Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Jaman Edan dalam Serat Kalatidha

Hamim Mustofa [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Hamim Mustofa [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Serat Kalatidha adalah salah satu karya sastra yang ditulis Raden Ngabehi Ronggowarsito kisaran tahun 1860-an. Ranggawarsito adalah seorang pujangga ternama yang berasal dari Kasunanan Surakarta. Karya sastra ini melukiskan suatu keadaan zaman yang rusak dengan berbagai pelanggaran atas aturan dan norma yang parah dan sistematis.  Kondisi demikian, biasanya disebut dengan jaman edan.

Ada dua versi pandangan terhadap serat ini. Pandangan pertama menurut Permana dan Nurhayati (2014) mengatakan bahwa karya ini menggambarkan keadaan sosial masyarakat pada masa itu. Konon, Ronggowarsito menulis serat ini karena suatu kekecewaan, ketika pangkatnya tidak dinaikkan seperti harapannya. Penyebabnya adalah ketidakadilan, krisis yang terjadi dipelbagai aspek.  Ia kemudian menyebutnya sebagai zaman gila atau edan.

Pandangan kedua mengatakan bahwa karya ini merupakan sebuah kritik sosial profetis, yang menggambarkan akan datangnya masa sulit, suram, rusak, dan tidak menentu (jaman edan). Pada zaman itu, kondisi suatu negara kacau balau, undang-undang tidak lagi dihargai, derajat negara menjadi suram, dan rakyat semakin rakus dan loba (Santosa, 2010: 6).

Kedua pandangan tersebut intinya sama, yaitu menggambarkan suatu zaman yang gojag-gajeg, semu dan tidak menentu.

Menurut Santoso, Serat Kalatidha merupakan syair yang terdiri dari 12 bait berbentuk tembang macapat sinom. Syair ini berisi falsafah atau ajaran hidup Ronggowarsito dalam menghadapi jaman edan. Istilah tersebut diambil dari makna pupuh ketujuh serat ini, yaitu:

“Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan nora tahan, yen tan milu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wakasanipun, dilalah kersa Allah, begja-begjaning kang lali, luwih begja kang eling lan waspada”

Pupuh ketujuh Serat Kalatidha yang ditulis dalam bentuk tembang macapat, bermatra sinom tersebut sangat terkenal, karena secara jelas dan eksplisit memuat pernyataan amenangi jaman edan atau bisa dikatakan menghadapi zaman gila. Isi keseluruhan serat itu memuat tanda-tanda kekuasaan jaman edan yang serba kabur dan tidak jelas, yang kemudian hal itu mengakibatkan suramnya derajat negara.

Sebegitu hebatnya kondisi carut-marut di jaman edan, sehingga dengan kalimat bersayapnya, Ronggowarsito meletakkan hukum moral bagi masyarakat Jawa yang tertuang dalam bagian pupuh: dilalah kersa Allah, begja-begjaning kang lali, luwih begja kang eling lan waspada.

Hal itu bermakna bahwa berbahagialah bagi mereka yang senantiasa sadar dan berbakti kepada Tuhan serta waspada terhadap perilaku edan. Meskipun mereka yang lupa segala-galanya mendapatkan manisnya kekuasaan, harta, dan wanita, tetapi masih tetap lebih berbahagia bagi mereka yang senantiasa sadar, berbakti, takwa, dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, “amenangi jaman edan” seperti di atas bukanlah sesuatu yang aneh, melainkan orang Jawa itu ora gampang gumunan lan ora gampang kagetan “tidak mudah terheran-heran dan tidak mudah terkejut”. Jaman edan seperti itu sudah diantisipasi jauh hari sebelumnya, karena dalam berbagai serat dan pustaka klasik orang-orang Jawa, keadaan seperti itu telah disebut-sebut akan datang waktunya.

Di antara tanda-tanda jaman edan yang termuat dalam Serat Kalatidha sebagai berikut: Pertama, derajat suatu negara demikian merosot karena tidak adanya kewibawaan. Kedua, rusaknya pelaksanaan undang-undang. Banyak dari masyarakat yang melanggar aturan-aturan, dan dari penguasa sendiri tidak menjalankan aturan yang mereka buat. Ketiga, tidak adanya sosok yang dijadikan panutan. Para penguasa dan rakyat sama bejatnya. Mereka korupsi, rebutan kekuasaan dan merasa benar sendiri.

Keempat, banyak rakyat yang menderita dan sengsara. Kelaparan dan kemiskinan merajalela. Kehidupan amat hina dan suram. Tanda-tanda kehidupan masa depan yang samar dan tak ada kepastian.  Kelima, Di mana-mana banyak terjadi bencana, musibah, dan malapetaka yang silih berganti dan bertubi-tubi. Hal itu baik dari murkanya alam atau kelalaian manusia yang rakus dan angkara. Keenam, banyak kabar bohong, kabar angin dan tipu muslihat, hanya untuk kepentingan pribadi.

Ketujuh, banyak aparatur negara yang menanam benih kesalahan, keteledoran, dan tidak hati-hati, dan hal itu menyebabkan perkara hukum. Kedelapan, orang pandai belum tentu sukses, dan orang bodoh belum tentu sengsara (yang penting adalah berani). Yang sukses adalah orang yang cerdik dan licik, sedangkan orang jujur meski pekerja keras hidupnya sengsara. Kesembilan, banyak terjadi peristiwa aneh, ajaib dan tidak masuk akal. Banyak orang stres dan putus asa, atau tidak bernalar sehingga sulit untuk bertindak. Kemudian hal itu menjadikan masyarakat menjadi edan dan tidak waras. Rumah sakit jiwa dipenuhi dengan pasien dengan gangguan jiwa.

Semoga dengan mengungkap kembali Serat Kalatidha karya sastra pujangga Ronggowarsito, kita bisa merenungi dan meyadari betapa pentingnya sikap “eling lan waspada” dalam menghadapi jaman edan seperti saat sekarang ini. Sebahagia-bahagianya orang yang edan, masih lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme