Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Kosmologi Lingga-Yoni

Yudha Ahmada Ariffakh Ruddin [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Yudha Ahmada Ariffakh Ruddin [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Lingga-Yoni merupakan sakralitas. Dalam Serat Gatoloco, sakralitas itu merupakan simbolisasi yang menceritakan sangkaning dumadi. Cerita itu diamini oleh masyarakat Jawa, sebagai bentuk apresiasi “tumbu oleh tutup” atau kesempurnaan.

Wujud kesempurnaan manusia juga didasarkan pada kedua simbol sakral tersebut. Penyebutan Lingga-Yoni dalam Serat Gatoloco adalah representasi dari alat kelamin manusia. Lingga merujuk pada alat kelamin laki-laki, dalam berbagai istilah disebut sebagai darmogandul, totok, penis, phallus. Bentuk Lingga memiliki tiga bagian utama, yaitu bagian bawah (barahma bhaga), bagian tenggah (wisnu bhaga) dan bagian atas (siva bhaga).

Sedangkan, Yoni digambarkan sebagai vagina perempuan. Kedua simbol tersebut menjadi konsep sangkaning dumadi (asal manusia). Oleh karena itu, realitas yang sakral menurut Nuwanto (2002) dibagi menjadi dua bidang: sakral merupakan wilayah supranatural, keluarbiasaan, mengesankan, penting, abadi, penuh substansi, keteraturan, kesempurnaan, rumah para leluhur dan para Dewa. Sedangkan profan adalah segala hal yang keduniawian, biasa dan penuh bayang-bayang.

Selain sakral dan profan, terdapat juga konsep hierofani yaitu, penampakan yang sakral dalam  sebuah tempat. Tempat itu menjadi pusat dunia (cosmos) adanya keteraturan. Tempat ini umumnya ditandai oleh pohon, gunung atau berbagai tempat yang dianggap axis mundi (poros dunia atau tempat berputarnya seluruh dunia).

Benang merah sakralitas ini, diyakini masyarakat Jawa berasal dari India. Secara apologia, India memiliki kuil yang disebut sebagai grha garba (rumah yang disucikan). Bentuk pembangunan kuil terinspirasi berdasarkan lukisan perempuan. Posisinya duduk menekan dua kaki (simpo), penekanan bagian Yoni yang dilukis abstrak.

Detail lukisan itu menjadi penting, sebab simbol grha garba (rumah yang disucikan) . Rupa dan tubuh gadis memang tidak tergambar, tetapi bagian Yoni amat menentukan bentuk kostruksi bangunan. Bentuk Yoni juga direpresentasikan sebagai pintu masuk kuil.

Pesan yang dibawa adalah ketika seseorang masuk kuil sama dengan masuk ke ruangan suci. Hal ini, sangkaning dumadi, secara tersirat sama artinya Lingga memasuki Yoni sebagai makna terlahirnya manusia ke dunia.

Penyatuan Lingga-Yoni sebagai cikal-bakal manusia memang tergambarkan dalam serat Gatoloco. Secara maknawi, serat ini menyatakan, ‘sangkaning dumadi’ manusia itu bukan dari Tuhan, melainkan pertemuan Lingga dengan Yoni, menyatunya tumbu oleh tutup an sich.

Filosofi tumbu oleh tutup (benda terbuka mendapat tutup), secara wadag adalah penyatuan kelamin laki-laki dan kelamin perempuan. Lingga berperankan sebagai tutup dan Yoni sesuatu yang terbuka atau wadah untuk ditutupi. Penyatuan ini bisa menjadi kesempurnaan ketika organ lain itu telah tertutupi. Hal Ini merupakan harmonisasi sekaligus cerminan ‘sangkaning dumadi’ yang dipercaya masyarakat Jawa sebagai asal manusia.

Dengan  begitu, seks disimbolkan dan dimaknai secara harfiah penyatuan Lingga-Yoni. Masyarakat Jawa tidak memaknai penyatuan kelamin sebagai  kenikmatan  sesaat.  Karena  itu,  ketika  seseorang beranggapan kotor dan merendahkan perwujudan seksualitas, mereka tidak akan mampu  mengaktualisasikan seks dengan jiwa yang bebas (bersih) sehingga muncul  rasa  bersalah.

Untuk itu, masyarakat Jawa mengenai jiwa bebas (bersih) ketika seksualitas diwujudkan tanpa rasa bersalah dan menyakiti orang lain, sehingga menjadi pengejawantahan penyatuan  Lingga-Yoni. Pada konteks pemahaman ini pernikahan dipahami sebagai pengejawantahan pencapaian spiritualitas seks dengan pengertian lebih dalam. Karena itu Lingga diasosiasikan sebagai simbol (atma) atau (roh), sedangkan Yoni adalah simbol Shakti (kekuatan dan kesadaranatma) (Paramadhyaksa, 2010 : 164).

Dalam bahasa populer, dari kalangan ‘sinkretis Islam Jawa’ sering menyebutnya, ‘asale menungso kui soko bapak lan embok’. Manusia itu berasal dari bapak dan ibu. Hal ini tidak berbeda dengan penyebutan ibu arcapada untuk ruang bumi dan ayah kaendran atau kadhewan merujuk  ruang langit. Dalam pandangan masyarakat Jawa semuanya berpasang-pasangan agar terbentuk harmoni jagat (keselarasan dunia). Termasuk kesempurnaan terjadinya asaling asal yang disebut manusia.

Karena itu sangkaning dumadi merupakan asal kejadian manusia. Maka dalam banyak aktivitas kehidupan masyarakat Jawa sering mengunakan paham Lingga-Yoni sebagai simbol pemaknaan manusia atau prilakunya.

Masyarakat Jawa, dalam pengambaran perilaku, memaknai rahim ibu sebagai guo garbo, guo sigarane bopo (filosofi tumbu oleh tutup, gua kesucian). Gua ini merupakan embrio manusia disemaikan. Di dalam janin, mereka bertapa selama sembilan bulan sebelum terlahir ke dunia. Rahim juga sebagai proses manusia dalam kesempurnaan fisik dan psikisnya. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme