Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Mantra dan Waktu Sakral Mandi

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Di Jawa, hampir seluruh aktivitasnya berkaitan dengan doa. Keselamatan dan keberkahan tersemat dalam untaian doa atau mantra dalam praktik remeh temeh seperti  mandi. Bahkan, mandi juga dipandang menjadi sarana pengobatan bagi pelakunya.

Fenomena semacam itu, kian memperjelas bahwa aspek spiritualitas terpatri juga dalam kegiatan keseharian orang Jawa. Nampaknya, mandi adalah hal sepele jika dibandingkan dengan upacara ataupun ritual peribadatan. Sehingga, sangat umum kalau seseorang mandi hanya dengan ala kadarnya, asalkan bersih.

Meskipun dalam khazanah ajaran Islam terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika mandi, tetapi Jawa mengajarkan ilmu tersendiri agar mandi bersifat transendental.

Sudah lazim dalam masyarakat kita dianjurkan melangkah mendahulukan kaki kanan ketika masuk kamar mandi dan juga membasuh tubuh bagian kanan terlebih dahulu, dan tentu saja doa dalam bahasa Arab.

Masyarakat  Jawa memiliki  doa sendiri yang bisa dipraktikan saat mandi. Doanya lebih menyerupai mantra. Kurang lebih begini berbunyi: “Salamukussalam… Ingsun matèk aji-ajiku, aku jupuk banyu telogo mani suci sarine bumi. Rahayu aweto enom. Tetepo nyawaku langgengo imanku. Tetep langgeng, langgeng tan keno owah.”

Doa ini menyiratkan bahwa, air yang kita gunakan adalah karunia Tuhan. Sangat substansial sekali, dengan mengharap umur panjang, keteguhan iman pada Sang Maha Tunggal, orang Jawa menginginkan keberkahan dalam setiap kehidupannya. Konon, jikalau kita mempraktikan doa-mantra ini pada setiap kali mandi, kita bisa awet muda.

Pelakunya dipercayai bisa terhindar dari memutihnya rambut hingga akhir usianya. Selain itu, tentunya tidak pikunan.

Selain itu, terdapat mantra lain yang bisa digunakan. Lafalnya kurang lebih berbunyi “Salamukussalam… Ingsun matèk aji-ajiku byur sepisan, cahyaku koyo tanggal sepisan, byur peng pindo, cahyaku koyo tanggal pindo…byur peng pat belas, cahyaku monor-monor koyo tanggal pat belas. Ampengku para nabi, kemulku para wali.”

Ketika merapal mantra ini, pada kalimat “byur sepisan, cahyaku podo tanggal sepisan”, kita mengguyurkan air ke badan. Hal ini diulangi hingga pada hitungan ke empat belas ketika kita melafalkan “byur peng pat pat belas, cahyaku monor-monor koyo tanggal pat belas…”.

Sesudah selesai merapalkan mantra tersebut, kita bisa mandi layaknya mandi biasa. Mantra ini merupakan aforisme orang Jawa pada rembulan purnama, yang dianggap memiliki aura indah dan bersahaja.

Setidaknya, kedua doa-mantra mandi tersebut, dapat berguna secara baik jika seseorang juga memperhatikan waktu mandi. Perlu diketahui, dalam kosmologi Jawa, orang Jawa tidak dianjurkan mandi mendekati senja. Kalaupun boleh, maka harus diperhatikan bahwasannya ketika mandi, tidak boleh mengguyur bagian kepala, hanya sebatas tubuh. Mitos yang berkembang, jika kita melanggar larangan tersebut, maka kita tak berusia panjang.

Sebaliknya, waktu yang dinilai sangat baik untuk mandi oleh masyarakat Jawa adalah dini hari, setelah lepas jam 12 malam. Inilah  momen yang dianggap sangat istimewa untuk mandi. Melakukannya, dipercaya mampu meningkatkan kecerdasan bagi seseorang. Caranya pun cukup sederhana yaitu mengguyur kepala dengan air, kemudian menepuk-nepuj kepala secara ringan beberapa kali. Pengetahuan tentang waktu baik untuk mandi ini, rupanya juga hangat di lingkungan pesantren.

Mandi pada dini hari juga dilakukan oleh kalangan santri. Dalam konteks pesantren, kegiatan mandi di pagi hari, sebelum subuh,  dimaksudkan untuk menghindari atau menyembuhkan penyakit tertentu semacam kudis atau penyakit kulit lainnya.  Kepercayaan semacam itu dirawat dengan baik dalam tradisi pesantren.

Membahas tentang kudis, golongan santri mempercayai bahwa  itu sebuah berkah bagi orang yang nyantri. Tidak sempurna katanya, kalau seorang santri tidak pernah kudisan. Oleh sebab itu, terdapatlah tradisi yang diyakini bisa mengatasinya, yaitu dengan merutinkan mandi di pagi buta.

Penerimaan kalangan pesantren terhadap kudis dan  pengetahuan bahwa mandi pada dini hari dapat menyembuhkannya, merupakan rangkaian sub-kultur yang bersanding kokoh. Dalam perspektif Koentjaraningrat (1980: 171), ia mengatakan bahwa pelbagai aktivitas kebudayaan bertujuan untuk memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan naluariah manusia yang berkaitan dengan kehidupannya.

Pada akhirnya, mandi bukanlah hal sederhana yang tidak memiliki kaitannya sama sekali dengan kosmologi Jawa. Pada praktiknya, doa ataupun berkah yang menjadi sendi kehidupan orang Jawa, juga terejawantahkan dalam mandi.

Makanya bukan suatu hal yang mustahil untuk ditegaskan bahwa masyarakat Jawa adalah kelompok yang selalu memiliki sarana untuk mengaitkan berbagai aktivitasnya kepada Tuhan. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme