Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Memayu Hayuning Bawana

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Memayu hayuning bawana merupakan filsafat spiritual Jawa. Ia menjadi tujuan di satu sisi, sekaligus menjadi panduan moral di sisi yang lain. Ini artinya, memayu hayuning bawana akan menjadi ruang diartikulasikannya segenap keyakinan, harapan dan kenyataan.

Sebagai keyakinan dan harapan, memayu hayuning bawana menjadi payung bagi manusia untuk mewujudkan harmoni semesta (makrokosmos). Kesadaran semacam ini sebenarnya mudah saja mendapatkan argumentasinya. Jangan lupa bahwa kesadaran masyarakat Jawa selalu menautkan dirinya (mikrokosmos) dengan semesta tempatnya mengada.

Dalam konsep yang lain, relasi mikrokosmos (diri) dengan makrokosmos (semesta) tampak dalam konsep sedulur papat lima pancer. Pada konsep ini, keempat saudara jabang bayi (diri) selalu bersanding dengan empat arah penjuru mata angin yang menjadi basis ruang dalam semesta material. Menjadi terang bahwa manusia sejak awal ke-ada-annya memang tidak terpisahkan dengan dimensi ruang makrokosmos tersebut.

Hanya sebagai pengingat, jangan lupa bahwa kakang kawah bertempat di Timur dengan aura putih mewakili unsur udara. Getih bertempat di Selatan dengan unsur api yang memancarkan sinar merah. Adhi ari-ari yang berada di Barat setempat dengan unsur air dan memancarkan sinar kuning. Adapun puser bertempat di Utara bersama unsur tanah yang memancarkan sinar hitam. Dan diri bertempat di tengah dengan memancarkan mancawarna (Hariwijaya, 2006: 44).

Dalam kesadaran kosmologis semacam ini, diri manusia benar-benar tidak bisa dipisahkan dengan jagad-ruang tempat dia mengada. Karena itu, keber-ada-an manusia di jagad ini sekaligus membawa misi profetik berupa menciptakan tatanan kehidupan yang sentosa. Inilah yang saya sebut memayu hayuning bawana sebagai tujuan seperti di atas.

Agar tujuan tersebut dapat tercapai, maka manusia tidak bisa mengabaikan dimensi spiritual. Bahkan, dimensi spiritual ini merupakan basis dasarnya. Pada konteks ini, memayu hayuning bawana hanya mungkin ditempuh dengan penghayatan mendalam pada falsafah sangkan-paraning dumadi.  

Falsafah sangkan-paraning dumadi merupakan pertanyaan ontologis manusia Jawa. Falsafah ini menyoal hal yang sangat fundamental: dari manakah manusia berasal (?) dan ke mana ia akan kembali (?). Pertanyaan ini akan menggiring manusia untuk melihat kembali kesejatian diri.

Upaya ini menurut Windoesono (1954: 15) bisa ditempuh dengan tiga tahapan, yaitu lerem (perenungan hidup), mendeng (merasakan perjalanan hidup), dan jejer (‘berdiri’ teguh dengan melihat ke depan). Tentu saja tahapan-tahapan ini mengedepankan wilayah batin. Apabila tahapan-tahapan ini dilalui, maka orang bisa sampai pada tahapan wudhar.

Wudhar seringkali diartikan sebagai terbukanya mata batin. Pada tahapan inilah orang akan mencecap suatu kesadaran bahwa tidak ada segala kecuali berasal dari Yang Esa dan tidak akan ada tempat kembali kecuali pada Yang Esa itu juga. Mempertimbangkan bahwa manusia berasal dari Yang Esa dan–dipastikan—akan kembali pada Yang Esa, maka sesungguhnya falsafah seperti ini akan mengantarkan kita pada imajinasi soal penyatuan total kembali.

Penyatuan total menyaratkan adanya dua entitas yang berbeda. Kemudian dua entitas ini bertemu dan bersatu karena unsur-unsurnya memungkinkan itu terjadi. Pada konteks manusia dan Yang Esa, apakah hal itu mungkin?

Pertanyaan di atas akan dengan mudah menggiring kita kepada suatu falsafah yang tidak habis diperdebatkan sampai kini, yaitu manunggaling kawula-Gusti. Di Jawa, rujukan literer atas falsafah atau ajaran ini biasanya merujuk pada Serat Centini maupun Serat Wirid Hidayat Jati. Sebagaimana, misalnya, diuraikan oleh Zoetmulder (1990: 248) dengan menyitir metrum tembang Dhandanggula dalam Centini III, 551-562.

Penjelasan yang paling sederhana dari manunggaling kawula-Gusti sebenarnya adalah konsekuensi logis dari falsafah sangkan-paraning dumadi. Kemanunggalan ini berawal dari asal-muasal seluruh yang ada ini mengada. Karena semua yang ada berasal dari ‘emanasi’ atau pancaran-Nya, maka semua yang ada ‘memungkinkan’ kembali pada asalnya.

Dengan menginsyafi berbagai simplifikasi, barangkali ini merupakan istilah orisinil dari orang Jawa soal monisme radikal. Secara sederhana, dapat dijelaskan bahwa pada dasarnya hakikat yang ada memang tunggal, utuh, dan penuh. Ketika Yang Tunggal ini mewujud pada berbagai entitas selain-Nya, maka harusnya tidak sulit bagi kita untuk ‘membayangkan’ semuanya bisa manunggal kembali.

Proses manunggal dengan Yang Tunggal ini memang merupakan kemungkinan. Ini artinya, kemenyatuan atau manunggaling kawula-Gusti bisa terjadi jika caranya tepat. Umumnya banyak yang berpandangan bahwa salah satu caranya adalah dengan pengendalian sedulur papat.

Pengendalian ini sebenarnya lebih merujuk pada pengendalian terhadap nafsu yang juga direpresentasikan oleh sedulur papat. Nafsu yang terkendali akan mengantarkan manusia pada hakikat dirinya. Melalui pengenalan atas hakikat diri inilah pintu gerbang untuk pengenalan terhadap Yang Tunggal terbuka. Dan inilah jalan menuju manunggaling kawula-Gusti.

Seluruh uraian di atas sebenarnya merupakan upaya yang didominasi oleh laku rasa cum spiritual menuju pengejawentahan falsafah memayu hayuning bawana. Dan sekali lagi, spiritualis memang menjadi basis dalam kesadaran semacam ini. Namun jangan lupa bahwa bagi masyarakat Jawa yang spiritual juga menjadi basis dari yang profan.

Saya ingin mengatakan bahwa pengejawentahan memayu hayuning bawana juga mewujud dalam dunia material yang (tampak) profan. Bahkan bisa dibilang bentuk harmoni kosmos secara umum akan lebih mudah dilihat pada fakta-fakta material seperti ini. Hal ini dikarenakan fakta material didominasi oleh laku raga dengan tetap menjadikan spiritualitas sebagai basisnya.

Upaya memastikan tercapainya memayu hayuning bawana dalam laku ragawi dapat dilihat dalam konteks manusia dalam relasi. Setidaknya, ada tiga bentuk laku yang selalu perlu diperhatikan oleh manusia. Laku tersebut adalah manusia dalam relasinya dengan Yang Tunggal, manusia dengan manusia, dan terakhir manusia dengan alam. Inilah yang oleh Danandjaja disebut dengan budi luhur (1971: 5).

Pertama soal relasi manusia dengan Yang Tunggal diwujudkan dengan laku manembah. Manembah adalah penghambaan total tanpa tapi. Kepada Yang Tunggal memang tidak ada kompromi, hanya penghambaan sepenuhnya. Bahkan sebenarnya, laku manembah juga menjadi bagian tak terpisahkan dari seluruh laku rasa di atas.

Budi luhur kedua adalah soal cara manusia berelasi dengan sesama manusia. Pada konteks ini sebenarnya banyak sekali tata aturan yang tertulis maupaun yang tidak tertulis. Dan tugas manusia hanyalah menaati tata aturan tersebut. Manusia tidak diperkenankan mengedepankan egonya demi menuruti nafsu sendiri. Yang demikian ini tidak akan bisa mewujudkan suatu tatanan kehidupan sosial yang sentosa.

Adapun budi luhur yang terakhir adalah cara manusia berelasi dengan alam. Manusia sebagai salah satu manifestasi Yang Tunggal di bumi harus bisa menjaga dan melestarikan alam. Alam ada tidak untuk dirusak, namun untuk dijaga sebagai sebuah komitmen hidup bersama.

Akhirnya, memayu hayuning bawana akan terwujud dalam keselarasan semesta (jagad cilik dan jagad gedhe) dengan dua langkah tadi. Dengan pondasi spiritualitas, langkah pertamanya adalah laku rasa. Masih dengan pondasi yang sama, langkah keduanya adalah laku raga. Dan laku inilah yang sebenarnya harus ditempuh oleh setiap orang agar tercipta harmoni cosmos, bukan sebaliknya, situasi chaos. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme