Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Gugon Tuhon tentang Dalu

Robiatul Adawiyah [] Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Robiatul Adawiyah [] Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Masyarakat Jawa banyak memiliki gugon tuhon yang berkaitan dengan dalu. Salah satu contohnya yaitu dalu–dalu aja nyapu, mundhak kemalingan entek–entekan. Gugon tuhon yang menjelaskan tentag dalu ini merupakan larangan implisit bagi perempuan Jawa menyapu di malam hari.

Kata dalu sendiri dalam bahasa Indonesia memiliki arti malam hari. Masyarakat Jawa meyakini adanya hal buruk yang akan terjadi jika waktu dalu tersebut tidak digunakan untuk menjalani aktivitas yang selazimnya. Malam hari memang selazimnya digunakan untuk beristirahat.

Istilah gugon, gugonan, gugon–gugonen berarti sifat mempercayai sesuatu yang diajarkan secara turun-temurun. Sedangkan tuhon jmemiliki arti sifat yang mudah menaati sesuatu, sesuai dengan adat tradisi yang dipercaya oleh masyarakat. Gugon tuhon berarti ucapan yang dianggap mempunyai kekuatan (Padmosoektjo, 2009: 167).

Gugon tuhon hingga saat masih menjadi fenomena yang menarik bagi kehidupan masyarakat Jawa. Karena, terkadang gugon tuhon meyakini adanya hal mistis dan dipercaya secara kolektif, meskipun dalam bentuk larangan, pantangan dan nasehat irrasional.

Gugon tuhon berasal dari leluhur atau nenek moyang yang menjadi generasi pertama yang bermukim di daerah. Leluhur yang bermukim di tempat tersebut pernah mengalami kejadian pada saat melakukan suatu hal. Oleh karena itu, leluhur yang mengalami kejadian tersebut membuat larangan untuk memastikan agar anak cucu dan keturunannya tidak mendapatkan kejadian yang sama.

Ada beberapa gugon tuhon yang bersangkut paut dengan dalu. Contoh pertama, “cah wadon aja dolan dalu-dalu, ora ilok. ”Anak perempuan tidak boleh keluar malam, tidak baik”. Karena masyarakat Jawa beranggapan hal itu berbahaya. Gugon tuhon seperti ini tidak harus disertai alasan rasional, misalnya, larangan itu dikaitkan dengan tidak ada lampu ataupun listrik pada masa dulu. Tidak ada alasan atau penjelasan seperti itu, yang pasti masyarakat meyakini bahwa keluar malam tidak baik buat anak-anak gadis atau perempuan secara umum.

Contoh kedua, “lak dalu aja turu nak ndisore wiwitan, mandhak kerasukan dedemit”. Kalau sudah malam jangan tidur di bawah pohon, kalau tidak akan kerasukan dedemit. Istilah dedemit adalah istilah umum untuk menyebut makhluk halus. Baru belakangan karena adanya penjelasan ilmu pengetahuan, orang bisa paham bahwa sebenarnya gugon tuhon ini berisi larangan tidur di bawah pohon saat malam hari karena itu tidak baik untuk kesehatan. Bila karbondioksida terhirup dan masuk ke dalam tubuh hingga bercampur dengan darah maka, akan berakibat menggagu kesehatan tubuh. Contohnya terkena penyakit paru-paru basah.

Contoh ketiga, “aja turu dalu–dalu, mandhak diparani genderuwo”. Jangan tidur terlalu malam, kalau tidak akan didatangi genderuwo. Istilah genderuwo adalah mitos masyarakat Jawa tenang sejenis bangsa jin atau makhluk halus.  Ia berwujud manusia mirip kera dengan tubuh yang besar dan kekar dengan kulit hitam kemerahan. Tubuhnya ditutupi rambut tebal yang tumbuh disekujur tubuhnya. Sebenarnya dalam gugon tuhon ini yang dimaksudkan adalah tidur terlalu malam itu tidak baik bagi kesehatan, ditakutkan besoknya akan telat saat bangun atau bisa jadi dipandang buruk oleh tetangga.

Contoh keempat, “dalu–dalu aja nyapu, mundhak kemalingan entek–entekan”. Malam–malam jangan menyapu, Jika tidak akan terjadi kemalingan habis–habisan. Yang dimaksud adalah pada malam hari debu yang disapu tidak akan kelihatan, debu tersebut akan kemana–mana. Selain menggangu pernafasan dan kesehatan tubuh, alasan lain yang menjadi nasihat adalah saat menyapu di malam hari  ditakutkan terjadinya keteledoran saat selesai menyapu, bisa saja kita lupa mengunci pintu kembali dan mempermudah maling untuk masuk kedalam rumah.

Contoh kelima, “yen wes dalu, klambi bayi kudu dilebokne, mundhak bayine nangis”. Ketika sudah malam, baju–baju bayi yang ada di jemuran luar rumah harus segera dimasukkan, kalau tidak dimasukkan maka bayinya akan rewel atau menangis”. Hal ini dikarenakan jika baju–baju bayi tidak segera dimasukkan ke dalam rumah saat malam hari, maka baju tersebut akan terkena embun yang dapat merasuk ked alam baju mereka hingga keesokan harinya. Jika hal tersebut terjadi, bayi tersebut bisa terkena masuk angin karena keadaan baju yang setengah kering akibat terkena embun tersebut.

Orang Jawa sering membungkus nilai–nilai dengan pesan yang mudah diingat. Gugon tuhon yang ada seringkali dianggap sebagai tahayul karena tidak disertai dengan penjelasan yang logis. Gugon tuhon sering juga berisi nilai yang perlu dijunjung tinggi meski kadang tidak logis. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme