Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Etika Dan Pitutur Luhur Aksara Jawa

Aida Fitri Aswitami [] Mahasiswa IAIN Surakarta Semester VIl; Jaringan penulis Islam Jawa []

Aida Fitri Aswitami [] Mahasiswa IAIN Surakarta Semester Vl; Jaringan penulis Islam Jawa []

Kehidupan sosial yang baik diatur dalam norma sosial setempat. Misalnya saja norma sosial masyarakat Jawa yang menekankan pentingnya rasa hormat kepada orang tua. Dalam istilah jawanya dikenal dengan unggah-ungguh atau biasa kita menyebutnya dengan etika. Dalam etika Jawa, masyarakat selalu menampakan jati dirinya yang berbudi pekerti luhur.

Selain itu, dalam berkomunikasi atau bercakap-cakap masyarakat Jawa memilih bahasa Jawa yang tepat. Maksudnya disesuaikan dengan lawan bicara mereka. Apabila lawan bicara mereka orang tua maka digunakan bahasa Jawa alus (kromo atau inggil). Namun, apabila dengan teman biasa mereka menggunakan bahasa ngoko. Hal ini merupakan ciri khas masyarakat Jawa yang berbeda dengan masyarakat lainnya.

Di sisi lain manusia Jawa juga sarat dengan hal-hal mistik dan spiritual. Masyarakat Jawa sering melakukan tradisi doa atau slametan sebagai ucapan syukur kepada Sang Khalik. Hal ini untuk menjaga keharmonisan hubungan mereka dengan alam. Manusia mempercayai bahwa alam memiliki kekuatan spiritual yang wajib dihormati.

Hal inilah yang berpengaruh pada etika masyarakat Jawa dalam kehidupannya. Adanya hubungan antara dunia spiritual dan etika mereka. Hal ini terangkum dalam sebuah filosofi aksara Jawa yang tidak diketahui banyak orang. Kisah ini dimulai dari legenda Aji Saka yang begitu fenomenal. Kisah ini dipercayai sebagai asal mula munculnya aksara Jawa. Sampai pada akhirnya menjadi pitutur luhur masyarakat Jawa dalam bertindak yang menunjukkan jati diri mereka.

Aksara Jawa merupakan turunan aksara Brahmani. Aksara ini digunakan untuk penulisan bahasa Jawa, bahasa Makassar, bahasa Madura, bahasa Sunda, bahasa Bali dan bahasa Sasak. Menurut kisah, asal mula munculnya aksara Jawa berawal dari seorang pemuda sakti bernama Aji Saka yang pergi mengembara ke kerajaan Medhangkamulan. Di kerajaan inilah, ia berhadapan dengan seorang raja yang bernama Prabu Dewata Cengkar.

Sang Raja suka memakan daging manusia. Hal ini yang membuat masyarakatnya resah dan ketakutan. Inilah alasan mengapa Aji Saka pergi mengembara ke kerajaan tersebut. Dalam pengembaraanya, Aji Saka selalu ditemani oleh kedua abdi setianya yang bernama Dora dan Sembada.  Ketika Aji Saka hendak menemui Raja Dewata Cengkar, ia mengajak Dora ikut bersamanya sedangkan Sembada diperintahkan untuk menjaga keris pusaka milik Aji Saka di Pulau Majethi dan tidak boleh diberikan kepada siapapun kecuali dirinya.

Tujuan Aji Saka menemui Prabu Dewata Cengkar adalah untuk meminta sebidang tanah seluas surban yang dimilikinya. Apabila Prabu Dewata Cengkar mau menuruti keinginan Aji Saka, maka Aji Saka rela menjadi santapan Sang Prabu. Namun, yang terjadi ialah setelah surban itu digelar, surban kemuadian mengembang semakin meluas dan meluas sehingga membuat Prabu Dewata Cengkar menjauhi surban, sehingga sampai terjatuh ke jurang dan mati. Pada akhirnya Aji Saka lah yang menjadi raja di Kerajaan Medhangkamulan.

Setelah tujuannya tercapai, Dora diperintahkan Aji Saka untuk mengambil keris di pulau Majethi yang dijaga oleh Sembada. Namun, ketika Dora sampai sana, Sembada tidak mau menyerahkan keris tersebut. Sebab Aji Saka pernah mengatakan bahwa keris itu hanya boleh diambil oleh Aji Saka sendiri. Meskipun Dora sudah mengatakan bahwa itu atas perintah Aji Saka, Senbada tetap tidak mau menyerahkan kepada Dora.

Pada akhirnya mereka berperang dan mereka mati semua. Mengetahui hal tersebut Aji Saka merasa sedih kemudian ia memubuat syair yang sangat menyedihkan sekali; hanacaraka, datasawala, padhajayanya, magabathanga. Yang artinya: Ada sebuah kisah, terjadi sebuah  pertarungan, mereka sama-sama sakti, dan akhirnya semuanya mati.

Dalam arti lain aksara Jawa atau hanacaraka ini merupakan pitutur luhur atau nasehat bagi masyarakat Jawa dalam bertindak. Terdapat 20 kata yang memiliki makna tersirat yang terbagi menjadi dua huruf dari kesemuanya. Ulasan makna tersebut mengacu pada hasil wawancara yang telah dilakukan kepada salah satu masyarakat Jawa.

‘Ha’, bermakna hidup. Orang hidup atau manusia harus mengerti kewajibannya sebagai manusia. Seorang manusia dalam hidup bermasyarakat senantiasa wajib membantu tetangga yang sedang kesusahan sebagai bentuk peduli dan kasih sayang kepada mereka. Bentuk penghormatan inilah yang disebut dengan etika.

‘Na’, kata ini merujuk kembali ke ‘H’”. Wong urip kui kudu gelem nindakno kewajibane urip. Maksudnya adalah orang yang hidup itu harus mau melakukan kewajibannya sebagai makhluk hidup. ‘Ca’, maksudnya kudu cunduk lan cocok karo rasaning urip maksudnya adalah jika kita mempunyai keinginan atau kebutuhan harus cocok dengan rasa kita, jangan dipaksa karena nanti tidak akan berjalan dengan apa yang kita harapkan.

‘Ra’ bermakna kowe kudu nduwe roso rumangsa ning ojo ngrumangsani. Wong kuwi bisoo rumongso ning ojo rumongso biso. Maksudnya adalah kita sebagai manusia harus tahu diri, jangan merasa pinter dan bisa. Kalau kita punya sifat merasa bisa, itu namanya kita tidak ngrumangsani. Maksudnya kita jadi orang harus nunduk, lemah lembut, harus berpikir bahwa kita ini orang yang lemah ada yang lebih kuat ada yang lebih kuasa dan pintar.

‘Ka’ bermakna kapurbo dening gusti kang Moho Kawoso. Kapurbo ki diwengku dalam keadaan lindungan Allah. Maksudnya kita bisa ke sana dan kemari itu karena Allah yang menjalankan.

‘Da’ adalah dadio tepo tulodho, yaitu memberi contoh yang baik kepada orang-orang disekitar kita. ‘Ta’ bermakna tatanen dimentaliti dimentitis maksudnya adalah kalau kita mau melangkahkan kaki atau mau menjalankan apa saja, harus ditata pikiran kita yang teliti, supaya bisa pas dengan angan-angan atau yang kita harapkan dan sesuai dengan ajaran  agama.

‘Sa’ bermakna sugiho maksudnya orang hidup itu harus sugih atau kaya. Kaya yang dimaksud di sini adalah bukan hanya sebagai kaya harta tetapi kaya hati. Tidak masalah bila kita kaya harta namun, kaya hati itu lebih penting. ‘Wa’ bermakna wicaksono ing laku maksudnya adalah wicaksono itu kita harus waspada atau harus hati-hati. ‘La’ adalah laku maksudnya setiap kita melangkahkan kaki itu harus dipikir dulu.

‘Pa’ bermakna panasten maksudnya tidak boleh jahil dan iri. ‘Dha’ bermakna dahwen maksudnya tidak boleh seorang manusia mempunyai sifat seperti itu, merujuk pada arti panasten. ‘Ya’ bermakna yosoa atau berusaha, hidup itu harus yosoa, maksudnya kalau kita merasa makhluk hidup berusahalah. ‘Nya’ bermakna mencukupi. Lanjutan dari makna ‘Ya’ di awal tadi, setelah berusaha, maka usaha itu untuk mencukupi kebutuhannya.

‘Ma’ bermakna maharti lan manembah mring ngersane Gusti kang Moho Murah. Jadi apabila kita sudah berusaha dengan sungguh-sungguh dan mendapatkan apa yang kita inginkan, maka jangan lupa untuk maharti dan manembah. ‘Go’ adalah gayuhen maksudnya raihlah. Apa yang kita cita-citakan raihlah belajar yang sungguh-sungguh. ‘Ba’ adalah babareng sedyomulo bukonero ngersaning Gusti kang Moho Kuoso. Maksudnya kita ini awalnya tidak ada kemudian jadi ada dan akan kembali tidak ada lagi. Untuk itulah kita sebagai manusia harus selalu ingat kepada pencipta kita.

‘Tha’ adalah tenguk-tenguk maksudnya adalah jadi orang hidup itu ojo mung tengak-tenguk maksudnya jangan duduk-duduk saja. Kita dianjurkan untuk bekerja. ‘Nga’ bermakna ngrampungi kewajibane urip, maksudnya adalah jika kita sudah mempunyai hasil yang cukup maka kita bisa menyelesaikan atau memenuhi kewajiban kita dengan apa yang kita punya.

Demikianlah nasehat luhur aksara Jawa yang menjadi jati diri manusia Jawa. nasehat tersebutlah kemudian dipraktikan dalam kehidupannya. Maka pantas saja, masyarakat Jawa selalu mengedepankan nilai-nilai moral dalam lingkungan tempat tinggalnya. Pitutur luhur aksara Jawa di atas menggambarkan bagaimana masyarakat Jawa menjalani hidup yang sesuai dengan pribadi mereka. Yaitu, kehidupan yang selaras antara manusia dengan Tuhan mereka. Antara etika kepada manusia dan etika kepada Tuhan mereka. []

 

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme