Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Gugon Tuhon soal Makan

Ravika Alvin Puspitasari [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester IV; Staf Magang IJIR []

Ravika Alvin Puspitasari [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester IV; Staf Magang IJIR []

Gugoh tuhon sebagai panduan etika hidup dalam sistem keluarga. Itulah alasan mengapa banyak hal terkait etika tetap lestari dalam sistem keluarga Jawa. Salah satu contoh sederhana adalah gugon tuhon yang berisi etika makan.

Bagaimanapun, di masyarakat Jawa soal makan saja menjadi sarana untuk menilai kadar etika seseorang. Melalui gugon tuhon yang hidup dalam keluarga, nilai-nilai etis makan senantiasa ditanamkan.

Keluarga adalah suatu institusi pendidikan moral paling utama. Sebagai unit terkecil dalam masyarakat, keluarga memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anaknya yang meliputi agama, psikologi, makan dan minum, dan sebagainya. Dalam kacamata Sosiologi, tujuan terbentuknya keluarga adalah sebagai suatu struktur yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis anggotanya dan untuk memelihara masyarakat yang lebih luas.

Terkait dengan apapun, seperti perilaku, sikap maupun tindakan seseorang, baik maupun buruk, keluarga memiliki peran yang signifikan dalam memberi pengarahan sejak dini. Seperti memberi pembelajaran soal perilaku baik ketika makan.

Dalam beretika makan pasti dalam keuarga menerapkan beberapa cara untuk bersikap baik. Sikap sebagai suatu tedensi yang sudah diorganisasikan di dalam diri sang aktor, mereka cenderung menganggap tindakan-tindakan didorong oleh etika. Dalam masyarakat Jawa terdapat gugon tuhon yang membatasi seseorang berprilaku atau beretika.

Gugoh tuhon juga menjadi interaksi simbolik yang ada dalam keluarga di Jawa. Dalam gugon tuhon terdapat beberapa larangan yang dianggap pamali atau tidak baik dilakukan ketika makan. Gugon tuhon berisi nasehat yang secara tidak langsung melekat pada masyarakat Jawa, bahkan dianggap sebagai sesuatu yang sakral.

Gugon tuhon seperti ‘ojo mangan nek tengah lawang artinya  jangan makan di tengah pintu. Masyarakat Jawa seringkali menegaskan hal tersebut ketika ada seseorang yang makan di tengah pintu. Hal itu dikatakan ora ilok atau tidak etis dalam konsep etika makan. Dengan kata lain, makan bukanlah kegiatan teknis biologis, melainkan sebagai kontruksi sosial-kultural.

Gugoh tuhon seperti tersebut di atas juga disertai dengan mitos. Tetua mengatakan bahwa mitos tersebut angel jodoh atau sulit mencari jodoh, karena makan di tengah pintu itu tidak etis, menghalangi orang yang akan masuk rumah. Maka dari itu orang Jawa berinisiatif untuk membatasi seseorang berperilaku.

Kemudian makan tidak boleh sambil berdiri ataupun sambil berjalan. Hal tersebut mitosnya hampir sama dengan makan di tengah pintu, makan sambil berjalan mitosnya ditolak oleh perjaka bagi anak gadis.

Terdapat beberapa etika makan di Jawa seperti ketika makan tidak boleh clometan, dikhawatirkan tersedak. Kemudian tidak boleh rusuh, seperti ketika makan sendok berbunyi akibat benturan dengan piring, harus pelan-pelan, menggambarkan bahwa masyarakat Jawa identik dengan kelembutan.

Ketika hendak makan harus dikira-kira, harus makan seberapa banyak. dalam gugon tuhon terdapat petuah kalau makan tidak dihabiskan maka ayamnya akan mati. Maksud dari petuah tersebut jika makan harus dihabiskan, agar tidak mubadzir. Kemudian makan tidak boleh kecap atau makan dengan mulut bersuara.

Masyarakat Jawa meyakini hal tersebut karena itu bentuk etika atau sopan santun dalam makan. Dalam beretika makan itu harus dilaksanakan dengan benar. Umumnya harus duduk (manis) dan tidak sambil berjalan ataupun bergurau segala macam. Hal ini juga sebagai  bentuk penghargaan terhadap makanan tersebut.

Etika makan di Jawa pada dasarnya ada dua macam yaitu etika makan tradisional dan etika makan modern. Orang jawa biasanya makan di amben, menggelar tikar, duduk bersila, dan menggunakan tangan atau muluk (Endaswara, 2010: 134). Berbeda dengan tata cara makan masa kini atau modern tentu jarang muluk, melainkan menggunakan sendok. Masyarakat tradisional identik menggunakan tangan.

Berbeda dengan konteks kesehatan, orang Jawa mempercayai bahwa makan dengan muluk itu juga untuk alasan kesehatan. Dalam kesehatan terdapat bakteri baik dan buruk di telapak tangan dan jari-jari tangan kita. Bakteri yang baik akan melindungi kita dari virus-virus berbahaya  dan menjaga kesehatan mulut, tenggorokan, usus dan sistem pencernaan.

Namun sayangnya, jika kita makan dengan sendok, bakteri ini tidak akan sampai ke usus. Di sisi lain saat kita makan dengan tangan, bakteri dari jari-jari berpindah ke mulut dan ditelan dan berjalan ke bagian tubuh yang berbeda. Proses ini membantu memperbaiki pencernaan di usus dan mencegah penumpukan bakteri berbahaya di usus.

Tak hanya itu, saat kita menyentuh makanan dengan tangan, sebuah sinyal dikirim ke pikiran untuk melepaskan cairan pencernaan dan enzim. Bergantung pada jenis makanan, pikiran mengatur agar metabolisme bekerja sesuai yang dibutuhkan oleh pencernaan. Sistem pencernaan yang sehat penting untuk kesehatan tubuh dan pikiran.

Etika makan modern biasanya sering diterapkan oleh kelas ekonomi menengah ke atas. Sebaliknya etika makan tradisional seringkali dipakai oleh kalangan ekonomi rendah. Mereka makan dengan semaunya sendiri, misalnya makan dengan jongkok, makan dengan duduk dengan kaki diangkat dan lainya. Bahkan ada sebagian orang jawa yang makan didekat tungku atau luweng karena merasa lebih nikmat dibanding makan direstoran.

Masyarakat Jawa mengajarkan etika makan secara khas. Jika makan sesuai dengan etika tersebut, itu mencerminkan bahwa seseorang patuh akan nilai-nilai budaya yang ada. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme