Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

AFI Menjemput Mahasiswa Biar Filsafat Tidak Horor

Namanya Risma Fadlilatul Iffah. Siswa SMAN 2 Trenggalek tersebut, cerdas dan sederhana. Saat bertemu saya pada 2018, ia masih duduk di kelas XI. Meski begitu, pada saat itu ia sesungguhnya telah menjadi mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) IAIN Tulungagung.

Kok bisa? Ya. Risma adalah pemenang sayembara menulis esai yang diselenggarakan oleh Jurusan AFI bersama dengan Institute for Javanese Islam Research (IJIR) pada 2018. Sayembara itu sendiri diikuti oleh puluhan siswa Sekolah Menengah Atas se-(eks)-Karesidenan Kediri.

Risma Fadlilatul Iffah berkerudung coklat bersama dengan kedua orang tuanya

Risma Fadlilatul Iffah berkerudung coklat bersama dengan kedua orang tuanya

Gagasan tentang sayembara sendiri bermula dari keprihatian soal pudarnya nasionalisme dan wawasan kebangsaan, di kalangan anak muda. Jurusan AFI bersama IJIR merasa butuh menjadi bagian dari upaya menggelorakan kembali spirit kebangsaan tersebut, terutama di kalangan muda.

Sarananya adalah sayembara menulis esai dengan tema besar “Saya Remaja, Saya Indonesia, Saya Pancasila”. Puluhan siswa yang mengikuti sayembara tersebut lalu diundang dalam acara talk show dan seminar kebangsaan di IAIN Tulungagung.

Seminar dikemas dengan gaya milenial. Beruntung karena kreativitas mahasiswa AFI, acara talk show berhasil mengundang dukung komunitas Kakang dan Mbakyu Tulungagung. Mereka adalah duta anak-anak muda di Tulungagung yang aktif menyebarkan narasi-narasi kebangsaan.

Wawasan kebangsaan diulas dan disampaikan dengan bahasa milenial. Setiap siswa peserta sayembara didampingi oleh guru walinya. Seminar sekaligus menjadi sarana yang efektif untuk menularkan wawasan kebangsaan kepada sekolah-sekolah.

Baik siswa maupuan guru tampak antuasis, salah satunya karena acara tersebut merupakan puncak hajatan sayembara menulis esai. Dihelat di Aula Pusat IAIN Tulungagung pada 17 April 2018. Sesudah talk show dan Seminar, panitia segera mengumumkan siapa pemenang sayembara menulis esai.

Risma terpilih menjadi juara umum. Tulisannya berjudul “Kebangkitan Kartini-Kartini Modern: Memupuk Nasionalisme Demi Mengikis Gerakan Radikalisme” menjadi esai terbaik di antara puluhan tulisan siswa yang diseleksi oleh juri.

Ia berhak mendapatkan beasiswa kuliah di IAIN Tulungagung. Program afirmasi ini telah dirancang sejak 2016, meski baru bisa diwujudkan setahun sesudahnya. Kami, para pengelola Jurusan, telah lama memeras kepala untuk mencari berbagai terobosan yang memungkinkan Jurusan AFI lebih banyak dikenal oleh siswa-siswa sekolah menengah. Juga oleh sekolah-sekolah. Setidaknya, di kawasan eks Karesidenan Kediri. Salah satunya adalah melalui sayembara tersebut.

Pendek kata, sebagai rintisan, acara sayembara menulis esai tersebut sukses. Dan, Risma telah ditetapkan sebagai mahasiswa IAIN, bahkan ketika sekolahnya belum tamat.

***

Seingat saya, kami sudah membicarakan program sayembara esai tersebut sejak 2016. Saat itu Ketua Jurusan (Kajur) AFI adalah Dr. A. Rizqon Khamami. Saya merasa terhormat karena selalu dilibatkan dalam obrolan—resmi maupun tidak resmi, oleh Pak Kajur terkait dengan skema pengembangan Jurusan. Bagi saya, beliau adalah sahabat, senior sekaligus mentor.

Jangan ditanya soal totalitas dalam pengembangan Jurusan kecil ini. Setahu saya, beliau adalah satu dari sedikit orang yang mempertaruhkan seluruh waktu, pikiran, tenaga dan—mohon maaf, bahkan uang pribadinya demi pengembangan lembaga.

Di tangan beliau, AFI terakreditasi B ketika mahasiswanya masih bisa dihitung dengan jari. Pada 2016, kurikulum mulai dirombak, sistem mulai ditata dengan baik, dan AFI menjadi salah satu Jurusan yang secara berani mengembangkan program excellency sebagai faktor pembeda.

Dalam rumusan rencana strategis, secara jelas tertulis bahwa profil lulusan AFI adalah sarjana filsafat Islam yang memiliki keunggulan dalam kajian dan penelitian Islam Jawa. Inilah rahim yang melahirkan IJIR di kemudian hari.

Di masa-masa sulit sejak Jurusan ini berdiri pada 2011, AFI mungkin hanyalah Jurusan ‘pelengkap’ di IAIN Tulungagung. Prodi ini tidak laku. Ditawarkan ke sekolah-sekolah dan pesantren, tetap menghasilkan respon yang dingin-dingin saja. Bahkan, kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) Rp. 0 juga tidak berhasil mendongkrak angka peminat.

Dari tahun ke tahun, jumlah mahasiswa per-angkatan, hanya berkisar 5 hingga 10 orang saja. Baru pada tahun 2014, secara mengejutkan mahasiswa kami mencapai 30an, itupun akhirnya hanya tersisa 18 orang yang lulus di tahun 2017. Kebanyakan mrotol di tengah jalan karena motivasi kuliah yang hanya didorong oleh UKT nol.

Di tengah situasi serba tidak ideal itu, Pak Rizqon terus memeras kepala untuk membuat ragam terobosan demi mengangkat pamor Prodi ini.

Pada 2015, kami mulai merintis Institut Transvaluasi. Konsepnya sederhana, kami ingin punya suatu forum diskusi yang berwibawa seperti di Salihara. Mengundang kolega-kolega akademisi untuk memberikan ceramah secara periodik. Pada 2016 sesungguhnya program sayembara menulis esai untuk siswa SMA dan sederajat sudah kami rancang, akan tetapi perwujudannya baru di tahun 2018.

Semua hal kami lakukan agar bisa keluar dari situasi tidak ideal itu. Harus dicatat pula, program yang saya ceritakan, pada awalnya tidak berbasis anggaran. Tidak ada satupun kegiatan yang dirancang dalam rangka anggaran.

Program rata-rata sudah berjalan setahun, baru diusulkan anggarannya di tahun berikutnya, setelah dirasa mendapat respon dan memiliki dampak. Sayembara esai, misalnya, sudah dilakukan pada 2018, dan penganggarannya baru diusulkan pada 2019.

Lalu, dari mana sumber pendanaan semua program-program tersebut, pada awalnya? Itulah yang saya maksud dengan, pengabdian yang mempertaruhkan seluruh waktu, pikiran, tenaga, dan bahkan uang pribadi. Betapa beruntungnya saya, mendapatkan role model pengabdian pada lembaga seperti itu.

Praktis, dalam tempo tiga tahun saja, Jurusan sudah tertata sedemikian rupa. Saya sesungguhnya hanya mewarisi dan melanjutkan apa yang sudah diwariskan oleh Pak Rizqon. Salah satunya adalah cara menjemput calon mahasiswa AFI melalui program sayembara menulis esai tersebut.

***

Pertengahan April 2019, Risma datang (kembali) ke kantor IJIR. Kali ini diantar oleh kedua orang tuanya. Mereka tampak bersahaja. Saya senang sekali, bertemu dengan calon mahasiswa saya yang sejak dini memiliki sikap dan keberanian luar biasa.

Risma sesungguhnya berhak memilih Jurusan apapun di IAIN atas prestasinya. Tapi, ia secara berani memilih AFI dan bukan yang lain. Kedua orang tuanya bercerita, “setelah menimbangnya dengan matang, Risma ingin secara total belajar filsafat dan ingin menjadi peneliti.”

Itulah kalimat yang memang saya perkenalkan kepada siswa-siswa dan guru-guru, pada saat seminar kebangsaan 17 April 2019. Saya menjadi keynote speaker pada acara tersebut, dan secara leluasa memperkenalkan visi dan skema pengembangan Jurusan AFI.

Risma rupanya menyerap dan menyimpan ucapan saya itu dalam memorinya. “Kalau mau menjadi pemikir, intelektual, akademisi dan peneliti, ya kuliahnya memang harus di AFI IAIN Tulungagung,” itulah kalimat penutup saya di acara tersebut.

Tak terlukiskan betapa gembira hati saya. Pelan tapi pasti, kami mulai sukses memperkenalkan AFI sebagai Jurusan yang layak untuk dipertimbangkan, terutama oleh siswa-siswa yang memiliki mimpi dan harapan besar menjadi pemikir dan peneliti.

Betapa susahnya mengembangkan Jurusan ini karena, dalam periode yang sangat panjang kami harus menghadapi salah sangka yang serius terhadap filsafat Islam. Ada mahasiswa saya yang secara khusus diminta oleh Kiainya untuk pindah Jurusan karena kekhawatiran menjadi ‘sesat’.

Tentu pandangan tersebut hanyalah satwa-sangka. Pikiran-pikiran horor yang dengan cara entah membentuk pandangan masyarakat yang salah terhadap Jurusan ini.

Itu tantangan yang berat. Kami tidak akan berhenti memperkenalkan Aqidah dan Filsafat Islam sebagai Jurusan yang tidak kalah bergengsi. Sayembara menulis esai hanyalah satu dari banyak cara yang mulai kami tempuh untuk mengikis pikiran horor terhadap Filsafat Islam.

Tahun 2019 ini, sayembara menulis esai akan kami selenggarakan dengan cara lebih meriah dan lebih milenial.

Selamat datang Risma, selamat datang calon mahasiswa AFI yang sudah membuat pilihan berani. Selamat bergabung di komunitas pembelajar, calon intelektual, akademisi-peneliti di masa depan. []

 

Tulungagung, 15 Mei 2019

Akhol Firdaus—Plt Kajur Aqidah dan Filsafat Islam

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme