Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Situs Panji di Candi Mirigambar

Yudha Ahmada AF [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Yudha Ahmada AF [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Pada 11 Juli 2019 di Candi Mirigambar, Tulungagung, digelar acara Festival Budaya Panji Nusantara dalam rangka Indonesiana. Ini merupakan program yang diinisiasi oleh Dirjen Kebudayaan dengan melibatkan stakeholders kesenian dan kebudayaan. Festival Panji Nusantara adalah bentuk apresiasi kebudayaan Panji. Candi Mirigambar dipilih karena merupakan situs Panji yang sangat penting.

Candi Mirigambar dibangun pada kisaran 1292 M pada akhir kerajaan Singasari. Pada sebagian batu candi terdapat angka tahun 1214 Saka atau 1292 M dan tahun 1310/1428 M. Berdasarkan data tersebut, dapat dipastikan bahwa masa pembangunan dan penggunaannya berlangsung pada akhir abad XII hinga akhir abad XIV, yakni masa pemerintahan Wikrama Warddhana (1389 M – 1429 M).

Candi ini berlokasi di Desa Mirigambar, Kecamatan Kali Dawir, Tulungagung. Masyarakat setempat meyakini candi tersebut memuat kisah seorang ksatria, kisah perjuangan Anglingdharma (relif pada dinding teras II). Ada sejarah lisan yang sangat dipercaya bahwa Anglingdarma adalah seorang raja yang mashur. Ia memiliki kesaktian dan kemampuan berkomunikasi dengan binatang.

Keyakinan ini diperkuat oleh hasil penelitian Maria K.Klokke, seorang arkeolog Belanda pada 1990. Ia menyatakan ada tiga panel relief dinding teras II yang menggambarkan adegan hewan: burung bangau, ikan dan kepiting. Temuan tersebut menurutnya merupakan kisah Tantri Kamandaka yang menceritakan ajaran moral dalam bentuk cerita fabel.

Teras I oleh masyarakat setempat dinyatakan sebagai relief Panji. Pada pahatan relief tersebut terdapat empat figur: dua perempuan di tengah saling berhadapan dan ada dua pria masing-masing dibelakangnya. Tetapi salah satu pria sebelah kanan memakai penutup kepala tekes yang mirip belangkon tetapi tidak memiliki punuk di belakang.

Relief tersebut bagi masyarakat sekitar menyimpan memori kolektif tentang kisah Panji. Hal ini dibuktikan oleh para ahli bahwa releif memiliki kemiripan dengan candi-candi lain. Setidaknya ada 7 candi yang berhasil diidentifikasi oleh para ahli memiliki kesamaan tekes dan cerita fabel.

Candi-candi tersebut adalah, [1] Candi Gajah Mungkur (abad 15 M), relif Arjunawiwaha dan Panji; [2] Gua Kendalisada di Penanggungan, relif Dewaruci, Arjunawiwaha dan Panji (abad 15 M); [3] Candi Watang di Penanggungan (abad 15 M); [4] Candi Kebo Ireng panil lepas di Pasuruan (abad 15 M); [5] Candi di daerah Gambyok Kediri (abad 15 M); [6] Candi Sanggrahan, fragmen panil (abad 15 M) di Tulungagung; [7] Candi Mirigambar (abad 15 M) di Tulungagung.

Agus Aris Munandar, Arkeolog Universitas Indonesia, memastikan bahwa kisah Panji telah dikenal pada era Majapahit. Data itu tersurat pada relief candi-candi era Majapahit. Dalam temuannya, relief Panji tertua diketahui terdapat di Candi Mirigambar, Tulungagung.

Candi ini diperkirakan sudah dikenal sejak berdirinya kerajaan Majapahit. Terus digunakan hingga periode awal kemerosotan Majapahit atas kekuasaan Wikrama Warddhana (1389-1429 M), salah satu menantu Hayam Wuruk.

Tokoh utama cerita Panji adalah Inu Kertapati. Ia adalah seorang pangeran dari Jenggala, dan Sekartaji atau Candrakirana atau Galuh putri Kedaton Kediri. Pada cerita tersebut berlatar tempat di Jenggala, Kediri, Urawan, Singasari, dan Gagelang.

Agaknya cerita Panji mulai ditulis pada era keemasan Majapahit. Dengan lahirnya kesusastraan baru, yang sudah tidak menuliskan kisah ksatria India melainkan ksatria Jawa. Ksatria Jawa itu merupakan cerita tentang putra-putri raja-raja Jawa. Inilah yang menjadi pijakan cerita Panji.

Beberapa cerita rakyat seperti Keong Mas, Ande-Ande Lumut dan Gelok Kencana disinyalir merupakan turunan dari cerita Panji. Karena terdapat banyak cerita  yang berbeda-beda tetapi saling berbuhungan, cerita-cerita tersebut dimasukkan dalam kategori ‘lingkup kisah Panji’.

Sebutan Panji sendiri merupakan serapan dari kata apanji atau mapanji, merupakan gelar untuk bangsawan tertinggi. Adapun beberapa tokoh cerita rakyat yang menggunakan gelar tersebut seperti halnya; Panji Tohjaya, putra Ken Arok dengan Ken Umang, serta Sang Mapanji Angragani, patih Singhasari yang memimpin Pamalayu era Kertanagara, Singasari.

Uniknya cerita Panji di Candi Mirigambar merupakan gabungan antara cerita Panji dan Anglingdarma. Sosok Panji dalam relief candi tersebut memakai topi tekes mirip blangkon tapi tidak ada tonjolan, lebih mirip blangkon gaya Solo atau Surakarta. Relief Panji di sini telanjang dada, sedangkan bagian bawah memakai kain yang dilipat rapi.

Adapun dari beberapa relief sosok Panji digambarkan membawa keris yang terselip di belakang pinggang. Ada juga yang tergambarkan membawa senjata berbentuk tanduk kerbau (Bernet Kempers, 1959).

Cerita Panji dari Candi Mirigambar

Menurut Poerbatjaraka dalam Zoetmulder (1974) kisah Panji memiliki banyak varian; satu dari Malaya, satu dari Kambpuchea, lima dalam bahasa Jawa modern dan satu menggunakan bahasa Jawa Pertengahan. Cerita Panji di Candi Mirigambar juga memiliki keterkaitan dengan karya Wangbang Wideya dalam kidung Waseng Sari.

Ulasan ini merujuk pada tulisan Zuly Kristanto. Konon, dahulu ada seorang kesatria Wira Namtami (Raden Inu) dari Kahuripan bertunangan dengan Puteri Daha, Galuh Sekartaji. Di waktu yang sama Raja Magadha, yang juga suka pada Galuh, mengetahui berita pertunangan tersebut. Terbakar api cemburu, ia mengutus seorang jendral untuk menculik dan membunuh raden Inu, tujuannya untuk mengagalkan pernikahan mereka.

Mujurnya utusan Magadha tersebut, dengan mudah berhasil mengelabui Raden Inu dengan obat tidur. Tanpa mengurangi waktu, jendral Magadha membuang jasad Raden Inu yang lunglai ke sungai, dengan harapan ia mati dan terhanyut sampai Daha.

Ternyata Jagat berkehendak lain, Raden Inu sempat terselamatkan dan ditemukan oleh para Bayan dan Sanggit pada hari ketujuh, ketika mereka sedang melakukan peribadatan. Akibat obat yang teramat kuat Raden Inu hilang ingatan. Tanpa curiga warga sekitar mengangkatnya menjadi seorang Pangalasan (Panji) bernama Undakan Waseng Sari.

Kematian Raden Inu membuat Raja Magadha gembira, ia langsung melakukan serangan terhadap Daha dengan harapan bisa mendapatkan Galuh. Di waktu yang sama Waseng Sari (Panji) sudah memiliki ikatan dengan Daha, bersiap untuk membantu melawan Raja Magadha. Ia dibantu oleh para pengikutnya yang berada di Kahuripan. Tetapi selama pertempuran Panji tetap menyembunyikan identitas aslinya dari Raja Daha.

Pertempuran pun berlangsung sengit, berkat strategi dari Panji mereka mendapatkan kemenangan. Oleh sebab itu Panji kemudian diangkat menjadi kepala para Wong Anarawita. Dengan demikian Panji dan pengikutnya dari Kahuripan memiliki hubungan dekat dengan Raja Daha.

Pada kesempatan lain, Puteri Daha bersama dayangnya sedang bermain gamelan, bersamaan itu Waseng Sari duduk di dekatnya. Ketika memperhatikan Puteri Daha, Waseng Sari meminta diajarkan bermain gamelan, yang sebenarnya ia sudah mahir memainkannya. Berawal dari sinilah timbul rasa cinta: Panji dan Puteri Daha. Cinta mereka tidak bisa tebendung lagi.

Mereka hanyut dalam asmara, yang berujung pada penyatuan. Keesokan harinya, sang Puteri merasakan sakit pada bagian perut, seisi istana dibuat kalangkabut atas rasa sakit yang dideritannya. Ia ingat akan kejadian sebelumnya bersama penabuh gendang tempo hari, ia mencari dan mereka bertemu, secara ajaib rasa sakit Puteri hilang. Setelah kejadian tersebut mereka sering bertemu dengan sembunyi-sembunyi.

Panji memutuskan kembali ke Kahuripan dan berencana untuk melamar Puteri Daha. Keluarga Kahuripan merasa bungah atas kedatangan Putra mahkota, raden Wira Namtani yang sempat hilang itu. Setelah mendengarkan penjelasan Panji, keluarga bersedia segera melakukan lamaran.

Namun hari yang indah itu harus tertutup duka atas kekalahan Raja Daha, akibat serangan dari Raja Wirabumi atas kematian saudaranya, Raja Magadha. Akibat serangan tersebut Galuh melarikan diri bersama temannya bernama Bramita. Ia memutuskan untuk menghilangkan diri dan mengganti nama menjadi Amahi Lara. Ia tinggal di hutan bersama seorang petapa.

Mengetahui kalahnya Raja Daha, Panji memutuskan untuk melakukan ekspedisi mencari kekasihnya. Ia menjadi pupus harapan dan melampiaskannya dengan mengalahkan kerajaan-kerajaan lain, tetapi tetap saja tidak ditemukannya kekasihnya itu. Tersiar kabar di Gegelang terdapat wanita cantik yang kedatangannya menyebabkan kesejahteraan kerajaan.

Wanita tersebut adalah Amahi Lara (raden Galuh). Kesejahteraan itu memikat kerajaan Pajang dan Paguhan untuk melakukan penyerangan. Panji yang penasaran akan sosok wanita tersebut bersedia membantu pertahanan Gegelang. Atas bantuan Panji, kerajaan Gegelang menang dan menghadiahi Panji puteri mereka supaya diperistrinya.

Panji yang sudah pupus harapan agar bisa bertemu kekasihnya kembali tidak membuahkan hasil. Diterimalah lamaran dari Raja Gegelang untuk menikahi putinya, Angrurah Arsa. Pernikahan tersebut diiringi dengan festival gamelan yang sengaja diadakan atas permintaan Panji. Pada puncak acara ketika pengesahan menjadi pasangan pengantin, Amahi Lara (Galuh) jatuh pingsan melihat kekasihnya menikah dengan orang lain.

Panji yang mengetahui kejadian tersebut menghampirinya. Betapa terkejut ternyata wanita yang pingsan itu kekasih sejatinya. Ia merasa bersalah atas perlakuannya dan ketidaksetianya terhadap janji dengan kekasihnya itu. Angrurah Arsa yang juga ikut melihat kejadian tersebut merasa bersalah, ia rela menjadi istri kedua setelah Galuh. Pernikahan Panji dan Amahi Lara dilaksanakan, setelah itu berlanjut dengan pernikahan Panji dan Angrurah Arsa. Bahagialah mereka di dunia. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme