Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Kitab Syi’iran Naṣīḥāt KHR. Asnawi: Aku Islam, Aku Jawa, Aku Indonesia

Heru Setiawan [] Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Kiai-Kiai Jawa terus menjaga keseimbangan antara kehidupan beragama dan bernegara. Inilah kabar yang dilayangkan oleh kitab ‘Shi’iran Naṣīḥāt’, karya Kiai Haji Raden Asnawi atau KHR. Asnawi Kudus.

K.H.R. Asnawi lahir di Damaran, sebuah wilayah di belakang menara Kudus, pada tahun 1861 M. Beliau merupakan keturunan ke-5 dari KH. Mutamakin, sekaligus keturunan ke-14 dari Sunan Kudus. Oleh sebab itulah, gelar ‘Raden’ disematkan pada namanya (Mas’ud, 2004: 20).

Sejak kecil, KHR. Asnawi hidup di lingkungan dan tradisi pesantren yang kental. Ia juga sempat menetap di Mekah selama 22 tahun (1894-1916 M). Di sana ia belajar dari beberapa guru, baik dari Jawa maupun Arab, semisal K.H. Saleh Darat dari Semarang, K.H. Mahfudz At-Tirmisi, dan Sayyid Umar Shata. Sedangkan sebelum ke Mekah, ia nyantri di pondok pesantren KH. Irsyad Kemuning.

Di negeri padang pasir itu, ia bahkan sempat menjadi pengajar. Tercatat beberapa nama kiai besar dari Indonesia yang pernah menjadi anak didiknya. Di antara nama-nama itu adalah KH. Dahlan dari Pekalongan, KH. Saleh dari Tayu, KH. Mufid Kudus, KH. Mukhit Sidoarjo, KH. Abdul Wahab Hasbullah dan K.H. Bisri Syansuri dari Jombang (Zuhri, 1983: 2-3).

Tak hanya itu, KHR. Asnawi juga merupakan salah satu tokoh penting dalam dunia pergerakan nasional pada masa Hindia-Belanda. Hal ini dibuktikan dengan keikutsertaannya dalam pembentukan Sarikat Islam (SI) Mekah pada tahun 1912. Bahkan ia sempat menjadi komisaris organisasi ini.

Selain itu, KHR. Asnawi juga tergolong sebagai produktif. Ia memiliki beberapa karya berbahasa Jawa, semisal kitab Fashalatan, kitab Mu’taqad Seked dan kitab ‘Syi’iran Naṣīḥāt’. Di luar semua itu, satu hal yang patut diteladani dari KHR. Asnawi adalah kecintaannya terhadap Indonesia. Hal itu tercermin dalam ‘Shalawat Asnawiyah’ yang tertera dalam kitab ‘Syi’iran Naṣīḥāt’.

Kitab Syi’iran Naṣīḥāt KHR. Asnawi

Kitab ‘Shi’iran Naṣīḥāt’ merupakan kitab yang ditulis oleh KHR. Asnawi Kudus. Konon, kitab itu ditulis di zaman Hindia-Belanda. Sekilas, nasehat dalam kitab ini seakan hanya ditujukan untuk anak cucu KHR. Asnawi, sebagaimana tertera dalam bait ke-5 dan bat ke-60.

إِيْكِيْ تۤمْبَاڠَانْ كَڠْ تۤكَا بُوْرِيْ   #   مَارِيْڠْ اَنَاءْكُوْ كَاڠْؼَوْ نُوْتُوْرِيْ

Iki tèmbangan kang tèka buri   #   Maring anakku kanggo nuturi

فِيْتُوْتُوْرْ كَابَيْهْ كَڠْ وُوْسْ كَاسۤبُوْتْ   #   اَنَاءْ فُوْتُوْكُوْ سُوْفَايَا مَانُوْتْ

Pitutur kabeh kang wus kasèbut   #   Anak putuku supaya nurut

Namun anggapan tersebut akan segera lenyap saat pembaca merujuk pada bait ke-21:

اِيْكِيْ وَصِيَّةْ مَارِيْڠ اَنَاءْكُوْ   #   لَنْ مَارِيْڠْ ڤَارَا مُسْلِمْ دُوْلُوْرْكُوْ

Iki wasiat maring anakku   #   Lan maring para muslim dulurku

Pada bait itu, KHR. Asnawi menyebut-nyebut kata ‘anakku’ dan ‘para muslim dulurku’. Hal ini berarti bahwa kitab tersebut sebenarnya tidak eksklusif ditujukan untuk keturunannya.

Perlu digarisbawahi, penyebutan ‘para muslim dulurku’ di situ bukan berarti bahwa KHR. Asnawi tidak mengakui non-muslim sebagai saudaranya. Sebagai ulama’ atau ilmuwan bertaraf internasional, tentu ia sangat paham bahwa Islam tak hanya mengakui hubungan persaudaraan karena kesamaan agama (ukhuwah Islamiyyah) saja, melainkan juga hubungan persaudaraan karena setanah air (ukhuwah wathaniyyah) dan sesama manusia (ukhuwah insaniyyah).

Pada perkembangannya, karya KHR.  Asnawi tersebut ditulis ulang sebanyak dua kali. Awalnya, kitab itu ditulis oleh KH. Minan Zuhri dalam bentuk lembaran. Kemudian ditulis ulang oleh Ahmad Minan Zuhri dan diterbitkan pada 31 Januari 2006. (Khosi’in, 2015: 80).

Pada sampul depan kitab tersebut terdapat foto lukisan KH. Raden Asnawi. Di atas foto, judul kitab ditulis dengan bahasa Arab. Sedangkan di bawah foto terdapat keterangan bahwa kitab itu “Disiarkan Oleh: Pengurus Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin (KHR. Asnawi) Bendan Kerjasan Kota Kudus”.

Seperti halnya, pada sampul dalam juga terdapat foto lukisan KHR. Asnawi Kudus. Namun pada bagian ini di atas foto tertera tulisan ‘Syi’iran Naṣīḥāt’ (شِعِرَانْ نَصِيْحَةْ). Sedangkan di bawah foto tertulis keterangan bahwa kitab tersebut merupakan karya KHR. Asnawi, Kudus Jawa tegah yang ditulis dengan bahasa Arab.

Isi kitab ini dimulai dengan muqaddimah dari Ahmad Minan Zuhri. Halaman 1 sampai 4 berisi 62 bait syi’ir berbahasa Jawa dengan aksara pegon. Halaman 5 berisi Shalawat Asnawiyyah, sedangkan halaman  setelah itu, pada halaman 5 dalam versi cetaknya, setelah 6 sampai 9 berisi terjemah dari syi’iran berbahasa Jawa dan ditulis dengan aksara Latin.

Shalawat Asnawiyyah dan Indonesia

Secara garis besar, kitab tersebut banyak berbicara mengenai budi pekerti atau akhlak. Salah satu bagian menarik dari kitab tersebut terletak pada lampiran ‘Shalawat Asnawiyah’. Shalawat ini terlampir pada halaman 5, terdiri dari 9 bait berbahasa Arab.

Di bagian anak judul disebutkan bahwa shalawat ini dikarang oleh KHR. Asnawi. Bait ke-1 dan ke-2 berisi do’a shalawat kepada Nabi Muhammad, para Nabi dan Rasul. Bait ke-3, 4, 5 dan 6 berisi do’a agar Tuhan memberi anugerah kepada semua orang yang mebaca al-Qur’an. Anugerah yang diminta itu berupa dibukanya dan diteranginya mata hati, pemahaman seperti halnya para Nabi, dan ditetapkannya iman di dunia dan akhirat.

Menariknya, shalawat tersebut sekaligus menjadi saksi bahwa KHR. Asnawi bukan sekadar kiai dan ulama, namun juga seseorang yang sangat mencintai Indonesia. Pada bait ke-7, secara eksplisit KHR. Asnawi menyebutkan kata ‘Indonesia’.

اَمَانْ اَمَانْ اَمَانْ اَمَانْ   #   بِاِنْدُوْنِسِيَا رَايَا اَمَانْ

Aman aman aman aman   #   Bi Indunisia Raya Aman

Lihatlah bagimana alam bait tersebut KHR. Asnawi berdo’a agar Indonesia selalu aman dan sejahtera. Sedangkan bait ke-8 dan ke-9 berisi permintaan agar semua do’a tersebut dikabulkan. “Āmīn āmīn āmīn āmīn # Yā Rabbi Rabbal ‘Ālamīn. Āmīn āmīn āmīn āmīn # Wa Yā Mujība as-sā’ilīn” begitu bunyinya.

Sekali lagi, kisah di atas menggambarkan adanya harmoni antara Islam, Jawa dan Indonesia. Jika saja bisa diungkapkan, mungkin KHR. Asnawi ingin mengatakan “Aku Islam, Aku Jawa, Aku Indonesia”. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme