Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Falsafah Tukon Pasar

Venella Yayank Hera Anggia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Venella Yayank Hera Anggia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Masyarakat Jawa terbiasa dengan sinamun ing samudana atau menyampaikan nasihat melalui simbol. Salah satunya melalui makanan tradisional, yaitu tukon pasar atau biasa dikenal dengan jajanan pasar. Terdapat makna tersirat yang mendalam di setiap tukon pasar. Bahkan jika makna ini diresapi, akan membuat hidup menjadi lebih baik.

Pada awalnya, tukon pasar memang hanya dijual di pasar. Ini menjadikan jajanan pasar sebagai simbol sesrawungan atau silaturahmi. Sebab, pasar dianggap sebagai tempat bertemunya orang banyak dan hiruk pikuk berbagai urusan. Lebih dari itu, tukon pasar sekaligus menjadi sarana untuk mengingat pada kehidupan dunia.

Jajanan ini disinyalir sudah ada sejak periode Walisanga. Pada masanya, jajanan pasar digunakan sebagai media dakwah untuk menyebarkan agama Islam di Jawa oleh para Walisanga (Achroni, 2017). Maka tidak heran jika jananan tersebut sering dijumpai pada acara-acara adat Jawa. Seperti slametan, mantenan, ruwahan, dan sepasaran bayi. Inilah yang kemudian dianggap sebagai alasan pembuatan tukon pasar.

Selain itu, biasanya makanan ini disajikan sebagai kudapan ketika jagongan. Di Jawa, ketika ada teman atau sanak saudara yang kebetulan mampir di rumah, tukon pasar inilah yang dihidangkan (Geertz, 2013). Tukon pasar dijadikan nyamikan sederhana. Karena itu, jajanan ini juga dapat menjadi simbol kerukunan dan interaksi sosial. Buktinya adalah ketika jagongan berlangsung mereka tidak memandang jabatan maupun kelas sosial. Semua sama kedudukannya.

Dari sekian ragam tukon pasar, semua mengandung pesan moralnya masing-masing berdasarkan bahan dan cara pengolahannya. Biasanya, jajanan ini terdiri dari buah, makanan, dan minuman. Buah di sini terdiri dari pisang, jeruk, nanas, sukun, dhondong dan jambu. Makanan berupa wajik, jadah, apem, lemper, klepon, nagasari dan iwel-wel. Adapun minuman biasanya berupa dawet. Ragam tukon pasar ini jika dijabarkan maka akan tersingkap setiap maknanya.

Pisang yang kerap menjadi tukon pasar adalah jenis pisang raja. Pisang ini dikaitkan dengan keagungan dan kemuliaan. Biasanya, buah pisang digunakan sebagai ubarampe dalam sesajen dan slametan. Umumnya, sesajen menggunakan gedhang ijo atau pisang yang masih berwarna hijau. Gedhang ijo memiliki makna gaweo seneng anak lan bojo. Ini dimaksudkan bahwa harus membuat senang anak dan istri.

Jeruk bermakna jaba jero kudu mathuk. Luar dan dalam batin harus sesuai. Apa yang diinginkan dan apa yang dilakukan harus sejalan. Nanas memiliki makna wong urip aja nggragas. Artinya ketika hidup janganlah menjadi orang yang serakah. Manusia tidak diperkenankan mengambil hak orang lain. Sedangkan buah sukun maknanya supoyo rukun. Artinya, buah sukun ini mengandung amanat agar manusia hidup rukun dengan sesama.

Dhondong atau buah kedondong dimaknai sebagai ojo kegedhen omong. Sebagai manusia, orang Jawa tidak boleh besar bicaranya. Apa yang dikatakan dengan realitas harus sama. Jambu, ojo ngudal barang sing wis mambu. Pesan moral yang terkadung dalam buah jambu adalah agar orang Jawa tidak melakukan hal-hal buruk. Orang Jawa patut untuk menjaga sikap arif, suka menolong, kalem, dan opo enek e (apa adanya).

Lain makna dalam buah, lain pula makna yang terkandung dalam tukon pasar jenis makanan. Seperti jadah dan wajik, artinya wani tumindak becik. Orang Jawa haruslah berani melakukan kebaikan. Wajik maupun jadah seringnya digunakan sebagai ampilan pada acara lamaran Jawa. Dalam lamaran, wajik digunakan sebagai simbol gawe raket. Kata raket diambil dari kosa kata ket pada ketan yang pliket. Harapannya agar dapat mempererat hubungan dua keluarga. Hubungan terjalin rapat, kuat serta akrab dari keluarga yang sedang menjalankan prosesi lamaran.

­Iwel-iwel merupakan jajanan pasar yang dapat ditemui pada acara sepasaran bayi. Konon, nama iwel-iwel diyakini berasal dari kata liwalidayya yang artinya kedua orangtua. Maksudnya, agar bayi yang disepasari tetap lengket dengan orangtuanya. Lengket di sini berarti berbakti. Makna tersebut diambil dari bahan ­iwel-iwel, yaitu ketan yang bertekstur lengket.

Lemper dimaknai sebagai yen dilem atimu ojo memper. Jangan bangga diri ketika mendapatkan pujian. Apalagi sampai menjadi sombong. Ini menjadi simbol bahwa betapa pentingnya untuk bersikap rendah hati. Makanan ini mudah dijumpai pada acara hajatan, yang melambangkan harapan agar rezeki datang. Harapan dapat dilihat melalui bahan lemper yang terbuat dari ketan. Sifat lengket pada ketan inilah yang menjadi simbol pengharapan rezeki datang dan menempel selama acara berlangsung.

Klepon merupakan tukon pasar yang menggambarkan kesederhanaan orang Jawa. Kesederhanaan tersebut terlihat dari bahan-bahan yang digunakan untuk membuat makanan ini. Jenis bahan sedikit dan mudah didapatkan. Walaupun begitu, juga terdapat makna lain. Warna hijau klepon melambangkan jiwa muda. Rasa manis dalam klepon sebagai perwujudan rasa syukur.

Hal tersebut mengajarkan bahwa pemuda Jawa harus mampu bersyukur kepada Yang Maha Esa. Selain berdasarkan makna, klepon juga mengandung ajaran etika. Petuah etiknya adalah orang Jawa jangan sampai makan dengan keadaan kecap (makan dengan mulut terbuka). Sebab, akan membuat gula cair di dalam klepon muncrat ke mana-mana.

Selain itu, ada pula apem. Apem merupakan tukon pasar yang tidak boleh ketinggalan ketika slametan. Masyarakat Jawa meyakini bahwa mulanya apem dibawa dari Mekah oleh Ki Ageng Gribig ketika pulang haji (Achroni, 2017). Beliau memberi nama apem dari bahasa Arab ‘afuwwum. Artinya maaf atau meminta ampunan. Beliau adalah ulama pada masa Mataram. Ki Ageng Gribig menyebarkan agama Islam melalui dakwah di kawasan Klaten, Jawa Tengah.

Pada saat beliau pulang haji tersebut, banyak warga Klaten datang untuk mendengarkan wejangannya. Ketika warga akan pulang, Ki Ageng Gribig bermaksud memberikan oleh-oleh berupa apem. Tapi ternyata apem tidak mencukupi. Beliau menyuruh istrinya untuk membuatkan apem lagi agar apem bisa dibagi rata kepada semua tamu. Dari sini apem digunakan sebagai simbol permintaan maaf serta sedekah. Hal ini bermula dari Ki Ageng Gribig yang membagi-bagikan apem tersebut.

Terlepas dari tukon pasar yang dianggap hanya sekedar makanan, ternyata dapat menjadi pedoman hidup orang Jawa. Dalam pandangan leluhur orang Jawa, apapun bisa menjadi perantara untuk mengajarkan kebaikan dan etika. Bahkan, terkadang tidak dapat diduga. Ini menjadi bukti betapa unik dan istimewanya budaya Jawa. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme