Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Professor

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Konon, istilah professor pertama kali digunakan di Inggris untuk menyebut gelar tertinggi akademik. Sebelum 1485, penggunaan istilah tersebut bersifat cair. Digunakan untuk menyebut orang-orang yang dianggap pantas karena dedikasinya dalam pendidikan dan literasi.

Baru pada masa dinasti Tudor—periode monarki Inggris, sejak masa Raja Henry VII, selama periode 1485-1603, gelar professor menjadi nomenklatur resmi kerajaan. Pada 1540, Henry VIII tercatat sebagai raja pertama yang mengukuhkan lima kursi professor kerajaan untuk bidang ilmu berbeda-beda, meski semua terkait dengan teologi Katolik.

Sesudah periode itu, gelar professor menggantikan sebutan praelectors yang lebih populer sebelum periode Henry VIII.

Meski istilah ini diserap di seluruh dunia, dan dibakukan sebagai titel tertinggi di dunia akademik, sifat cairnya tidak hilang. Makna cair itu tentu saja menitis dari penggunaan istilah tersebut sebelum abad 15 M di Eropa Barat.

Dalam berbagai karya fiksi, istilah professor di Eropa dan Amerika, malah bisa berkonotasi pada hal-hal nyentrik, aneh, dan ‘negatif’. Masih ingat, sosok Professor Calculus pada serial the Adventures of Tintin?

Itu serial kartun yang ditulis oleh kartunis Belgia, Georges Remi—nama penanya Hergé. Merupakan komik paling populer abad 20 M. Kartun Tintin bahkan sudah diterjemah dalam 70 bahasa dengan penjualan lebih dari 200 juta copy. Menjadi populer karena kartun tersebut diangkat dalam film.

Nah, Professor Calculus, temannya Tintin itu, digambarkan sebagai sosok yang ‘pincang’ dan selalu gagap dalam hubungan sosial. Calculus adalah ahli fisika, mencipta banyak peralatan canggih, tapi dia tuli, dan berantakan. Pendek kata, dalam the Advantures of Tintin, istilah professor itu untuk menyebut orang yang maju dalam satu bidang, tapi berantakan dalam urusan-urusan lainnya.

Novel serial Harry Potter, karya legendaris J.K. Rowling, malah lebih aneh lagi. Gelar professor dipakai untuk menyebut semua pengajar di Hogwarts Inggris. Ini merupakan sekolah ilmu perklenikan dan santet. Yang paling terkenal adalah Professor Dumbledore, sang kepala sekolah, Professor McGonagall, dan Professor Severus Snape yang bersekutu dengan Lord Voldemort.

Mereka semua ahli klenik dan mejik, sebagiannya ilmu hitam dan santet. Tapi J.K. Rowling dengan nalar Eropanya menyebut tokoh-tokoh itu dengan gelar professor.

Mungkin, kalau di Jawa, yach, gelar professor yang dipakai dalam fiksi Harry Potter itu sama dengan gelar dukun. Harus tetap diingat, dukun juga ada yang berlatar belakang kiai. Semua mengklaim diri mengembangkan ilmu putih. Semua seperti Professor Dumbledore. Tidak ada satupun dukun yang mau menyebut diri seperti Lord Voldemort—dewa ilmu hitam itu.

Orang jawa hanya punya kosa kata dukun, bukan professor.

Di Jawa

Sampai pada abad 21, ketika gelar professor secara akademik makin baku dan bersifat universal, kebanyanya orang Jawa, terutama dari kalangan tradisional, masih memandangnya sebagai gelar yang melangit, tak tergapai, dan hanya ada dalam imajinasi.

Sosok professor itu diibaratkan sebagai begawan atau wali, yang sosoknya hanya hadir dalam imajinasi.

Titel ini begitu tinggi, sehingga hanya orang-orang istimewa dan terpilih yang layak menyandangnya. Dan kebanyakan masyarakat Jawa yang tradisional itu, biasanya secara suka rela memberikan gelar yang melangit itu, hanya kepada sosok yang mereka pilih.

Orang Jawa memahami gelar professor tak ubahnya gelar kiai dan ke-wali-an. Kadang, tidak bisa dituntut, tapi diberi. Itu gelar yang membuktikan adanya pengakuan dan penghargaan besar karena kebajikan dan jasa-jasa yang telah ditorehkan oleh seseorang.

Kadhang-kadhang saya dari kalangan tradisi dan kebudayaan, tidak berpikir rumit tentang jenjang akademik dan karir yang harus dilalui seseorang, sehingga mencapai gelar tersebut. Pikiran mereka lebih simple dari itu bukan karena tidak tahu, tapi karena ketulusan dan penghormatan.

Bagi mereka, gelar doktor dan professor, hanya layak diberikan kepada mereka yang dipandang memiliki dedikasi tinggi, dan dianggap berjasa besar bagi kehidupan.

Di titik inilah, saya bisa merekam kembali penghormatan yang begitu besar diberikan oleh kalangan tradisi, lintas agama, dan kelompok penghayat di seluruh kawasan Mataraman ini kepada Professor Maftukhin.

Sebelum 16 Juli 2019, ketika beliau dikukuhkan sebagai professor, saya bahkan sudah terbiasa mendengar para sesepuh, pini-sepuh, tokoh-tokoh adat dan tradisi, menyebut beliau dengan gelar professor. Bukan hanya dalam sapaan hangat, tetapi juga dalam sebutan resmi ketika beliau menghadiri berbagai acara tradisi dan lintas agama.

Sejak 2015, ketika IAIN memutuskan untuk merangkul semua kalangan tradisi dan lintas agama/keyakinan, penghormatan itu mengalir bersama dengan legitimasi, kepercayaan, dan harapan besar pada institusi ini.

Mungkin dalam sejarah, hanya IAIN Tulungagung yang pernah berhasil mengumpulkan semua kalangan tradisi dan lintas agama/keyakinan, mengayominya, dan bersama dengan semua elemen masyarakat tersebut, mendeklarasikan Tulungagung sebagai kota bhinneka tunggal ika. Itu terjadi di akhir tahun 2015.

Dalam periode yang tidak pendek, relasi dengan semua stakeholders itu terpupuk dengan baik. Dan sekali lagi, mungkin baru pertama kalinya dalam sejarah, hanya IAIN Tulungagung yang berhasil mengolah semua modal sosial tersebut menjadi gerakan sosial bhinneka tunggal ika.

Grebeg bhinneka tunggal ika pun tercetus di akhir Desember 2017, dan hingga hari ini masih menjadi identitas Tulungagung dan seluruh wilayah Mataraman.

Kebajikan dan jasa-jasa besar Professor Maftukhin itulah yang memenuhi ingatan semua masyarakat, terutama kalangan adat dan tradisi. Lalu, mereka secara sadar memberikan seluruh kepercayaan dan hormat kepada beliau. Bahkan, ketika secara formal gelar professor itu belum hadir, para sesepuh dan pini-sepenuh sudah menyematkannya kepada Pak Maftukhin, berkat jasa-jasa beliau dalam kehidupan.

Rasanya tidak perlu keki, bila senyatanya Pak Maftukhin sudah bertahun-tahun yang lalu dikukuhkan sebagai professor oleh segenap masyarakat, terutama karena keteguhannya membumikan kembali narasi dan ajaran bhinneka tunggal ika.

Bagi masyarakat adat dan tradisi yang tulus dan bersahaja itu, melebelkan gelar doktor maupun professor, tanpa perlu menunggu jenjang dan karir akademik. Seperti layaknya gelar begawan dan kiai, mereka akan sematkan kapan saja kepada orang-orang yang dianggap layak. Gelar itu juga mereka sematkan sebagai doa. Toh, pada akhirnya semua doa pasti terkabul. Dan begitulah janji Tuhan.

Begitulah, di Jawa, gelar professor akan disematkan secara suka rela oleh masyarakat sebagai penghormatan dan legitimasi.

Dan segeralah detik-detik itu menjelang. Ketika saya mengikuti tahap demi tahap acara pengukuhan Professor Maftukhin sebagai Guru Besar bidang Ilmu Filsafat, oleh Menteri Agama, pada 16 Juli 2019 kemarin, sambil berdecak kagum dan (sedikit) meneteskan air mata, hati saya bergumam, “Panjenengan sudah menyandang gelar Professor bertahun-tahun yang lalu, Pak.”[]

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme