Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Dua Kisah tentang Sunan Bonang

M Afifudin Khoirul Anwar [] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

M Afifudin Khoirul Anwar [] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Sunan Bonang dikenal sebagai salah satu anggota Walisanga. Ia menjadi tokoh penyebar agama Islam di bumi Ronggolawe, Tuban, dan sekitarnya. Beliau menyiarkan ajaran agama Islam dengan cara mengakulturasikannya dengan budaya Jawa. Menariknya, model akulturasi semacam ini masih dilestarikan oleh masyarakat hingga saat ini.

Sunan Bonang lahir pada tahun 1465 M. Merupakan putra sulung Sunan Ampel dari perkawinannya dengan Nyi Ageng Manila yang merupakan putri Adipati Tuban yaitu Arya Teja. Dari perkawinan inilah Sunan Ampel memiliki dua putera yaitu Sunan Bonang dan Sunan Drajat atau Raden Syarifuddin adalah adiknya.

Sunan Bonang dikenal sebagai juru dakwah yang mumpuni. Ia menguasai fiqh, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur, dan lainya. Meskipun menguasai banyak cabang ilmu agama, Sunan Bonang lebih kental dengan tasawuf. Hal ini dapat dilihat melalui karya-karya seperti Suluk Wujil, Suluk Kaderesan, Suluk Khaliafah, Suluk Regol, Suluk Wasiyat, Suluk Bentur, Gita Suluk Linglung, Gita Suluk Latri, Gita Suluk Ing Aewuh, Suluk Sunan Bonang, dan sebagainya (Jauharotina Alfadhilah, 2017).

Sunan Bonang mendalami kebudayaan Jawa melalui keluarga dari ibunya yang merupakan kalangan dari bangsawan di Tuban. Dari sinilah Sunan Bonang mempelajari seluk beluk tentang kesenian Jawa terutama di bidang kesusastraan. Kesenian inilah berikutnya digunakan sebagai media dakwah Islam.

Namun, siapa menyangka bahwa kisah dakwah Sunan Bonang juga direpresentasikan dipenuhi dengan kekerasan oleh sumber-sumber lain. Konon, sebelum kesenian dijadikan sebagai media dakwahnya, Sunan Bonang diketahui sering menggunakan pendekatan yang menjurus pada unsur kekerasan. Hal ini misalnya bisa ditemukan dalam Babad Daha-Kediri yang menyatakan bahwa Sunan Bonang menghancurkan arca-arca yang dipuja oleh masyarakat Kediri.

Dalam sumber tersebut diceritakan, Sunan Bonang melakukan dakwah di pedalaman Kediri dengan pendekatan yang agak kasar. Putra Sunan Ampel tersebut tidak hanya sekadar merusak arca yang dihormati oleh penduduk setempat, melainkan Sunan Bonang juga dikisahkan telah mengubah aliran air sungai Brantas dan mengutuk penduduk desa karena kesalahan satu warga. Untuk menjalankan misi dakwahnya Sunan Bonang dikisahkan mendirikan langgar (mushala) pertama di tepi barat sungai Brantas.

Dalam Babad Daha-Kediri tersebut diceritakan bahwa Sunan Bonang dengan ilmunya yang luar biasa dapat mengubah aliran sungai Brantas, sehingga menjadikan daerah yang tidak mau menerima dakwah Islam di sepanjang aliran sungai kena kutuk kekurangan air. Bahkan sebagian wilayah lain mengalami musibah banjir.

Sunan Bonang mendapat perlawanan dari dua tokoh yang menentang keras dakwahnya. Dua tokoh tersebut adalah Ki Buto Locaya dan Nyai Plencing. Keduanya adalah penganut Bhairawa-Tantra dan sangat mengecam proses dakwah Sunan Bonang. Meski begitu, ilmu dari Sunan Bonang masih lebih tinggi. Buto Locaya pun akhirnya tak sanggup mengahadapi kesaktian Sunan Bonang.

Babad Sangkala mencatat bahwa ”…Daha dibakar habis” pada tahun 1551 yang menunjukan bahwa Kediri setelah kedatangan Sunan Bonang masih belum menerima Islam. Kota Daha dibakar oleh Sunan Giri, karena berkaitan dengan hilangnya Adipati Kediri Arya Wiranatapada bersama putrinya pada tahun 1577 M. Pada saat itu orang Islam mengepung dan menyerang sisa-sisa kekuatan Majapahit di Kediri.

Kegagalan dakwah Sunan Bonang di Kediri, akhirnya berakhir dengan pemanggilannya oleh Raden Patah untuk bertolak ke Demak. Di Demak sendiri Sunan Bonang mendapat mandat untuk menjadi imam di Masjid Agung Demak. Namun tidak berselang lama, jabatan sebagai imam Masjid Demak ditinggalkanya. Jabatan imam Masjid kemudian digantikan oleh Pangeran Karang Kemuning yang berasal dari Negeri Atas Angin. Tokoh ini dikisahkan menikah dengan Nyai Gede Pancuran, saudari Sunan Bonang. Demikianlah, setelah meninggalkan jabatan sebagai imam masjid Demak, Sunan Bonang dikisahkan tinggal di Lasem.

Setelah beranjak dari Demak, Sunan Bonang bertolak ke rumah kakak kandungnya yakni Nyai Gede Maloka di Lasem. Sunan Bonang diminta untuk menjaga dan merawat makam nenek mereka dari Champa, yaitu putri Bi Nang Ti, di Puthuk Regol. Sunan Bonang juga diminta untuk merawat makam Pangeran Wirabraja dan putranya yaitu Arya Wiranegara, yang merupakan makam mendiang dari ayah mertua dan suami Nyai Gede Maloka.

Ketika Sunan Bonang berada di Lasem meninggalkan cerita sejarah tentang petilasan pesujudan Sunan Bonang di bukit Watu Layar di timur kota Lasem. Di tempat inilah Sunan Bonang membangun sebuah zawiyah, semacam tempat untuk berkhalwat dan untuk pertemuan antara tokoh ajaran tasawuf.

Pada usia sekitar 30 tahun Sunan Bonang diangkat menjadi wali negara Tuban untuk mengurus semua hal yang bersangkutan dengan agama Islam. Pada saat itulah Sunan Bonang sering terlihat di Tuban dan menetap di Tuban hingga beliau wafat. Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M. Seperti kita ketahui bahwa makam dari Sunan Bonang berada di kelurahan Kutorejo, Tuban. Akan tetapi ada juga yang mengatakan makam Sunan Bonang di Madura.

Menurut cerita, saat beliau wafat, seorang murid dari Madura sangat mengagumi beliau, sehingga jenazah Sunan Bonang ingin dibawa ke Madura. Hal ini diketahui oleh murid dari Tuban dan mereka saling berebut jenazah. Dan pada akhirnya murid dari Madura hanya mendapatkan kain kafannya. Sedangkan murid yang dari Tuban berhasil mendapatkan jenazah Sunan Bonang dan dimakamkan di Tuban.

Sampai saat ini makam beliau ramai dikunjungi oleh peziarah dari penjuru Nusantara. Ilmu yang beliau wariskan sangat berguan dan masih dilestarikan hingga saat ini. Banyak orang yang ingin belajar ilmu beliau dengan bertujuan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Begitulah kisah Sunan Bonang. Ada banyak sumber yang bercerita tentang kepiawaiannya dalam berdakwah, dengan menyerap niali-nilai lokal. Meski begitu, ada beberapa sumber yang menyebutkan tentang metode dakwanya yang cenderung kasar. Tentu saja di masa depan kesimpangsiuran ini perlu mendapat kajian yang lebih mendalam. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme