Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Sepasaran Bayi

Miftakul Ulum Amaliyah [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II; Staf Magang IJIR []

Miftakul Ulum Amaliyah [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II; Staf Magang IJIR []

Orang Jawa mengenal sepasaran bayi sebagai salah satu bentuk penghormatan terhadap kelahiran. Hal ini karena sepasaran bayi dianggap sebagai suatu yang diwariskan turun temurun. Dalam praktiknya, terdapat beberapa ritual penting yang harus dilaksanakan. Ritual tersebut antara lain, merapalkan doa, memotong rambut, gebrok, dan makan di lémpér.

Ritual tersebut sering ditemukan dalam keluarga Jawa. Ritual pertama adalah perapalan doa. Ritual ini adalah pembacaan doa dengan mengundangan masyarakat sekitar. Selanjutnya pemotongan rambut, yaitu ritual memotong sebagian atau seluruh rambut bayi. Kemudian gebrok, yaitu kegiatan memukul tempat tidur dengan kedua tangan. Ritual terakhir adalah makan di lémpér. Ritual ini adalah makan bersama anggota keluarga yang memiliki hajat dengan lémpér sebagai wadahnya.

Saat ini, ritual-ritual seperti hal di atas banyak mengalami perubahan. Beberapa ritual bahkan dihilangkan dan diganti dengan ritual baru. Ritual yang dihilangkan termasuk gebrok dan makan di lémpér. Sebagai gantinya, shalawatan menjadi ritual yang masuk dalam pelaksanaan sepasaran. Ritual seperti ini akan selalu berubah-ubah sesuai dengan masanya.

Perubahan ritual dari masa ke masa tidak menampik kemungkinan bahwa sepasaran akan kehilangan ritual intinya, seperti halnya gebrok dan makan di lémpér. Namun di Desa Seketi, Kediri, masih mempertahankan ritual tersebut dalam tradisi sepasaran.

Di Desa Seketi, Kediri, ritual gebrok dan makan di lémpér masih dipertahankan. Hal ini dikarenakan telah menjadi ciri khas dan menjadi tradisi yang sudah mengakar kuat. Jika saja ritual ini dihilangkan, maka orang merasa kehilangan makna dan prosesi ritual dianggap tidak runtut.

Keluarga yang melaksanakan sepasaran harus melewati beberapa prosesi yang runtut. Prosesi pertama adalah merapalkan doa. Tujuan dirapalkannya doa ini adalah untuk keselamatan bayi. Umumnya, doa dilakukan oleh keluarga dan tetangga terdekat yang dipimpin  pemuka agama setempat.

Setelah acara doa selesai, tamu undangan dipersilahkan pulang. Sesuai dengan tradisi orang Jawa, tamu akan diberi berkat untuk dibawa pulang. Pemberian berkat ini sebagai wujud bersedekah kepada tetangga. Selain itu bagi pemilik hajat dipercaya akan mendapatkan berkah yang terus-menerus.

Acara selanjutnya adalah pemotongan rambut. Sebelumnya, bayi dimandikan dan didandani dengan rapi. Kemudian, bayi akan dipotong rambutnya. Pemotongan rambut dilakukan oleh anggota keluarga yang dituakan. Pemotongan rambut bisa dilakukan dengan pemangkasan bagian ujung atau keseluruhan bagian rambut.

Prosesi selanjutnya adalah gebrok. Ritual ini dilakukan sebanyak tiga kali. Gebrok dilakukan oleh orang tua bayi atau saudara yang lain. Ritual ini bertujuan agar si bayi memiliki daya tahan yang kuat, tidak mudah kejang.

Kemudian, prosesi dilanjutkan dengan makan di lémpér. Ritual ini hanya dilakukan oleh anggota keluarga saja. Pemilik hajat menyediakan makanan seperti tumpeng beralaskan lémpér dengan porsi besar seukuran banyaknya keluarga.

Lémpér yang digunakan dalam sepasaran tidak sembarangan, tetapi ia memiliki ketentuan. Wadah itu harus besar dan terbuat dari tanah liat. Nantinya, lémpér akan mampu menampung porsi besar. Lémpér juga akan dimasuki uang receh yang ditutupi daun pisang.

Uang dalam lémpér hanya boleh uang receh. Uang kertas tidak boleh diletakkan dalam lemper. Uang receh dinilai lebih banyak nilainya dibandingkan dengan uang kertas. Uang receh lebih mudah disebar dan terkesan lebih ramai. Penyebaran uang hanya dilakukan oleh pemilik hajat dan pemungutnya adalah anak-anak.

Setelah itu, barulah nasi dan lauknya diletakkan di atas uang receh yang tertutup daun pisang tersebut. Nasi dan lauk ini juga memiliki syarat. Tidak semua makanan dapat disajikan di dalamnya. Umumnya, tumpeng terdiri dari nasi kuning berbentuk gunung. Namun, dalam sepasaran bayi, nasi dibiarkan menyebar memenuhi lémpér. Sedangkan lauk akan ditata di atas nasi hingga menutupi nasi.

Tidak hanya lauk, jajanan wajib ini tidak boleh dilalaikan, iwel-iwel. Jajanan Jawa yang satu ini digadang-gadang sebagai pelesetan dari kata dalam bahasa Arab “waliwalidayya” yang berarti orang tua. Hal ini dimaksudkan agar anak dapat menghormati orang tuanya.

Setelah itu, keluarga harus menghabiskan makanan tersebut dan tidak boleh tersisa. Jika makanan masih tersisa, uang receh di bawahnya tidak boleh disebar. Hal ini dianggap membuang makanan dan membuat uang receh seakan tidak bernilai. Uang recehan hanya boleh disebar setelah makan-makan selesai dan tidak ada sisa.

Penyebaran uang adalah ritual terakhir dalam sepasaran bayi. Ritual ini membuktikan betapa masih berharganya uang receh bagi anak-anak. Keberadaan ritual ini seolah-olah menunjukan tingginya solidaritas dengan melibatkan orang tua dan anak-anak dalam perayaan tradisi sepasaran ini.

Pada dasarnya, tradisi penghormatan terhadap kelahiran ini bertujuan untuk menyambut hadirnya bayi di tengah-tengah keluarga. Tradisi ini banyak diperingati oleh berbagai daerah dengan ritual yang berbeda-beda. Namun, bagian terpentingnya adalah keinginan untuk tetap menjalankan tradisi di tengah arus modernisasi. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme