Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Jenang Sengkolo, Manifestasi Kesungguhan Doa

Dini Damayanti [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II; Staf Magang di IJIR []

Dini Damayanti [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II; Staf Magang di IJIR []

Pengharapan selalu diwujudkan melalui doa. Meski begitu, bagi orang Jawa, doa saja tidaklah cukup. Kesungguhan harapan dalam untaian doa, juga diwujudkan dalam ragam sesaji. Ada banyak jenis makanan yang dikenal sebagai manifestasi kesungguhan doa orang Jawa, meski biasanya tidak lepas dari jenang sengkolo (bubur sengkolo).

Sebelum mengadakan acara, orang Jawa pasti melakukan doa atau panyuwunan. Menariknya, doa yang dipanjatkan tidak hanya berupa kata-kata, akan tetapi disertai dengan ragam sajian makanan. Selain sebagai bentuk kesungguhan dalam meminta, perwujudan sajian makanan dimaksudkan agar tercipta dimenasi sosial doa.

Doa berasal dari bahasa Arab, daa yadu du’aan wa da’watan, yakni menyeru, memanggil, mengajak, memohon pertolongan, menamakan/mengundang. Secara istilahi doa berarti memohon sesuatu kepada Allah swt., dengan menggunakan cara-cara tertentu (Munawir, 1984: 406). Kegiatan berdoa erat kaitannya dengan prosesi peribadatan. Beberapa di antaranya memang disertakan pula dengan seserahaan berupa makanan dan minuman tertentu.

Perwujudan bentuk makanan, sering dijumpai ketika acara slametan. Orang Jawa melaksanakan slametan dengan berbagai tujuan. Seperti tingkeban, slametan memperingati kelahiran bayi. Wujud rasa syukur sekaligus pengharapan keselamatan si bayi.

Biasanya tuan rumah akan mengundang sanak saudara dan juga tetangga . Di dalamnya terdapat doa-doa khusus. Disajikan juga beberapa jenis makanan yang harus tersedia, seperti ayam ingkung, tumpeng dan jenang.

Salah satu sajian wajibnya ialah jenang sengkolo. Makanan ini dinilai merupakan wujud kesungguhan doa bagi pemilik hajat. Suatu acara tanpa adanya jenang sengkolo benar-benar dirasa kurang sempurna.

Jenang sengkolo lebih dikenal sebagai jenang abang atau jenang abang puteh. Kata sengkolo berasal dari kata morwakala yang berarti menghilangkan balak. Selain itu, penamaannya berdasarkan warna makanan ini. Berbahan dasar beras yang dimasak dengan menggunakan campuran gula merah dan santan.

Jenang sengkolo diartikan sebagai suatu kesatuan. Melambangkan komponen kehidupan manusia tidak lepas dari peran kedua orang tua sebagai perantara kehadiran manusia ke dunia. Tidak lupa peran alam sebagai penopang hidup.

Keberadaan jenang sengkolo tidak hanya dijumpai pada acara slametan, namun juga di  beberapa acara lain, semisal memperingati hari kelahiran atau weton. Sajian jenang sengkolo dimaksudkan agar seiring bertambahnya usia, segala harap dapat terwujud. Begitu juga saat akan bepergian. Orang Jawa menggunakannya dengan harapan untuk mendapat keselamatan dalam perjalanan.

Karenanya telah menjadi suatu tradisi, kebiasaan yang berlaku pada komunitas masyarakat yang dilakukan terus menerus dengan aturan dan simbol yang berlaku (Harapandi Dahri, 2009: 76).

Bentuk jenang kerap diartikan sebagai lambang kesederhanaan. Padahal keberadaanya memiliki makna lebih mendalam. Bubur melambangkan asal muasal manusia, berasal dari sperma dan indung telur. Selain itu juga melambangkan kehadiran Tuhan sebagai pencipta kehidupan, juga sebagai simbol pendekatan diri kepada Tuhan (Jarwanti, 2004: 4).

Penyajian jenang sengkolo yang kian hari mengalami perubahan. Tidak semua tuan rumah menyediakan secara lengkap jenis jenang sengkolo. Bahwa sebenarnya jenang sengkolo memiliki empat jenis. Jenang abang, jenang putih, jenang sengkolo, dan jenang sepuh. Namun, kini keberadaannya hanya menampilkan satu jenis saja.

Jenang sengkolo dimulai dengan yang namanya jenang abang. Nama lain jenang ini adalah jenang retha. Penampakan jenang ini berwarna merah. Karena berasal dari gula merah atau gula Jawa. Warna jenang ini bermakna sebagai indung telur. Manifestasi dari sosok ibu sebagai tempat dimulainya kehidupan manusia.

Kemudian adanya jenang putih atau biasa disebut jenang setha. Rupa jenang ini putih bersih. Perpaduan dari beras dan santan kelapa. Bermakna sebagai wujud penghormatan pada ayah. Juga sebagai simbol sperma laki-laki.

Selanjutnya adalah jenang sengkolo. Disajikan dalam wadah dengan komposisi jenang abang lebih banyak dengan tambahan sedikit jenang putih di tengahnya. Mengenai bentuk jenang sengkolo terdapat beberapa versi. Ada yang menyatakan bahwa warna merah lebih banyak dibanding putih atau sebaliknya warna putih lebih banyak dari warna merah.

Jenis jenang yang terakhir dalam jenang sengkolo ialah jenang sepuh. Kata sepuh berarti tua. Biasanya memiliki komposisi separuh jenang abang dan separuh jenang putih dalam satu wadah. Jenang sepuh memiliki simbol sebagai ngewaruhi bumi atau menyapa bumi. Dalam artian ini, sebagai ungkapan wujud terima kasih kepada bumi atau alam. Karena keberadaan alam yang telah menyediakan segala kebutuhan bagi manusia, mulai dari sandang, pangan dan papa.

Jenang sepuh juga memiliki makna sebagai bentuk permohonan maaf atas segala perbuatan manusia kepada alam. Terhadap segala tindakan yang bersifat merusak baik secara sengaja ataupun tidak.

Keempat jenis jenang tersebut merupakan keseluruhan dari yang namanya jenang sengkolo. Saat mengadakan suatu hajatan, keberadaanya sebagai bentuk manifestasi kesungguhan doa.

Sedangkan berkenaan wadah yang digunakan untuk menyajikan jenang, tidak ada pakemnya. Pada zaman dulu, jenang disajikan menggunakan daun pisang berbentuk seperti mangkuk. Namun, seiring perkembangan zaman, wadah disesuaikan dengan perkembangan alat makan. Mulai dari menggunakan piring hingga mika.

Jenang sengkolo selanjutnya dibagikan pada sanak saudara juga tetangga sekitar. Hal ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahim dan dimaksudkan agar lebih banyak orang yang ikut mendoakan.

Keberadaan jenang sengkolo bagi orang Jawa merupakan manifestasi kesungguhan doa. Memiliki makna kesungguhan harapan, sebagai pengingat asal muasal diri setiap manusia. Juga sebagai bentuk penghormatan, hingga wujud terima kasih kepada Tuhan dan alam sekitar. []

 

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme