Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Nyai Lidah Item dari Tawangsari

Rifchatullaili [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research (IJIR) []

Rifchatullaili [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research (IJIR) []

Alkisah, seorang ulama yang sering berkelana untuk berdakwah di segala penjuru daerah memantapkan diri bermukim di daerah yang ditumbuhi pohong tawang dengan pohon nagasari yang melingkupinya. Masyarakat setempat mengenal beliau dengan nama Kiai Haji Abu Manshur.

Pohon tawang dan nagasari inilah yang menjadi asal muasal nama Desa Tawangsari. Desa tersebut berada di sisi barat sungai Ngrowo, merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Kedungwaru, kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Kiai Haji Abu Manshur sendiri merupakan seorang putra keturunan Adipati Cakradiningrat dari Madura yang belajar Agama Islam, nyantri kepada Kiai Ageng Muhammad Besari Tegalsari. Beberapa versi menyebutkan, Kanjeng Kiai Haji Abu Manshur memiliki nama asli RM. Tala berdasarkan versi Surakatra dan RM. Kala untuk versi Yogyakarta.

Disebutkan juga bahwa Kiai Haji Abu Manshur adalah seorang putra dari Raja Kesultanan Mataram, Prabu Amangkurat IV (Amangkurat Jawi/RM Suryaputra) dari selirnya yang bernama Mas Ayu Rangawita (Raden Ayu Bandandari, yaitu putri dari Pangeran Cendana Kudus) (Pasendari, 2017: 49).

Kiai Haji Abu Manshur mempunyai nama kecil RM. Qosim, yang kemudian mendapat gelar ‘Diponegoro” oleh Pakubuwana II, sehingga menjadi RM. Tala atau RM. Kala Dipenegoro. Kanjeng Kiai sendiri dikenal sebagai seorang tokoh yang sangat bijaksana dan berjasa dalam pertumbuhan dan perkembangan Kadipaten Ngrowo, atau pada saat ini kita mengenalnya sebagai Kabupaten Tulungagung.

Kiai Haji Abu Manshur memutuskan untuk tidak kembali ke Kartasura, beliau lebih memilih untuk mengembangkan dakwah Islam. Pilihan ini juga didasarkan pada kurang minatnya beliau untuk terlibat dalam kancah politik dalam istana maupun mendapat kekuasaan di suatu daerah. Alasan tersebut semata-mata karena rasa tidak suka beliau kepada pihak Belanda yang selalu ikut campur dalam segala gerak pemerintahan istana. Kiai Haji Abu Manshur mengetahui bahwa Belanda merupakan musuh dalam selimut yang perlu diwaspadai.

Campur tangan Belanda atas politik dalam istana tidak memberikan manfaat apapun karena mereka sengaja memberikan dan menjadikan orang-orang istana sebagai penguasa dareah hanya untuk menjadikan alat pemeras rakyat. Rakyat akan dimintai untuk membayar pajak dan denda tertentu yang memang sudah ditetapkan oleh pihak Belanda.

Menjadi seorang pendakwah tentunya merupakan salah satu jalan keluar untuk terhindar dari politik pecah belah Belanda tersebut. Terlebih lagi, Kanjeng Kiai juga ingin mengabdikan diri pada Islam. Beliau kemudian memilih menetap dan menjadi pendakwah serta guru ngaji di daerah Tawangsari. Tawangsari sendiri dianggap lebih aman karena kawasan tersebut termasuk tanah perdikan. Daerah perdikan semacam ini, menyebabkan Belanda tidak akan berani ikut campur.

Tinggalnya Kanjeng Kiai di Tawangsari ini ditandai dengan dibangunnya Masjid Jami’ Tawangsari yang juga merupakan bukti sejarah penyebaran Islam di Tulungagung.

Sosok Kiai Haji Abu Manshur merupakan pejuang yang berjasa dalam penyebaran agama Islam di kabubaten Tulungagung. Menariknya, dalam menyebarkan Islam di Tawangsari, Kanjeng Kiai tidak sendiri, beliau dan istrinya bersama-sama berdakwah dan mengajarkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat sekitar. Dialah Nyai Fatimah, wanita hebat yang senantiasa setia mendampingi Kanjeng Kiai dalam berdakwah.

Nyai Fatimah atau Nyai Abu Manshur sendiri merupakan seorang putri yang memiliki kesaktian mandraguna. Pertemuan Kiai Haji Abu Manshur dengan istrinya adalah ketika perjodohan R. Qosim (Kiai Haji Abu Manshur muda) dengan RA. Fatimah, salah satu putri dari Kiai Bagus Harun Basyariah dari Sewulan Madiun.

Kiai Bagus Harun Basyariah merupakan tokoh ulama yang tersohor dan paling dihormati di wilayah Madiun, yang juga merupakan salah seorang murid dari Kiai Ageng Hasan Besari Tegalsari Ponorogo. Adapun juga sebenarnya, antara R. Qosim (RM Tala) dengan RA. Fatimah ternyata masih satu garis keturunan dari Panembahan Senopati, karena Kiai Bagus Harun Basyariah adalah putra dari R. Nolojoyo (Prongkot) yang merupakan keturanan Panembahan Senopati.

Nyai Fatimah adalah seorang putri yang dikenal dengan keberanian dan kesaktian. Istri  Kiai Haji Abu Manshur ini sangat disegani oleh banyak orang. Nyai Fatimah kemudian dikenal sebagai Nyai Lidah Item (hitam) karena masyarakat sekitar memercayai bahwa segala ucapan atau perkataan beliau akan menjadi kenyataan dan bertuah. Dalam cerita yang berkembang, keluarga Sentono Tawangsari memaparkan bahwa Nyai Fatimah ikut berperan dalan pembangunan salah satu masjid di Magelang.

Julukan Nyai Lidah Item sendiri bukan semata-mata dari masyarakat setempat, namun kompeni Belandalah yang memberikannya. Belanda seringkali kelabakan dalam menghadapi sepak terjang dan keberanian Nyai Lidah Item (Pasendari, 2017: 51). Keluarga Sentono Tawangsari juga menjelaskan bahwa sangat dimungkinkan pada masa itu, Kiai Haji Abu Manshur seringkali meninggalkan kediamannya di Tawangsari guna berdakwah, sehingga Nyai Fatimah sendiri yang terjun langsung memerintah Tawangsari dengan sang putra (Abu Manshur II/Kyai Yusuf Martontanu) yang masih muda.

Berbagai cerita tentang kehebatan Nyai Fatimah, Nyai Lidah Item dari Tawangsari, dikisahkan turun menurun dalam keluarga dalem Sentono Tawangsari. Nyai Lidah Item diriwayatkan mempunyai kemben yang dapat mengeluarkan panas hingga dapat mematangkan bulir beras.

Dalam cerita lain, pernah keluarga Abu Manshur II kedatangan seorang tamu yang merasa kurang puas atas sambutan pihak keluarga. Diceritakan kemudian dengan terpaksa Nyai Lidah Item menyambut tamu dengan kesaktiannya. Nyai Lidah Item mempertunjukkan aksi menggoreng batu dengan tangan kosong di atas kembennya yang kian lama dapat memanas sehingga panas yang ditimbulkan batu tersebut dapat mematangkan bulir beras.

Tawangsari merupakan salah satu daerah yang turut serta dalam sejarah kelahiran Kadipaten Ngrowo (Tulungagung). Tawangsaripun tidak lepas dari tokoh sentralnya Kiai Haji Abu Manshur, tokoh yang membabad daerah tersebut. Namun, di balik semua itu tidak lepas dari peran Nyai Fatimah yang turut berjasa dalam menjalankan pemerintahan di Tawangsari.

Nyai Lidah Item patut diapresiasi sebagai salah seorang perempuan Jawa yang menunjukkan bahwa keberadaannya mampu turut serta dalam urusan publik utamanya pemerintahan. []

 

Sumber: Pasendari (Paguyuban Sentono Dalem Tawangsari). 2017. Kedaton Perdikan Tawangsar (Menelusuri Dakwah dan Perjuangan Kanjeng Kiai Abu Manshur (BPH. Dipenegoro) di Tulungagung).

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme