Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Seluk-Beluk Tradisi Jawa Usai Lahiran

Venella Yayank Hera Anggia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Venella Yayank Hera Anggia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Tradisi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa. Saking tidak bisa lepasnya, tradisi juga berpengaruh pada setiap laku mereka. Tanpa terkecuali pada kebiasaan perempuan Jawa usai lahiran.

Dalam bahasa Jawa, lahiran berarti melahirkan. Di Jawa, perempuan usai lahiran haruslah menjalani beberapa kebiasaan yang telah diajarkan oleh para leluhur mereka. Hal ini guna untuk menjaga dan memulihkan kesehatan mereka. Tradisi tersebut antara lain mulai dari penggunaan jamu tradisional, kain stagen, pijet, dan senden. Selain itu, terdapat berbagai pantangan yang harus dihindari. Mitosnya jika perempuan Jawa usai lahiran melanggar pantangan tersebut, maka akan berakibat buruk pada bayi mereka.

Tradisi mengenai penggunaan jamu-jamuan untuk perempuan usai lahiran ternyata sudah diterapkan masyarakat Jawa sejak lama. Tepatnya sejak masa Keraton Surakarta Hadiningrat (Rini Verary Shanthi, 2014). Hal ini telah dijelaskan dalam serat Primbon Jampi Jawi. Serat tersebut memuat berbagai ajaran tentang racikan jamu tradisional yang ditulis oleh Sunan Pakubuwono X.

Menurut Foster & Anderson (1986) dasar kebiasaan penggunaan jamu yang telah dilakukan masyarakat Jawa seperti ini sebenarnya dipengaruhi oleh keyakinan akan keberadaan dua jenis penyakit, yakni personalistik dan naturalistik. Penyakit personalistik diyakini berasal dari hal-hal supranatural seperti guna-guna, jin, dll. Sedangkan penyakit naturalistik disebabkan oleh makanan dan pengaruh tubuh.

Hal tersebut dapat kita lihat dalam peracikan jamu tidak lepas dari adanya mantra-mantra yang diucapkan oleh peracik. Mereka meyakini bahwa mantra sebagai ungkapan doa. Perantara permintaan kesembuhan dan penjagaan kesehatan yang ditujukan kepada sang Maha Kuasa. Meskipun begitu, ramuan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan tetap menjadi bahan utama.

Dalam serat Primbon Jampi Jawi, ramuan jamu untuk perempuan usai lahiran paling banyak variasinya. Selain itu, cara penggunaan jamu itu pun beragam. Di antaranya diminum dan dioles. Dengan berkembangnya jaman yang semakin modern, penggunaan jamu semakin luntur. Meskipun begitu, masih terdapat beberapa jamu yang hingga saat ini masih sering dipakai. Salah satunya pilis dan parem.

Pilis adalah jamu oles. Dalam penggunaannya, pilis dikhususkan untuk bagian dahi saja. Sebab jamu ini diyakini perempuan Jawa berfungsi untuk mengembalikan penglihatan kembali jernih setelah lahiran. Dari mitos yang diyakini masyarakat Jawa, pilis mampu mencegah darah putih agar tidak naik ke otak pada perempuan usai lahiran.

Parem atau lebih dikenal dengan nama bobok. Jamu jenis ini paling familiar di masyarakat Jawa. Perempuan usai lahiran, biasanya menggunakan parem sebagai penghilang pegal-pegal. Mereka akan mulai menggunakan parem pada malam hari dan dibiarkan hingga pagi. Parem akan dioleskan pada pangkal paha hingga telapak kaki.

Selain jamu, terdapat kebiasaan lain yang sudah turun-temurun. Bahkan, hingga saat inipun masih sering digunakan, yakni kain stagen atau centhing. Kain ini memang sangat melekat di kebudayaan Jawa.

Di Jawa, centhing dianggap mampu menjaga bentuk perut agar tetap bagus (singset). Ukuran kain tersebut juga tidak main-main. Dengan panjang antara dua hingga enam meter dan lebar 20 hingga 30 cm. Pada penggunaannya, centhing tidak lepas dari peran dukun bayi. Hal ini karena dukun bayi dianggap paling mengerti perihal pasang memasang centhing.

Sebelum menggunakan centhing, seringnya dukun bayi akan mengoleskan jamu tapel terlebih dahulu pada perut. Dari kepercayaan yang berkembang, tapel diyakini akan mempercepat proses pengecilan perut. Setelah itu, perempuan usai lahiran akan disarankan untuk terus menggunakan centhing selama 40 hari. Hal ini diyakini agar perut mereka tidak kengser. Selain itu, centhing dianggap akan mempercepat keringnya jahitan.

Selanjutnya yang tidak kalah penting, yakni pijet. Kebiasaan pijet memang sudah mengakar di masyarakat Jawa. Pijet juga harus dilakukan oleh perempuan usai lahiran. Sebab, pijet berfungsi untuk merelaksasikan otot-otot yang tegang, efek dari lahiran. Pijet dilakukan oleh dukun bayi. Bagi dukun bayi, ini akan sangat membantu mengembalikan perut yang turun.

Kebiasaan lainnya adalah duduk senden. Duduk senden merupakan duduk yang bersandar pada bantal bertumpuk. Ini model duduk pasca melahirkan yang dianjurkan oleh dukun bayi. Seusai lahiran, perempuan Jawa dianjurkan senden hingga usia selapan atau 36 hari. Pada masa ini, tidur pun juga dalam keadaan senden. Hanya saja, tidur senden biasanya dilakukan selama seminggu.

Terlepas dari semua ritus tersebut, pastinya ada pantangan atau nyirik yang harus dihindari bagi perempuan setelah lahiran. Pantangan ini masih berkaitan dengan mitos yang mengakar di masyarakat Jawa. Mulai dari pantangan makanan hingga aktivitas lainnya. Sebab, bagi masyarakat Jawa mematuhi nyirik dianggap dapat menjaga keselamatan serta kesehatan bayi.

Aja saresmi salawase patang puluh dina. Pantangan tersebut melarang agar perempuan Jawa tidak melakukan hubungan seks setelah lahiran. Aja mangan iwak loh utawa laut, sartane daging pitik. Perempuan Jawa yang baru saja lahiran melahirkan dilarang menyantap ikan air tawar dan laut, serta daging ayam. Sebab, hal tersebut dianggap  dapat menimbulkan rasa gatal pada bekas luka jahitan. Serta akan membuat luka menjadi lama sembuhnya.

Aja turu rikala wayah surub, mundhak bayine lara. Tidur ketika sore hingga waktu mahgrib menjadi pamali yang sudah turun-temurun. Sebab menurut masyarakat Jawa, tidur sore hari akan menyebabkan sakit. Apalagi jika ini dilakukan oleh perempuan usai lahiran.

Selain mereka, inipun juga berlaku pada bayi mereka. Ketika waktu mahgrib tiba, bayi haruslah digendong. Karena mitos masyarakat Jawa, waktu mahgrib adalah waktu di mana mahkluk supranatural sedang berkeliaran. Ini biasanya menyebabkan bayi mudah diganggu dan akhirnya sawanen.

Kemudian, perempuan usai lahiran tidak dipebolehkan untuk berjalan-jalan, mencuci dan memasak. Mereka juga tidak diperkenankan menginjak tanah selama 44 hari.  Sebab, pada masa ini mereka dianggap belum bersih dan masih dalam keadaan kotor.

Meskipun banyak tradisi serta pantangan bagi perempuan Jawa setelah lahiran tersebut, sebenarnya tidak terlepas dari khazanah kebudayaan Jawa. Meyakini dan menjalankan tradisi yang telah mengakar tidaklah salah. Selagi tradisi tersebut bermanfaat dan tidak merugikan. Karena sejatinya, tradisi di Jawa diciptakan oleh para leluhur agar dapat bermanfaat untuk generasi mereka. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme