Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Gugon Tuhon dan Pembentukan Pribadi

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Menjadi elegan dalam bersikap adalah prinsip orang Jawa. Konsepsi ini sangat mudah ditemukan pembenarannya dalam bingkai gugon tuhon. Melalui medium itulah, masyarakat Jawa mengajarkan prinsip-prinsip etis dalam tiap tindakan individu.

Orang Jawa memiliki banyak sekali tata nilai kepribadian, yang masih layak diterapkan hingga saat ini. Beberapa di antaranya termuat dalam gugon tuhon, seperti: aja nyangga uwang (jangan menyangga dagu dengan tangan), aja nyunggi tangan ing gulu atau  sirah, garai urip susah (jangan mengalungkan tangan di leher atau kepala), aja sedakep sak wayah-wayah (jangan sering bersedekap), aja mbondo tangan neng mburi, garai dibondo malaikat (jangan mengikat tangan di belakang).

Itulah sebagian kecil larangan di dalam masyarakat Jawa terkait aspek badani-bersikap.  Membahas etika Jawa, seringkali kita mengandaikan bahwa sebuah tuntunan moral harus memakai kalimat positif tetapi, justru masyarakat Jawa seringkali menggunakan kalimat aja atau jangan. Ini mengindikasikan bahwa orang Jawa memilih kalimat negasi yang lugas, untuk menunjukkan sesuatu perilaku benar-benar buruk, sehingga harus dijauhi.

Hasbullah Bakry (1970: 64) menjelaskan bahwa etika adalah sebuah ilmu yang menyelidiki sesuatu hal yang baik dan buruk dengan melihat tindakan manusia, sejauh dapat diketahui akal budi. Beberapa gugon tuhon di atas merupakan wilayah studi moral berkenaan dengan perbuatan buruk. Selain itu, secara kait-mengait, melalui gugon tuhon tersebut telah mengilhami orang Jawa agar berkarakter dan berperilaku sebagaimana mestinya di depan khalayak umum.

Lebih lanjut, gugon tuhon sebenarnya adalah tata pedoman, agar setiap individu mampu bersosial dengan baik. Manusia membutuhkan hubungan sosial yang baik untuk menertibkan hidupnya serta mengangkat martabatnya (Winarno Yudho dan Heri Tjandrasari, 1987: 57).  Dalam hal ini, setiap masyarakat membutuhkan pedoman  yang dinamakan norma. Melalui gugon tuhon inilah masyarakat Jawa membentuk norma di masyarakat.

Membincang norma, sama halnya membicarakan bagaimana sebuah karakter dibangun oleh suatu komunitas. Fungsinya adalah agar setiap anggotanya memiliki bekal dalam bertindak. Menariknya, inti ujaran gugon tuhon di atas, memiliki relevansinya dalam dunia sosial modern saat ini. Jika diurai satu persatu, maka kadar kesesuaian itu akan terdeteksi.

Aja sangga uwang. Menyangga dagu dengan tangan merupakan hal yang dilarang dalam praktik keseharian orang Jawa. Pelarangan tersebut secara implisit bermaksud agar orang tidak dengan mudahnya menaruh kepala. Kebiasaan menaruh dagu, kian menunjukkan bahwa seseorang berada dalam tekanan, beban sehingga nampak tidak bergairah menjalani hidup.

Aja nyunggi tangan ing gulu utawa sirah. Maksudnya adalah kita dilarang meletakkan/mengalungkan tangan ke leher atau kepala. Jika melanggarnya, masyarakat memercayai bahwa perilaku tersebut dapat mendatangkan kesulitan hingga balak. Tentu saja, perilaku tersebut menunjukkan bahwa seseorang tidak siap menjalani aktifitas. Sikap seperti itu juga menyiratkan bahwa seseorang cenderung santai atau bahkan nampak malas.

Aja sedakep sak wayah-wayah. Gugon tuhon ini menuntun kita supaya mampu bersikap bijaksana dalam bergaul. Orang Jawa menganggap bersedekap di sembarang waktu, sama halnya dengan sikap bermalas-malasan. Selain itu, juga dikaitkan dengan orang yang menyerupai majikan yang seakan-akan gemar menyuruh buruhnya. Metafora ini menyiratkan sifat kepongahan. Sebagai pribadi luhur, seharusnya orang mampu menjadi individu yang siap mengerjakan apapun dan tidak semena-mena dengan mengekpresikan diri seakan-akan menjadi mandor atas orang lain. Itulah poin utama yang ingin ditekankan masyarakat Jawa dalam bersosial.

Aja mbondo tangan neng mburi. Maksudnya adalah agar kita tidak memiliki kebiasaan menaruh kedua tangan di belakang pantat. Perilaku demikian dilarang lantaran menunjukkan kesan bahwa pelakunya dinilai seakan-akan tidak memiliki kerjaan. Hampir serupa dengan gugon tuhon sebelumnya, larangan mengikat tangan di belakang pantat diasosiasikan masyarakat sebagai bentuk kemalasan juga kesombongan.

Saking anitipatinya dengan perilaku tersebut, orang Jawa menyimbolisasikan malaikat akan mengikat tangannya jika larangan itu dilanggar. Begitulah cara orang Jawa menata moral anggota masyarakat, dengan memberitakan adanya balak bagi yang tidak mengindahkannya.

Seluruh gugon tuhon yang telah diuraikan di atas, merupakan sarana masyarakat Jawa guna membentuk karakter masyarakatnya. Tujuannya tak lain adalah pendidikan dan habituasi moral luhur pribadi Jawa. Untuk kesekian kalinya, gugon tuhon merupakan sarana ampuh bagi terlaksananya pendidikan dan pengembangan watak orang Jawa.

Tujuan utama pendidikan adalah pengembangan kepribadian dengan mendestruksi nilai-nilai buruk dan membangun nilai yang baik yang mendestruksi sikap-sikap yang buruk. Sekaligus juga mengontruksi moral yang baik dan mempertahankannya (Zaini, 2013: 5-6).

Dalam konteks Jawa, seluruh gugon tuhon perihal tata-sikap di atas, menunjukkan bahwa orang Jawa senantiasa berupaya membangun keetisan individu dalam berperilaku. Tentu sangat benar bahwa nilai-nilai moral itu masih bisa diterapkan pada generasi muda saat ini agar cermat dalam bersikap. Menerapkannya, merupakan pewujudan diri menjadi pribadi tinggi dan layak bergaul dengan kelompok sosial manapun.

Begitulah narasi Jawa mengenai moralitas, dengan bajunya gugon tuhon.  Itulah bentuk suatu masyarakat yang menata komunitasnya. Pandangan hidup tersebut, masih memiliki kesesuaian dan layak dipraktikan dalam kehidupan modern saat ini. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme