Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Seksualitas: dari Parrhesia menuju Tabu

Johan Avie [] Ketua Young Lawyers Committee DPC Peradi Surabaya []

Johan Avie [] Ketua Young Lawyers Committee DPC Peradi Surabaya []

Kehadiran seksualitas terjadi bersamaan dengan kelahiran peradaban manusia. Wacana seksualitas akan selalu ada, hadir, dan berkelindan di setiap zamannya. Seksualitas bukan sekedar wacana. Ia hadir dengan sejarah yang cukup panjang. Menempati wilayahnya sendiri, dan memiliki dinamikanya sendiri.  Sebagai variabel budaya, seks adalah kebudayaan tertua dalam sejarah peradaban umat manusia.

Perlu dipahami bahwa seksualitas tidak sama dengan seks. Ia lebih rumit ketimbang sekedar hubungan jasmaniah atau kegiatan reproduksi semata. Seksualitas dipahami sebagai realitas manusia yang lebih luas dan mendalam ketimbang seks. Seksualitas tidak hanya sekadar realitas reproduksi dan kelakuan genital, tetapi lebih menekankan pada siapakah kita (who I am). Misalnya, bagaimana kita memaknai tubuh kita sendiri, bagaimana kita memahami feminitas dan maskulinitas dalam diri kita, atau bagaimana kita memahami hasrat seksual kita. Dengan kata lain, seksualitas adalah cara manusia dalam memaknai seks itu sendiri. Foucault sendiri memaknai seksualitas sebagai cara orang menggunakan energi manusiawi ddan kenikmatan manusiawinya demi menghasilkan kebenaran (Bernard S. Hayong, 2013).

Sebaliknya, kata “seks” merujuk pada sistem biologis dari pria dan wanita dewasa, yang biasanya berkaitan dengan kegiatan reproduksi manusia dan kenikmatan genital. Artinya, seks adalah apa yang kita lakukan (what we do). Seks selalu melibatkan perasaan, emosi, jiwa, dan juga pikiran. Ke-empat unsur tersebut menjadi penentu mengapa seringkali orang tidak mencapai kepuasan saat melakukan hubungan seks dengan pasangannya.

Salah satu ilustrasi yang menarik soal keterkaitan seks dan seksualitas tertuang di salah satu film Hollywood berjudul “Don Jon”. Dikisahkan, ada seorang lelaki yang lebih merasakan kepuasan seksual saat masturbasi sembari menonton video porno ketimbang berhubungan badan dengan lawan jenisnya. Pada akhirnya lelaki itu menyadari bahwa selama ini, seks yang ia lakukan dengan lawan jenisnya itu hanyalah sebatas kontak fisik. Ia tidak melibatkan perasaan, emosi, jiwa, dan juga pikirannya. Tidak ada interaksi perasaan, emosi, jiwa, dan pikiran di antara kedua pasangan itu selama melakukan hubungan badan.

Kesimpulan dan solusi seperti itu tidak mungkin bisa ditelurusi tanpa bicara soal seksualitas. Refleksi seksualitas adalah cara untuk mengatasi masalah dalam diri manusia, termasuk permasalahan seksual yang dialami oleh Don Jon tadi.

Perubahan zaman menghasilkan pergeseran makna, begitu pula pemaknaan terhadap seksualitas. Penafsiran terhadap seksualitas berubah dari waktu ke waktu. Pada abad ke-3 hingga awal abad 15-an (Yunani-Romawi Klasik), seksualitas diperbincangkan secara terbuka. Ucapan-ucapan kotor yang berbau seks dilontarkan tanpa sensor. Ruang perbincangan soal seks dibuka seluasnya, tanpa harus disamarkan.

Foucault menggambarkan bahwa zaman ini adalah masa seksualitas parreshia. Artinya, seks melibatkan subjek (manusia) untuk terus berdialog dalam diskursus mengenai dirinya. Manusia merayakan pluralitas wacana seksualitas. Setiap individu dibiarkan memiliki pandangan sendiri-sendiri terhadap tubuhnya. Seks dipandang sebagai sebuah seni kehidupan. Persis seperti yang dikatakan oleh Foucault, pada masa ini manusia memperoleh kebenaran seksualnya melalui pergumulan erotisme tubuh.

Situasi mulai berubah saat memasuki Abad Pertengahan (sekitar abad 16-17an). Pernafsiran atas seks mengalami pergeseran makna. Segala sesuatu yang berkaitan dengan seksualitas dikontrol secara ketat oleh otoritas Gereja. Birahi, seks, dan erotisme dinilai sebagai sesuatu yang kotor, bahkan seksualitas dianggap dekat dengan perbuatan setan. Para Rishi yang berada dibawah otoritas Gereja dikondisikan agar mengendalikan diri dari unsur-unsur seksualitas. Untuk sekadar berimajinasi tentang seks saja, mereka dilarang. Pada akhirnya, manusia di Abad Pertengahan ini diharuskan untuk mematikan segala unsur yang bisa membangkitkan libido dalam tubuh. Jika mereka bisa mengatasi itu semua, mereka dianggap bersih dan suci dari dosa.

Tabu seksualitas masih tetap terjadi saat masa Victorian. Standar ketabuannya bukan lagi didasarkan pada hukum gereja. Ratu Victoria menempatkan moral sebagai alat represi terhadap wacana seksualitas. Perbincangan terkait seks dianggap vulgar dan seronok. Manusia yang membincangkannya dianggap melanggar norma. Patut diketahui, Ratu Victoria adalah kepala negara yang selalu mengontrol perilaku rakyatnya. Ia tidak hanya mengatur pemerintahnya, tetapi ia juga sangat serius dalam mengatur tingkah laku rakyatnya.

Dengan otoritas penuh, Ratu Victoria menetapkan kualifikasi moral terhadap rakyatnya. Kualifikasi moral itulah yang membatasi diri manusia dari seksualitas. Bahkan pada masa ini, seks dimaknai sebatas kegiatan reproduksi semata. Seks hanya ada di atas ranjang sepasang pengantin. Otoritas Gereja dan kualifikasi moral pada akhirnya menciptakan masyarakat yang puritan dan tertutup soal seksualitas.

Jika seksualitas direpresi, ekspresi seksualitas akan berubah menjadi bentuk ekspresi lain, yang bisa jadi adalah bentuk ekspresi negatif. Semisal, manusia yang membatasi ekspresi seksualitasnya lebih mudah marah, pendendam, atau berperilaku kasar. Semua ekspresi negatif tersebut disebabkan oleh imajinasi seksualitas mereka yang terus-menerus direpresi oleh sistem. Pada akhirnya, alam bawah sadar mereka melimpahkannya melalui bentuk ekspresi negatif tersebut.

Orang membayangkan bahwa zaman modern menjadi pemecah ketabuan masyarakat atas seksualitas. Memang pada zaman modern, hilir mudik informasi tidak lagi terbatas. Di masa ini pula, seksualitas diubah menjadi obyek ilmu pengetahuan (scientia sexualis). Adalah Sigmund Freud yang menjadikan seksualitas sebagai bahan penelitian. Ia menggunakan treatment yang berbeda dalam memperlakukan seksualitas. Oleh Freud, seksualitas dianalisis dengan menggunakan ilmu kedokteran, kejiwaan, dan psikoanalisis. Sama halnya dengan ilmu pengetahuan lain, dan juga dampak dari Positivisme Comte, seksualitas diuji dan dirumuskan dengan metode ilmu. Meski begitu, seksualitas tetap saja direpresi, walaupun tidak lagi dianggap tabu.

Kontrol terhadap seksualitas bukan lagi ditentukan oleh Gereja atau kualifikasi moral, tetapi berubah dengan didasarkan pada alasan kesehatan klinis. Dengan begitu, seksualitas bukan dijalankan sebagai bagian dari pengalaman diri manusia yang alamiah. Ilmu pengetahuan meletakkan seksualitas sebagai obyek kajian yang patut dicurigai terus menerus. Tongkat estafet akan kontrol seksualitas berpindah dari tangan Gereja ke kaum Victorian, dan berakhir di tangan para ilmuwan. Manusia modern tidak akan pernah merasakan kenikmatan seksual karena insisuasi dan limitasi tetap terjadi.

Di abad Modern, wacana tentang seks memang tidak hilang, justru diperbincangkan secar terus menerus. Wacana tentang seks semakin meledak. Misalnya saja, lembaga pendidikan formal sudah mulai memasukkan pendidikan seks ke dalam kurikulumnya. Perpustakaan dibanjiri oleh buku-buku tentang seksualitas. Otoritas negara tidak menolak seksualitas, ia justru berkembang biak bersamaan dengan perluasan kekuasaan. Artinya, wacana seksualitas juga dibentuk oleh kekuasaan. Inilah yang kemudian menjadi masalah baru. Sewaktu seksualitas diubah dari urusan privat menjadi urusan publik, justru perubahan ini menyebabkan kekacauan dan dekadensi moral. Masyarakat modern mereduksi makna seksualitas, bahkan wacana tentangnya diseragamkan oleh penguasa. Seksualitas dibatasi sebatas ruang lingkup ilmu pengetahuan saja.

Seksualitas tidak tergantung pada otoritas tertentu, tetapi bagaimana subyek (manusia) menjadi ahli diri yang menikmati otonomi tubuhnya. Seks merupakan resistensi subyek dan seni eksistensi (ubermensch) yang merupakan hasil dari elaborasi jati diri agar subyek dapat menemukan pemaknaan baru terhadap dirinya. Refleksi atas tubuhnya sendiri, bagi manusia adalah hal yang harus selalu dilakukan. Tanpa merefleksi pemaknaan atas tubuhnya, manusia tidak akan mendapati bahwa tubuhnya telah direpresi oleh otoritas tertentu. Agar mencapai suatu pemaknaan baru, seksualitas harus dipahami sebagai sesuatu yang dinamis, plural, dan sangat cair. Seksualitas tidak boleh dipahami sebagai sesuatu yang baku, kaku, dan universal. Merayakan pluralitas seksualitas itulah yang sepatutnya kita lakukan. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme