Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Menelusuri Jejak Islam Jawa

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Islam Jawa sebenarnya tidak pernah ada. Setidaknya, jika mengacu pada realitas sosial-agama di Jawa, masyarakat tidak mendaku diri secara tegas sebagai orang yang beragama Islam Jawa. Yang bisa ditemukan adalah masyarakat Jawa yang beragama Islam. Bukan Islam Jawa.

Meski demikian, dalam jagad akademik—terutama kajian Antropolgi maupun Sosiologi Agama—istilah Islam Jawa terlanjur menggema. Dari mana datangnya istilah ini? Joachem van den Boogert dengan percaya diri menyebut konsep Islam Jawa sebenarnya merujuk pada pengalaman Barat.

Pandangan Boogert tersebut bisa kita baca dalam Rethinking Javanese Islam: Towards new descriptions of Javanese traditions (2015). Dia juga menambahkan, Islam Jawa tidak merujuk pada realitas masyarakat Jawa. Sekali lagi, yang selama ini sering kita anggap sebagai Islam Jawa—dalam pandangan ini—sebenarnya hanyalah narasi Barat dalam menggambarkan agama Islam di Jawa.

Karena itu, sebenarnya hampir percuma jika kita berupaya mencari Islam Jawa dalam realitas keagamaan masyarakat Jawa. Sebaliknya, Islam Jawa akan dengan mudah ditemukan jika kita menggunakan kacamata Barat. Dalam konteks ini sarana yang paling memadai adalah melalui karya-karya para sarjana yang menyetudi agama Islam di Jawa.

Diantara karya yang paling tersohor soal ini adalah The Religion of Java milik antropolog Amerika terkemuka, Clifford Geertz (1926-2006). Karya ini pertama kali diterbitkan oleh University of Chicago Press pada 1960. Sedangkan penelitiannya disponsori oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT). Karya inilah yang kemudian menjadi ‘kitab suci’ yang terus dirujuk dalam kajian Islam Jawa.

Di tangan Geertz, Islam Jawa diwakilkan pada 3 kategori. Yang pertama adalah abangan. Kelompok ini dihadirkan dengan penuh prasangka negatif. Abangan digambarkan sebagai orang-orang yang tidak taat dalam menjalankan agama. Bukan hanya itu, abangan juga menjadi contoh sempurna untuk masyarakat yang masih diselimuti oleh dunia mistik, animisme.

Kelompok abangan dicirikan hidup di pedesaan dengan pekerjaan utama sebagai petani. Dalam keseharian, masyarakat abangan lebih banyak diwarnai dengan ragam ritual slametan yang tidak berhenti sejak periode kelahiran sampai kematian. Mereka juga dianggap memiliki relasi yang kompleks dengan roh-roh.

Dalam kompleksitas relasi itu, slametan seperti menjadi sarana negosiasi kelompok abangan untuk mendapatkan keselamatan (dalam bahasa Jawa ngoko disebut slamet dan ritualnya disebut slametan). Bagi Geertz, slametan inilah yang menjadi inti dari sistem keagamaan orang Jawa.

Kategori kedua adalah santri. Bisa jadi, konsepsi santri dalam uraian Geertz berbeda dengan apa yang kini dipahami oleh mayoritas masyarakat. Hal ini karena penjelasan Geertz soal santri tidak luput dari stereotip. Di beberapa bagian, Geertz memberikan deskripsi yang memadai—secara metodis disebut dengan thick description—soal dua kelompok santri.

Santri pertama adalah santri modernis yang diwakili oleh organisasi Islam Muhammadiyah yang juga memiliki kedekatan dengan Masyumi. Santri kedua adalah santri tradisional-kolot yang merujuk pada organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Dalam gambaran Geertz, keduanya hampir tidak memiliki titik temu yang mesra. Sebaliknya, yang ada hanyalah pertentangan demi pertentangan.

Bahkan, pertentangan antara dua jenis santri ini sampai tembus pada olokan-olokan. Seperti yang direkam oleh Geertz, Muhammadiyah mengolok NU sebagai ‘agama kuburan dan ganjaran’. Sebaliknya, bagi NU, Muhammadiyah disebut sebagai organisasi Islam hanya karena mereka mengawali rapat dengan basmalah dan menutupnya dengan hamdalah. Bukan karena yang lain.

Itulah gambaran Geertz soal santri. Meski Geertz memberikan deskripsi panjang-lebar lengkap dengan pertentangan antar santri, akhirnya definisi yang dipilih oleh Geertz tentang santri adalah orang Islam taat yang mayoritas tinggal di kota dengan mata pencaharian sebagai pedagang. Karena itu, sebenarnya deskripsi Geertz soal santri akhirnya lebih merupakan cara pandang santri ala Muhammadiyah yang dianggap lebih mewakili kemurnian Islam.

Kategori ketiga dalam karya Geertz tersebut adalah priyayi. Kelompok ini dianggap mewakili kelompok yang memegang teguh tradisi Hindu-Budha. Mereka juga menggambarkan etika dan etiket yang halus. Bagi beberapa ahli menyebut, misalnya Harsja W. Bachtiar dalam The Religion of Java: Sebuah Komentar yang terbit di Majalah Ilmu-Ilmu Sastra (1973), bukan tidak mungkin pada dasawarsa terakhir pendudukan Belanda mereka adalah penganut teosofi. Itupun juga tidak sepenuhnya tepat.

Walau demikian, priyayi dianggap tidak tepat masuk dalam trikotomi Geertz yang didasarkan pada agama tersebut. Priyayi lebih tepat dianggap sebagai representasi kelas sosial tinggi atau ningrat. Ini seperti ditegaskan oleh Parsudi Suparlan di bagian penutup Agama Jawa—versi Indonesia dari The Religion of Java—yang terbit pada 1985. Karena itu, kategori priyayi tidak akan dibahas dalam uraian selanjutnya.

Karya ini, pada akhirnya, melihat Islam Jawa sebagaimana diwakili oleh dua kategori utama, yaitu abangan dan santri. Kategori ini bukan semata mewakili suatu kelompok berdasar ketaatan beragamanya, namun juga kelompok yang akan terus dipertentangkan dalam berbagai hal.

Di Jawa, sebagai representasi Islam yang taat, akhirnya muncul kategori santri. Sebagai deviasinya, yang dianggap tidak taat, dimunculkan kategori abangan. Keduanya dianggap bertentangan, sejak dulu dan seterusnya. Saya kira, secara akademik, inilah bangunan dasar dalam studi Islam Jawa.

Kalau mau jujur, sebenarnya Geertz bukan orang pertama yang memakai kategori-kategori tersebut. Dengan jelas sejarawan Rickles pernah merunut asal-usul kategori abangan ini. Dalam artikelnya berjudul The Birth of Abangan yang terbit di jurnal bergengsi Bijdragen tot de Taal-, Land –en Volkenkune (2006), kata abangan pertama kali ditemukan pada laporan orang-orang Belanda seperti W. Hoezoo dan S.E Harthoorn pada pertengahan abad-19.

Pada masa itu, abangan digambarkan sebagai ejekan yang dilontarkan oleh kaum putihan. Ejekan semacam ini didasarkan pada pengamalan keagamaan masing-masing. Hanya karena satu kelompok dianggap tidak taat dalam mengamalkan agama, kelompok lain kemudian mengejeknya. Relasi inilah yang diwarisi oleh Geertz dan tembus dalam deskripsinya soal abangan dan santri.

Konstruksi seperti itulah yang kemudian mendasari kajian Islam Jawa. Ini bukan soal siapakah sebenarnya abangan dan santri, tapi lebih pada persoalan bagaimana mereka digambarkan.

Dalam panggung akademik, santri dan abangan lebih mirip seperti air dan minyak. Mereka berdampingan tetapi tidak bisa bersama. Bahkan, lebih sering digambarkan bertentangan. Sampai-sampai, Geertz mengkapling keduanya secara tegas. Seperti ada segragasi ruang yang memisah antara keduanya.

Padahal, dalam banyak kasus tidak sepenuhnya demikian. Cara masyarakat Jawa merayakan Islam tidak bisa dipisah sedemikian rupa dari sentuhan budaya. Dalam balutan budaya Jawa ini, Islam terbukti bisa mewujud dalam kehidupan sosial secara harmoni. Tidak terlalu dipusingkan dengan formalisme syariah, sekaligus tidak anti-budaya. Islam di Jawa begitu santai. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme