantra pengasihan Joyo Kusumo sangatlah melegenda di tanah Jawa karena dikenal sebagai “Raja dari Pengasihan”. Konon, bila mantra ini diamalkan dengan baik, maka bisa menundukkan siapapun. Hal ini diyakini bahwa mantra Joyo Kusumo mampu memancarkan kharisma diri yang lebih kuat.

Selain digunakan dalam urusan asmara, mantra ini juga seringkali digunakan dalam mengatasi permasalahan seperti pekerjaan, kekuasaan, bahkan rezeki. Makna yang terkandung dalam mantra ini memiliki kekuatan untuk meningkatkan daya asih di dalam diri setiap pelakunya.

Adapun mantra atau doa yang biasa dirapal sebagai berikut:

“Ayo podo topo eneng telogo” Pada kalimat pertama merupakan salam atau pembuka mantra  yang bertujuan untuk memanggil sebagian besar makhluk ghoib (jin, lelembut, dan makhluk halus) agar ikut serta dalam aktivitas kontemplatif. Kegiatan ini diartikan sebagai sarana untuk mawas diri agar pelaku memiliki pemikiran, kepribadian, dan segala sesuatu yang ada dalam dirinya supaya menjadi lebih baik.

“Pentil putih iku kembang joyo kusumo, eh yo aku kembang joyo kusumo, asih, asih asih o marang jiwo rogoku,” pada kalimat kedua merupakan isi mantra, yang berfungsi untuk menundukkan dan menumbuhkan rasa asih orang lain terhadap pengamalnya.

“Saking kersane Gusti Allah” merupakan kalimat penutup mantra yang menyatakan bahwa segala proses ritual yang sudah dilalui tadi kembali lagi atas kehendak Allah. Karena semua hal nanti, merupakan sesuatu yang tidak luput dari ridha-Nya.

Adapun pelaksanaannya, mantra ini dilafal setiap hari dengan ketentuan-ketentuannya. Sebelum mengamalkan mantra ini, biasanya pelaku dianjurkan untuk melakukan puasa selama 40 hari. Puasa diniatkan untuk menghilangkan segala hal yang bersifat negatif dalam dirinya. Dalam pelaksanannya, puasa juga harus mengikuti hitungan Jawa. Biasanya, puasa dilakukan pada hari weton kelahiran pelakunya di bulan Sya’ban.

Selain itu, terdapat pantangan-pantangan yang harus dihindari oleh pengamalnya. Pantangan tersebut misalnya, dilarang melakukan perbuatan buruk, tidak sombong serta tidak boleh digunakan dengan maksud merugikan orang lain. Melanggar pantangan tersebut, dipercaya dapat menghilangkan energi pengasihan.

Masih terkait mantra pengasihan, rupanya, terdapat juga efek samping pada pengguna mantra pengasihan Joyo Kusumo. Kebanyakan dari pengamalnya, dipercayai mengalami kesulitan ketika meninggal dunia oleh masyarakat Jawa. Anggapan yang berkembang adalah adanya jin yang mengganggu pelaku di saat-saat menjelang ajalnya.

Meskipun mantra ini memiliki banyak kegunaan, tidak membuatnya mudah untuk diwariskan. Mantra ini biasanya hanya diwariskan secara turun temurun. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kemungkinan penyalahgunaan dan pengubahan teks mantra.

Pewarisannya pun tidak sembarangan.  Sebab seseorang yang diwarisi mantra ini pun tidak serta merta mendapatkan kewenangan untuk mewariskannya. Terkadang, proses pewarisannya sangat bergantung dengan persoalan magis yang menyertainya, misalnya mendapatkan wangsit untuk mewariskan mantra tersebut.

Dalam proses pewarisan mantra pengasihan bersifat tertutup karena dianggap sangat sakral. Setiap mantra yang diwariskan memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Adapun syaratnya, harus melakukan ritual pembelian mantra. Ritual ini biasa dilakukan oleh guru (pewaris), sementara orang yang diberi mantra hanya menyediakan barang berupa uang, kemenyan, bunga, minyak wangi.

Setelah benda-benda tersebut sudah dipenuhi maka proses pembelian mantra bisa dilakukan. Caranya, mantra pengasihan dibacakan oleh guru (pewaris) dan diikuti oleh pelaku pengasihan. Kemudian, pelaku cukup menjalankan ritual yang sudah disepakati, lalu mantra akan memiliki daya magisnya sendiri.

Terlepas dari benar atau tidaknya kepercayaan tentang mantra ini. Hal ini merupakan warisan budaya leluhur masyarakat Jawa yang harus dijaga keaslianya serta harus diamalkan untuk hal-hal yang bersifat positif saja. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme