Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Tembang Macapat Sebagai Media Dakwah

Yudha Ahmada AF [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Yudha Ahmada AF [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Macapat adalah suara kehidupan. Ia merupakan perjalanan serta tata cara orang Jawa dalam memaknai laju kehidupannya. Karya itu adalah warisan para bhujangga yang kemudian tetap dihidupkan oleh para wali sebagai media dakwahnya. Dengan begitu, ia adalah sastra tentang kehidupan yang  yang masih  layak dihayati hingga saat ini, karena ia adalah metafora denyut perjalanan manusia.

Poedjasoebroto (1978: 194-207) mendefinisikan tembang Macapat sebagai wawasan atau dakwah kehidupan. Menarik arti kata tembang, yaitu karangan bunga yang harum, dan Macapat terdiri dari suku kata ma, ca dan pat. Dalam ilmu jarwadhosok (otak-atik) suku kata itu menjadi iman, panca dan pathokan. Artinya rukun Iman dan Islam sebagai pedoman kehidupan. Sehingga dakwah Walisanga yang mengunakan tembang Macapat selalu identik seperti menabur bunga yang harum, yang meniadakan kemungkaran.

Selanjutnya (Setiawan, 2010) menyatakan tembang Macapat merupakan karya bhujangga Jawa klasik yang kemudian dihidupkan kembali pada era Walisanga. Mereka mengunakan tembang Macapat sebagai sarana dakwah, mengenalkan Islam di tanah Jawa. Ada beberapa tokoh yang terkenal sering menggunakan tembang sebagai media dakwahnya di antaranya: Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat dan Sunan Kudus.

Selain itu, Sunan Giri juga termasuk wali yang berdakwah dengan cara serupa dan menggubah tembang Macapat Asmaradana dan Pucung (Salam, 1960: 2). Selain itu, tembang Macapat Sinom dan Kinanthi juga merupakan karya adiluhung Sunan Muria. Hal ini disetujui oleh (Hasyim, 1974: 34-35). Ia juga menambahkan bahwa tembang Macapat Mijil dibuat oleh Sunan Kudus, Dhandhanggula oleh Sunan Kalijaga, Durma oleh Sunan Bonang, Maskumambang oleh Sunan Kudus, Pangkur oleh Sunan Drajat, sedangkan Gambuh dan Megatruh merupakan kreasi para bhujanga Jawa terdahulu.

Selanjutnya menurut Poedjasoebroto (1978: 194-207), Pocung dan Mijil diciptaan Sunan Gunung Jati, Megatruh, Gambuh, dan Kinanthi diinovasi oleh Sunan Giri. Adapun tembang Maskumambang diciptaan orang saleh bernama Majagung.

Para wali menginterpretasikan tembang-tembang Macapat sebagaimana berikut. Diawali dari Mijil. Tembang ini mencerminkan proses kelahiran manusia. Walisanga menggambarkan Mijil sebagai dimensi ‘ruang dan waktu’ yang memiliki beberapa faktor: 1) waktu yang sesuai, yaitu mengingatkan akan kedisiplinan waktu antara bekerja dan beribadah, keduanya harus memiliki keseimbangan; 2) tempat (empan-papan), artinya melihat kondisi tempat yang baik untuk mengaji; 3) keadaan, yaitu melihat siapa dan kepada siapa kita mengaji. Sehingga terbentuklah metode dakwah yang baik. Hal ini seperti yang diajarkan oleh Sunan Gunung Jati dari Cirebon.

Pangkur serapan dari kata nyimpang dan mungkur yang berarti petuah serta pengingat-ingat agar kita tetap waspada agar jangan sampai menyimpang dari ajaran al-Quran dan Hadis sebagai pedoman hidup. Lalu, kita harus mulai juga menata diri menjauhi dan meninggalkan segala bentuk kemungkaran. Tembang tersebut dipopulerkan oleh Sunan Muria yang terkenal alaim dan memegang teguh ajaran al-Qur’an dan Hadis.

Kinanthi adalah masa pembentukan jati diri untuk mengapai cita-cita. Kinanthi berasal dari kata kanthi diberi sisipan in menjadi ‘kinanthi’. Artinya dikanthi, digandheng atau ditemani. Seperti halnya orang yang masih ‘buta’ dari petunjuk Allah, ia harus dituntun untuk mengetahui hakikat Allah; njowone mamayu hayuning bawana. Dalam hal ini manusia harus berteman baik dengan seluruh mahluk hidup, tidak bermusuhan dan memiliki ketentraman hati, barulah akan mengerti hakikat Allah. Tembang ini digunakan oleh Sunan Giri,

Dhandhanggula adalah kemapanan sosial; kesejahteraan, tercukupi sandang, papan dan pangan. Dhandhanggula berasal dari kata dhandhang dan gula, berartikan pengharapan akan yang manis. Hidup itu jangan dibuat rumit, buatlah enak dan menyenangkan, membawa sebuah harapan untuk menuju keahagiaan. Tembang ini sering dilantunkan oleh Sunan Kalijaga.

Sinom adalah masa yang indah penuh harapan kebajikan. Masyarakat Jawa mengambarkannya sebagai daun muda (pupus) dari pohon asam, atau rambut halus yang berada di atas dahi. Tembang ini mengambarkan orang yang baru masuk Islam. Sebagaimana manusia muda yang masih berfisat positif, karena kondisi masih bersih lahir dan batin. Wali yang mengunakan tembang ini sebagai media dakwah ialah Sunan Giri.

Asmarandana adalah masa dirundung asmara. Asmarandana serapan dari kata asmara, dana (cinta) dan suka memberi (loman). Tembang ini mengharapkan manusia yang loman (suka memberi) bisa menolong sesama mahluk hidup tanpa rasa takabur. Seperti halnya cinta kasih Allah yang telah memberikan segala berkahnya kepada manusia, tanpa meminta imbalan. Sehingga manusia sebagai pengejawantahan-Nya haruslah bisa mencontoh zat Rahman dan Rahim tersebut. Sunan Giri sebagai pelopor tembang ini.

Megatruh adalah tahapan di mana ruh  terlepas dari jasad. Keterlepasan ini bisa disebabkan oleh berbagai macam. Tetapi, secara garis besar, masyarakat Jawa mengasosiasikannya dengan sangkan-paraning dumadi. Periode ini menggambarkan kembalinya roh suci ke roh Agung. Manifestasi sangkan-paraning dumadi itu dimulai dari melepaskan ketergantungan dari jasad yang bersifat keduniawian. Ajaran ini dibawakan oleh Sunan Giri.

Durma adalah darma (perilaku kebajikan). Karena setiap manusia memiliki sifat kebajikan. Sunan Bonang dalam dakwahnya mengunakan tembang Durma yang dibagi menjadi dua; Dur dan Ma. Dur memiliki artian ‘mundur’ dan Ma adalah ‘lima’ perkara, yaitu: madon (berzina), minum (mabuk), madat (narkoba), main (judi) dan,  maling (mencuri). Sehingga ketika manusia sudah bisa menjauhi M-lima ini, ia akan meraih kemenangan (baboning kemenangan atau Bonang).

Maskumambang adalah emas segantang. Hal ini merupakan kesungguhan hati dalam pengabdian. Seperti dalam keluarga, seorang anak diharapkan bisa menjadi sosok yang membanggakan bangsa dan negara. Sama halnya dengan Sunan Majagung, Maskumambang berarti emas yang terapung. Emas wujud dari sebuah keberhasilan dalam mewujudkan kebaikan, dan meniadakan kemungkaran. Sunan Majagung mempraktikkannya dengan beribadah sungguh-sungguh kepada Allah supaya bisa mendapatkan emas di akhirat kelak.

Pucung adalah gambaran dari fase kematian manusia. Kata Pucung diadaptasi dari kata pocong, artinya mayat yang dibungkus kain mori. Masyarakat Jawa menamainya sebagai bentuk puenak, yaitu seseorang sudah mencapai puncak kehidupan atau sudah habis perannya di dunia. Pemilihan kain mori juga mengandaikan kesempurnaan hidup dunia dan akhirat. Karena manusia yang meninggal ia sudah mencapai kesempurnaan (kebahagiaan) tidak memikirkan dunia yang fana. Tembang ini dipopulerkan oleh Sunan Gunung Jati.

Gambuh artinya jumbuh (bersatu). Tembang ini memiliki komitmen untuk menyatukan cinta keluarga, sosial dan alam. Hal ini merujuk pada kehidupan manusia yang tidak terlepas dari ketiga unsur tersebut. Seperti halnya Pangkur, tembang ini mengajarkan manusia agar senantiasa melakukan hal positif dalam setiap prilakunya.

Penjelasan di atas menggambarkan epistemologi kehidupan orang Jawa. Pengetahuan tentang Tuhan dan kehidupan direalisasikan melalui metode dakwah berupa tembang Macapat oleh Walisanga. Dengan demikian, tembang Macapat adalah falsafah nilai yang dibungkus dengan wawasan estetika orang Jawa. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme