Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti

Lilis Ambarwati [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam semester II; Staf Magang IJIR []

Lilis Ambarwati [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam semester II; Staf Magang IJIR []

Jawa memiliki tradisi dan budaya yang beranekaragam. Salah satunya adalah tradisi lisan berupa pitutur atau nasehat Jawa. Kata pitutur berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti pelajaran, nasihat, atau peringatan (Prawiroatmodjo, 1957: 507). Pitutur biasanya disampaikan melalui peribahasa, tembang macapat, dongeng, tutur-tinular dan lain sebagainya.

Salah satu pitutur adalah sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti. Artinya segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar (Hernanda Rizky, 2018: 328). Semua bentuk sifat angakara murka yang tertanam dalam diri manusia sesungguhnya dapat dihilangkan dengan sifat-sifat baik seperti lemah lembut tapi tegas, kasih sayang tapi tidak pilih kasih dan kebaikan. Setiap kata dalam pitutur tersebut memiliki makna tersendiri.

Suro artinya keberanian. Dalam setiap diri manusia terdapat sifat berani yang dapat bermakna positif maupun negatif. Sifat berani dapat menjadi sifat negatif ketika manusia tidak mampu mengendalikannnya, manusia akan terpengaruh dengan keberanian yang dimilikinya untuk melakukan kejahatan, kesewenang-wenangan, dan angkara murka.

Sedangkan diro artinya kekuatan. Manusia diberikan anugrah oleh Yang Maha Kuasa dengan kekuatan, baik kekuatan lahir maupun kekuatan batin. Sama halnya dengan keberanian, manusia harus mampu dan memanfaatkan dengan baik kekuatan yang ada pada dirinya, agar kelebihan  yang telah dianugerahkan padanya ini tidak sia-sia dan melahirkan angkara murka dan kejahatan.

Kemudian joyo artinya kejayaan. Kejayaan adalah hasil dari keberanian dan kekuatan. Ketika manusia sudah memiliki kejayaan, namun tidak diimbangi dengan sifat baik dalam dirinya maka manusia akan menjadi sombong, congkak, angkuh dan jauh dari nilai-nilai moral dan agama.

Selanjutnya ningrat artinya terpandang. Manusia yang terpandang sudah pasti bergelimang kenikmatan duniawi yang serba cukup atau bahkan berlebih. Baik berupa harta maupun jabatan atau gelar kebangsawanan.

Lebur artinya hancur, sirna, tunduk atau menyerah dan kalah. Bahwa setiap sifat angkara murka atau kejahatan dapat ditundukkan dan dihancurkan dengan kebaikan dan kelembutan hati. Sedangkan dening merupakan kata sambung yang artinya dengan.

Dan pangastuti artinya kasih sayang atau kebaikan. Kebaikan yang dimaksud adalah baik dalam arti manusia beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, perbuatan baik manusia dengan manusia, maupun manusia dengan alam.

Kebaikan terhadap Tuhan adalah dengan beribadah kepada-Nya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketika manusia mampu melaksanakannya dengan baik, manusia akan memperoleh rahmat dari Tuhan yang bisa dalam bentuk apapun seperti ketentraman hati dan lain sebagainya.

Sedangkan kebaikan terhadap sesama manusia mungkin sudah sering kita lihat dalam lingkungan masyarakat, seperti bagaimana masyarakat saling menghargai satu sama lain dan saling membantu. Ketika manusia melakukan hal baik terhadap orang lain, maka manusia juga akan memperoleh balasan berupa kebaikan pula.

Selanjutnya kebaikan terhadap alam adalah dengan menjaga dan melestarikan alam. Ketika manusia mampu menjaga alam dan tidak merusaknya untuk kepentingannya sendiri, maka alam akan memberikan apa yang terkandung di dalamnya kepada manusia

Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti merupakan filosofi masyarakat Jawa untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Masyarakat Jawa percaya segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar. Sesuai   dengan karakter orang Jawa yang mempunyai hati lembut dan sabar. Ketika menghadapi orang yang tamak dan keras hati, sebisa mungkin untuk selalu mengalah. Bukan berarti ia tidak tahu apa-apa tetapi karena orang Jawa biasanya menghindari perdebatan yang menyebabkan kerenggangan hubungan (Hernanda Rizky, 2018: 328).

Sampai saat ini sebagian masyarakat Jawa masih menjadikan pitutur sebagai pedoman dalam kehidupannya. Karena pitutur memiliki nilai moral keagamaan yang menjadi pegangan untuk menuju manusia yang bijaksana. Sehingga manusia senantiasa berbuat baik dan menghindari hal-hal buruk. Manusia percaya hukum sebab-akibat, jika mereka melakukan hal baik, maka mereka akan mendapatkan hasil yang baik. Dan apabila mereka melakukan hal buruk, maka hasil yang didapatkan adalah berupa keburukan pula. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme