Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Kitab Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah dan Marwah Ulama Nusantara

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Untuk menjadi seorang muslim yang baik, seseorang tidak perlu menanggalkan kecintaannya terhadap tanah air. Inilah salah satu pesan yang hendak disampaikan oleh kitab Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah karya Syekh Muhammad Mukhtar Al-Jawiy.

Syekh Mukhtar adalah ulama asli Indonesia kelahiran Bogor, Kamis 14 Sya’ban 1278 H, bertepatan dengan 14 Februari 1862 M (Aizid, 2016: 320).  Nama kecil beliau adalah Raden Muhammad Mukhtar bin Raden ‘Atharid. Ayah beliau, Raden Aria Natanegara atau lebih dikenal dengan Kiai ‘Atharid, adalah putra Raden Wira Tanu Datar VI.

Pendidikan awal Syekh Mukhtar diperoleh dari ayahnya dan ulama lain di kampungnya. Baru pada tahun 1299 M, Syekh Mukhtar merantau ke tanah Betawi untuk berguru para ulama’ di sana. Salah satu gurunya di Betawi adalah al-Allamah al-Habib Utsman bin Aqil bin Yahya, seorang mufti Betawi.

Sesudah itu, ia menunaikan ibadah haji, kemudian bermukim di Hijaz untuk ngagsu kaweruh. Selain dikenal sebagai pribadi yang cerdas, sopan sewaktu di Mekah, Syekh Mukhtar juga mempunyai rekam jejak dan karir keilmuan yang cemerlang. Tak mengherankan jika pada akhirnya ia menjadi salah satu pengajar di Masjidil Haram, selama hampir 30 tahun lamanya (1903-1930).

Lama bermukim di Mekah, bukan berarti Syekh ‘Atharid melupakan Nusantara. Kecintaannya kepada Nusantara, tergambar dalam beberapa kitab yang ia tulis, salah satunya adalah kitab ‘Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah atau disebut juga ‘Kitab Al-Belut’.

Deskripsi Kitab

Kitab Aṣ-Ṣawā’īq Al-Muḥriqah memiliki judul lengkap ‘Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah lil Auhām Al-Kāẓibah fī Bayāni Ḥilli Al-Balūt wa Ar-Radd ‘Alā Man Ḥarramahu’. Dalam sebuah artikel di Jurnal Pegon, Ginanjar Sya’ban menyatakan bahwa kitab tersebut diterbitkan pertama kali oleh percetakan Maktabah At-Taraqqiy, Mekkah, pada tahun 1912 M (Sya’ban, 2018: 54).

Sayangnya, informasi tersebut tidak terekam dalam kitab Nathr al-Jauhar wa Ad-Durar. Dalam kitab yang membahas biografi ulama abad 14 Hijriyah tersebut, Yusuf Al-Mar’asyi hanya menyebutkan tiga kitab karya Syekh Mukhtar. Ketiga kitab tersebut adalah  Ittiāf As-Sāddah Al-Muhaddithīn bi Musalsalāt al-Ḥadīth al-Arba’īn; Jam’u Syawārid min Marwiyāt Ibn ‘Atharid, dan; Taqrīb Al-Maqṣad fī Istikhrāj al-Auqāt bi ar-Runu’ al-Mujīb. (Al-Mar’asyi, 2006: 1475).

Namun, tulisan ini tidak merujuk pada kitab terbitan Mekah tersebut, melainkan merujuk pada hasil tulisan tangan KH. Maftuh bin Basthul Birri. Naskah versi ini diterbitakan oleh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada tahun 1987 M. Naskah ditulis dengan ketebalan 17 halaman terdiri dari: 1 halamn sampul depan, 1 halaman sampul dalam, 1 halaman daftar isi, 13 halaman isi dan 1 halaman terakhir yang berisi daftar kitab-kitab yang diterbitkan oleh Lirboyo.

Pada bagian atas sampul kitab tertera sebuah judul lengkap kitab tersebut, ‘Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah lil Auhām Al-Kāẓibah fī Bayāni Ḥilli Al-Balūt wa Ar-Radd ‘Alā Man Ḥarramahu’. Baris berikutnya berisi nama pengarang, yaitu Muhammad Mukhtar bin ‘Atharid, disertai dengan gelar Al-Jawi di belakangnya. Pada bagian tengah tertera nama lain kitab tersebut, yaitu ‘Kitāb Al-Belūt’ disertai dengan anak judul berupa penjelasan kata ‘Al-Belut’.

Redaksi anak judul tersebut adalah ‘nau’un min as-samak ṭhawīl mithla al-hayyat lakinnahu amlasu lā qushra lahu, launhu aṣfarun, yaskunu fī aṭrāf al-anhār fi hujrin mamlu’in mā’in’. Kirang lebih artinya adala: ‘Sejenis ikan panjang seperti ular, tetapi lebih halus dan tidak memiliki sisik. Warnanya kuning, tinggal di pinggir sungai dan wilayah pertanian dalam lubang/sarang yang berisi air’.

Latar Belakang dan Tujuan Penulisan

Sebagai kitab fikih, Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah memiliki latar belakang penulisan yang unik. Sebaimana terekam dalam bagian pendahuluan, Syekh Mukhtar menegaskan bahwa, pada tahun 1329 Hijriyah, ada polemic mengenai hukum belut. Perdebatan tersebut berbentuk aktivitas surat-menyurat berisi tanya jawab mengenai hukum belut.

Terdapat dua kubu dalam perdebatan itu. Kubu ulama yang mengharamkan belut dan yang menghalalkannya. Kebetulan, kubu kedua diwakili oleh mayoritas ulama Nusantara yang bermukim di Mekah. Ironisnya, perdebatan tidak hanya terhenti pada perbedaan pandangan menenai hukum, melainkan juga melahirkan  stereotype terhadap ulama Nusantara.

Jika ditelisik, rupanya stereotype semacam itu sudah berlangsung jauh-jauh hari sebelum perdebatan itu. Lapan (2003: 251) sebagaimana dikutip oleh Ginanjar Sya’ban, menginformasikan adanya laporan dari Abu Bakar Jayadiningrat, Snouck Hurgronje yang bermukim di Mekah pada tahun 1885 juga menyebut bahwa orang-orang Mekah sudah menyebut orang-orang Nusantara sebagai ‘pemakan ular’ sejak tahun 1880 M.

Menurut Syekh Mukhtar, tuduhan itu tidak sekadar menimbulkan keraguan bagi orang awam, tapi juga menimbulkan prasangka buruk pada ulama Nusantara yang menghalalkan belut dan memakannya, bahkan mengandung unsur penyesatan. Oleh karena itulah, Syekh Mukhtar terpanggil untuk menulis kitab ini, sebagai counter wacana terhadap tuduhan-tuduhan tersebut.

Isi Kitab

Isi kitab terdiri dari tiga bagian, yaitu al-Muqaddimah, (Pendahuluan), Al-Bāb dan Al-Khātimah (Penutup). Pada bagian penutup, penulis menemukan informasi bahwa kitab tersebut selesai ditulis oleh Syekh Mukhtar pada jam 9 malam, 8 Muharam 1329 H/ 8 Januari 1911 M. Sayangnya dalam kitab tersebut tak ditemukan informasi kapan dan di mana kitab itu mulai ditulis. Namun jika melihat tahun penyelesaiannya, kemungkinan besar kitab tersebut ditulis sewaktu Syekh Mukhtar menjadi pengajar di Mekah.

Bagian pendahulan (al-Muqaddimah) berisi 7 pembahasan terdiri dari: 1) Penjelasan mengenai jenis-jenis hewan. 2) penjelasan mufasir mengenai makna kata ‘Al-Baḥr’ dalam Q.S. Al-Maidah/5: 96. 3) Berisi ancaman terhadap peremehan dalam hal pencetusan hukum dengan cara menghalakan atau mengharamkan sesuatu tanpa disertai dalil syar’i. 4) Penjelasan mengenai suatu permasalahan (fikih) terkait kemutlakannya dari para pendapat ashab al-madzhab. 5) Berisi beberapa pendapat ulama yang mengatakan kehalalan belut. 6) Pembahasan mengenai belut, hakekat, bentuk, dan sifat-sifat dan keadaannya. 7) Penegasan bahwa belut merupakan hewan air yang halal (hlm 3- 8).

Bagian Al-Bāb berisi mengenai paparan dan bantahan terhadap argumentasi para ulama yang mengharamkan belut. Bagian ini mengeksplorasi beberapa alasan yang dipakai oleh pihak yang mengharamkan belut, kemudian pengarang membantah alasan-alasan tersebut dengan menukil beberapa pendapat ahli fikih klasik, disertai dengan argumentasi dan bukti empiris dari pengarang (hlm 8-13).

Sedangkan bagian penutup (Al-Khātimah) berisi hukum halalnya hewan keong, tutut dan ramis (hlm 13-15). Menurut pengarang, pengharaman belut pada akhirya berimplikasi pada pengharaman ketiga hewan air tersebut. Oleh karena itu, pengarang juga mengklarifikasi hal itu kemudian disusul dengan paparan mengenai hewan-hewan yang diharamkan, semisal nyamuk, lalat dan lain lain. Seperti halnya umumnya sebuah kitab, bagian paling akhir berisi kalimat penutup, disertai puja-puji syukur, do’a dan pernyataan tanggal diselesaikannya penulisan kitab tersebut.

Keunikannya Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah

Meski tidak tebal, kitab Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah menyajikan beberapa keunikan. Pertama, sebagai kitab fikih, Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah merupakan kitab yang ditulis dengan metode tematik. Hal ini berbeda dengan kebayakan kitab fikih yang ditulis secara holistik, mulai fikih ibadah hingga mu’amalah. Berbeda dengan itu, Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah secara spesifik membahas hukum belut.

Berikutnya, meski di tulis di Mekah, kitab tersebut tidak kehilangan unsur lokalitasnya. Istilah ‘belut’ yang ia kenal, tidak ditampilkan dengan bahasa Arab, melainkan tetap disebut dengan nama aslinya dalam bahasa Melayu. Begitu juga dengan istilah lain semisal ‘keong’ dan ‘ramis’. Unsur lokalitas ini juga terlihat dalam paparanya mengenai tradisi petani Jawa yang hendak memburu belut ketika musim tanam padi. Sudah barang tentu tradisi semacam ini tidak terdapat di Mekah.

Tak hanya itu, dalam mematahkan tuduhan-tuduhan yang ada, Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah tidak sekadar menampilkan argumentasi yang dinukil dari para ulama salaf. Dalam paparannya mengenai belut, seringkali beliau membuktikan kesalahan argumentasi lawan dekatnya dengan bukti empiris dan ilmu alam.

Hal tersebut terlihat saat Syekh Mukhtar mendeskripsikan belut. Menurutnya, asumsi belut dihukumi haram karena merupakan hewan yang hidup di dua alam (air dan darat) adalah salah. Sarang belut memang terlihat kering di pemukaan, namun di bawahnya terdapat genangan air yag dijadikan sebagai tempat bersemanyamnya. Dalil itu adalah musyahadah (melihat secara langsug) baik oleh dirinya sendiri ataupun informasi dari mayoritas masyarakat Nusantara.

Selain itu, alasan keharaman belut karena mirip ular juga ditolak. Menurutnya, ular itu beracun, sedangkan belut tidak sama sekali. Sejauh yang ia ketahui, Syekh Mukhtar tak sekalipun menemukan orang yang mendapatkan madlarat (bahaya) karena memakan belut. Hal ini berlaku bagi dirinya sendiri dan mayoritas masyarakat Nusantara.

Mengingat semua itu, kitab Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah dan Syekh Mukhtar memang patut untuk dibanggakan. Sebagai kitab fikih, Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah tak sekadar menampilkan dalil normatif, melainkan juga menyuguhkan pembuktian empiris dan sosial kemasyarakatan. Lebih penting dari semua itu, Aṣ-Ṣawā’iq Al-Muḥriqah seakan menegaskan kepada kita untuk melihat konteks Nusantara dalam ber-Islam. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme