Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Mulat Sarira Sang Kramadangsa

Aida Fitri Aswitami [] Mahasiswa IAIN Surakarta Semester VIl; Jaringan penulis Islam Jawa []

Aida Fitri Aswitami [] Mahasiswa IAIN Surakarta Semester VIl; Jaringan penulis Islam Jawa []

Mulat sarira merupakan istilah Jawa yang digunakan untuk mengungkapkan gerak hidup manusia untuk mawas diri pada tataran psikologis sampai pada religius etis.

Gerak hidup manusia didasari oleh rasa hidup. Rasa hidup inilah yang memengaruhi gejolak jiwa manusia. Setiap jiwa memiliki rasa untuk mempertahankan hidup dan eksistensi hidup. Selanjutnya, mawas diri berkiprah mengelola dua rasa. Rasa bahagia dan rasa susah.

Meneliti rasa sendiri adalah kegiatan mawas diri. Hal ini berguna demi terbebasnya diri dari perbudakan rasa. Kegiatan mawas diri ini dilakukan dengan menghadirkan catatan diri. Catatan diri didapatkan dari gerak hidup yang dilakukan diri. Apabila gerak hidup dilakukan dengan rasa bahagia, catatan hidup cenderung menebal. Sebaliknya, apabila gerak hidup dilakukan dengan rasa susah, catatan hidup cenderung samar.

Inilah yang menjadi masalah karena catatan hiduplah yang menjadi bahan mulat sarira. Meskipun ada yang lebih tebal maupun tipis catatannya, mulat sarira mesti harus menyaring halus catatan hidup. Hasil dari mulat sarira inilah yang kemudian menjadi bekal dalam gerak hidup bersama kramadangsa.

Konsep mulat sarira ini tidak lepas dari sang kramadangsa. Keduanya saling melengkapi. Mulat sarira sebagai tiang sang kramadangsa dan sang kramadangsa ada supaya mulat sarira tidak tersesat dalam mawas diri.

Mulat sarira menjadi solusi bagi kemunculan sang kramadangsa. Bukan berarti kehadiran sang kramadangsa adalah suatu kesalahan. Melainkan apabila sang kramadangsa tidak dikendalikan maka akan menyebabkan diri dikuasai oleh nafsu. Sang kramadangsa adalah bagian jiwa Jawa, yang senantiasa merajai hidup manusia (Endraswara, 2012).

Kramadangsa adalah rasa aku. Daya ke-aku-an yang dimiliki kramadangsa amatlah besar. Ia hidup pada setiap rasa hidup atau jiwa manusia. Sang kramadangsa ini dapat disebut juga sebagai raja gerak diri. Sebab, sang kramadangsa yang merajai setiap gerak manusia (diri) dan bersifat individualisme. Kramadangsa hadir sebagai bentuk pengungkapan eksistentensi diri. Seperti ungkapan “Ini milikku” atau “itu kekasihku” dan lain-lain.

Kata “ku” inilah yang dimaksud dengan kramadangsa, daya ke-aku-an yang sifatnya individualisme. Pada mulanya istilah kramadangsa ini diambil dari sebuah buku bahan ceramah Ki Ageng dan Ki Pronowidigdo di Yayasan Hidup Bahagia di Jakarta pada tahun 1959 (Endraswara, 2012). Menurutnya, kramadangsa hanyalah sekedar nama yang digunakan untuk mengungkap rasa pribadi yang identik dengan namanya sendiri. Rasa pribadi inilah yang berpengaruh pada kapasitas ego diri. Seberapa baik ego manusia, menunjukkan seberapa baik pula diri dalam menekan sang kramadangsa.

Berkaitan dengan ego, maka senada dengan pembagian jiwa madzhab psikoanalisis yang dibawa oleh Sigmund Freud. Apabila kramadangsa telah liar, keluar kendali dan hanya dipengaruhi oleh nafsu maka disebut dengan id. Freud menyamakan id dengan libido. Dalam kancah sosial, libido ini tidak dapat tersalurkan dengan baik karena terdapat sistem nilai dalam masyarakat.

Sistem nilai inilah yang disebut dengan superego. Oleh sebab itu, manusia harus dapat mengendalikan antara id dan superego, yaitu dengan cara memiliki ego yang baik. Ego yang baik inilah yang kemudian dapat menekan kehadiran sang kramadangsa. Hal ini sudah menjadi kewajiban yang mesti dituntaskan orang Jawa. Sebab, hakikat dari kramadangsa hanya akan membawa jiwa pada keinginan-keinginan maupun kenikmatan-kenimatan sesaat. Padahal keinginan maupun kenikmatan yang dicari sejatinya tidak akan pernah dirasakannya.

Apabila sudah merasakan nikmat, itu hanyalah kenikmatan semu. Kenikmatan itu akan lenyap, yang ada hanyalah sang kramadangsa akan terus menerus mengejar kenikmatan itu tanpa mendapatkan kenikmatan sejati. Karena sebenarnya, yang ingin kekal adalah sang kramadangsa itu sendiri.

Hal inilah yang diwaspadai orang Jawa. Apabila orang Jawa sudah dapat menaklukan sang kramadangsa, maka orang Jawa akan lebih sumeleh. Artinya, orang Jawa tidak menginginkan yang macam-macam dan sesuatu yang berlebihan. Penaklukan sang kramadangsa ini bukan berarti akan membunuh sang kramadangsa, tetapi hanya untuk menekan pengaruh sang kramadangsa dalam diri.

Setiap jiwa pasti memiliki kramadangsa, dan tak akan pernah mati selama jiwa ada. Maka dari itu, jiwa pula yang harus mampu ber-mulat sarira untuk menyambut sang kramadangsa.

Lebih lanjut, Ki Ageng Suryomentaram membagi perkembangan jiwa Jawa menjadi empat ukuran. Pertama, tumbuh-tumbuhan, kedua hewan, ketiga manusia dan yang keempat manusia tanpa ciri. Ukuran ini digambarkan Ki Ageng melalui perkembangan manusia sejak bayi sampai dewasa.

Pada ukuran pertama, seorang bayi sudah dapat merasa tetapi bayi tidak dapat melakukan apa yang dirasa. Sebagai contoh, bayi merasa haus dan ingin minum, namun bayi tersebut belum bisa mengambil minum sendiri karena keterbatasan fisik yang masih lemah. Bayi hanya bisa menangis sebagai bentuk ekspresi jiwanya yang merasa haus.

Pada ukuran kedua seorang anak sudah dapat merasa namun, dalam melakukan apa yang dirasa tidak sesuai dengan hukum kenyataan di luarnya karena ketidaktahuan sang anak. Sebagai contoh seorang anak dapat merasakan panasnya api, namun karena ketidaktahuannya ia mendekati seorang ibu yang sedang memasak di dekat kompor dan mencoba memegang jilatan api kecil di kompor tersebut. Apabila tangannya sudah menyentuh jilatan api tersebut, barulah si anak akan merasakan panas. Sampai sini, teranglah bahwa proses belajar manusia sebagian besar didapatkan dari pengalaman-pengalamannya. Kemudian pengalaman-pengalaman ini yang akan menjadi catatan hidup bagi diri.

Selanjutnya, ukuran ketiga yaitu pada orang dewasa, ia sudah bisa merasa dan dapat melakukan apa yang dirasa sesuai dengan hukum kenyataan di luarnya. Sebagai contoh, ia merasa lapar dan haus, maka sudah seharusnya ia mencari makan dan minum untuk memenuhi kebutuhannya. Di sisi lain, orang dewasa merasa ingin mengenakan pakaian yang indah-indah, ia berusaha mencapai keinginannya tersebut meski hal itu tidak terlalu penting baginya.

Pada ukuran ketiga inilah sebenarnya sang kramadangsa mulai aktif. Keaktifan sang kramadangsa pada ukuran ketiga pun memunculkan jiwa mulat sarira, yakni usaha jiwa untuk mawas diri supaya tidak terjebak oleh gejolak sang kramadangsa. Keseimbangan antara keaktifan mulat sarira dengan sang kramadangsa berguna agar manusia tidak diperbudak oleh rasa hidup (bahagia dan susah), namun sebaliknya, agar manusia dapat bebas dari rasa hidup.

Kebebasan dari rasa hidup inilah yang kemudian membawa pada ukuran keempat yakni manusia tanpa ciri (tenger) yaitu manusia yang bebas dari keinginan-keinginan (kramadangsa). Ukuran keempat inilah tingkatan yang paling tinggi dalam perkembangan jiwa Jawa karena tidak semua manusia mampu melewati tiga ukuran di atas.

Manusia setidaknya memiliki benteng yang kuat untuk sampai pada ukuran keempat. Mulat sarira adalah jalan bagi terciptanya kebebasan rasa hidup. Membuat jiwa merdeka dengan mawas diri.

Mawas diri sebenarnya tidak dapat dilakukan dengan mudah, sebab kesalahan dalam meneliti rasa diri dapat mengakibatkan penghukuman atas diri sendiri. Kerumitan proses mawas diri dengan cermin orang lain yakni dengan cara ‘tepa sarira’, menggoda orang untuk mencari rasa sama dengan orang lain secara ‘nandhing sarira’ dan ‘ngukur sarira’, sehingga tujuan dari mawas diri itu sendiri pada peralihan ukuran ketiga ke ukuran keempat, membuka dimensi religius yang menggoda untuk dilanjutkan dalam proses yang oleh Bratakesawa disebut sebagai mulat  sarira yang mengacu pada Jumbuhing Kawula-Gusti (Darminta, 1980).

Hubungan antara mulat sarira dan gejolak sang kramadangsa bersifat simbiosis mutualisme. Artinya tanpa ilmu jiwa sang kramadangsa, manusia akan tersesat dalam mawas diri dan tanpa mawas diri, sang kramadangsa akan liar. Meskipun jiwa (kramadangsa) tak kasat mata tetapi jiwa dapat dirasakan kehadirannya.

Jiwa adalah rasa. Rasa yang mendorong manusia melakukan apa saja. Rasa itulah wujud jiwa bahwa kehidupan itu ada.[]

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme