Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Kesadaran Pesantren: Kiai Malati

Sulkhan Zuhdi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Sulkhan Zuhdi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Kiai itu malati. Tata pikir ini diyakini kaum santri. Segala tindak tanduk santri selalu dijaga agar tidak menyebabkan kiai merasa gelo. Jika sang kiai gelo, para santri mempercayai bahwa bisa menyebabkan mereka kuwalat.

Kepercayaan seperti itu, didasarkan pada pemikiran bahwa orang yang nyantri di pesantren meyakini bahwa ‘berkah’ dan kemanfaatan ilmu bergantung pada ridho kiai. Tujuan utama santri mondok ialah memperoleh keberkahan. Sehingga, bila seorang santri tidak berhati-hati dalam berperilaku bisa membuatnya kuwalat pada kiai alias tidak slamet.

Santri takut kuwalat terhadap kiai. Hal ini dikarenakan paradigma bahwa kiai merupakan perantara utama memperoleh ilmu. Dalam tradisi pesantren terdapat ungkapan yang menunjukkan bahwa kiai kuwi malati, seperti “ojo ngomongne kiai, mengko kuwalat” (jangan membicarakan kiai, nanti bisa kuwalat), “jangan melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh Kiyai, nanti kuwalat” dan masih banyak lainnya.

Ketakukatan kuwalat ini mengakibatkan raos (perasaan) getun atau sumelang. Menurut Suryomentaram, getun merupakan perasaan takut akibat perilaku yang telah dilakukan (Grangsang Suryomentaram, 1989: 23-24). Ia memberi contoh raos ini dalam ungkapan, “Aku biyen ajaa…” (jangan-jangan, aku dulu…), yang berisi bentuk kuwalat dan kemalangan yang tengah dirasakannya.

Sedangkan sumelang yaitu ketakutan akibat laku yang belum dilakukan. Raos ini seperti ungkapan berikut, “gek mbesuk-mbesuk kapriye, nek aku …” (Nanti bagaimana jika aku …). Kalimat ini diimbuhi ketakutan yang bisa jadi menimpanya akibat kuwalat. Keduanya mengakibatkan perasaan tidak ‘tenteram’.

Kuwalat amat dihindari santri karena, selain dipercayai bisa membuat hidup mereka tidak tenteram, juga dapat mendatangkan celaka di kemudian hari. Mereka yang menuntut ilmu di pesantren menyakini bahwa kuwalat pada kiai menyebabkan sulitnya rejeki, susahnya menemukan jodoh dan kesulitan-kesulitan lain yang dibayangkan mungkin akan terjadi (Muhammad Alif Ramdhani & Ma’arif Jama’in, 2013: 66)

Kaum sarungan amat mengidamkan raos tenteram sehingga tidak sembarangan dalam usahanya mencari ilmu. Mereka berharap bila pulang nyantri memperoleh ilmu yang bermanfaat. Sehingga untuk mencapai hal itu, penghormatan pada empunya ilmu, yaitu kiai, adalah hal paling utama. “Ilmu itu mendahului amal, sedangan adab itu mendahului ilmu”, menjadi aksioma yang massif ditemukan di banyak pesantren di tanah Jawa.

Dari pandangan itu, menjadikan pesantren memiliki cara berbeda dalam melihat sosok yang dianggap sebagai panutan. Tidak cuma memiliki pengetahuan yang luas, bagi kalangan pesantren kiai, sebagai tokoh sentral sekaligus patron bagi santri, juga harus memiliki perilaku yang luhur. Dalam tradisi pesantren, kiai selalu digambarkan sebagai sosok yang memiliki keluhuran budi sehingga ia kadang dianggap memiliki karomah.

Karomah kiai ini dipercaya dapat mendatangkan kuwalat bagi santri yang berlaku macam-macam sampai membuatnya gelo.  Ada juga yang percaya bahwa meskipun tidak diketahui kiai atau pengurus pesantren, melanggar tata tertib juga bisa mengakibatkan kuwalat. Ketakutan ini terpatri ke dalam batin mereka yang mengenyam pendidikan pesantren.

Beragam aktifititas santri di pesantren juga menunjukkan tata pikir bahwa sosok kiai itu malati. Salah satu adab di pesantren ialah berhenti sejenak dan menunduk bila kiai lewat di hadapan santri. Tidak hanya pada kiai, adab ini juga dipraktikkan kepada anak-anak kiai, dipanggil gus dan neng. Bahkan ketika ketika melewati rumah atau benda milik kiai, santri biasanya tidak berani berjalan membelakanginya.

Laku tersebut mudah sekali ditemukan basis normatifnya dalam kitab-kitab yang dikaji di pesantren, baik karya kiai Nusantara seperti Adabul Alim wal Mutaallim milik Kiai Hasyim Asyari atau kitab Ta’limul Muta’aallim karya ulama abad pertengahan, Syekh Az-Zarnudji.

Penghormatan ini bahkan juga berlaku ketika kiai sudah meninggal. Makam kiai seringkali dikeramatkan oleh santri-santrinya, bahkan oleh masyarakat umum. Biasanya makam kiai diperindah sedemikian rupa. Bangunan makamnya tidak hanya berupa gundukan tanah dengan patokan layaknya makam biasa.

Selain itu, adab santri ketika berziarah pun dijaga seperti penghormatannya semasa kiai masih hidup. Dalam kitab Ittihaf al-Adzkiya karya ulama asal Maroko Syekh Abullah bin Siddiq Al-Ghumari, tidak kurang 25 adab ziarah.

Ini menjadi landasan etik santri dalam berziarah selain juga telah menjadi tradisi yang turun-temurun dipraktikkan di kalangan pesantren guna mendidik akhlak perilaku serta spiritualitas dengan kiai atau dalam istilah khas pesantren yaitu iseh nyambung karo kiai (Abd. Aziz, 2018: 40).

Tak hanya sampai di situ saja, bahkan dalam organisasi yang kental dengan tradisi pesantren seperti Nahdlatul Ulama (NU), dasar berorganisasinya ialah upaya berkhidmah kepada para kiai. Sebaliknya, bila melakukan hal yang tidak baik terhadap NU diyakini bisa mendatangkan kuwalat. Hampir semua pengurus dari tingkat ranting hingga pengurus besar ngugemi pandangan ini.

Ini nampak dalam struktural organisasi Islam terbesar ini. Pemimpin tertinggi selalu kiai yang dianggap paling senior atau kemudian disebut rais am para pengurus tingkat pusat. Sedangkan di tingkat yang lebih rendah ada dewan syuriah. Jabatan ini dianggap lebih prestisius daripada fungsionaris lainnya.

Aksioma kiai kuwi malati menjadi bagian tak terpisahkan dalam batin santri di Jawa pada umumnya. Pandangan ini mengilhami beragam ritus maupun tata perilaku kalangan pesantren hingga sekarang. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme