Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Dimensi Sosial Rumah Adat Jawa

Muhamad Syaiful [] Mahasiswa program pascasarjana AFI; magang di IJIR.

Muhamad Syaiful [] Mahasiswa program pascasarjana AFI; magang di IJIR.

Orang Jawa gemar bersosial. Kegemaran ini terwujud dalam bangunan ruang tamu yang luas, sehingga menampung dan memudahkan komunikasi bersama banyak orang.

Bale merupakan salah satu ruangan dalam rumah adat Jawa sebagai lambang dimensi sosial. Tempat tersebut mewakili karakter orang Jawa yang bersifat terbuka terhadap orang lain. Ruangan yang didesain dengan luas memudahkan pemilik rumah untuk menampung dan menjembatani komunikasi dengan banyak orang orang.

Layaknya tempat komunikasi, rumah adat Jawa biasanya ruangan ini merupakan tempat yang paling luas dari pada ruangan lain. Selain itu banguan bale merupakan penyesuaian terhadap kondisi lingkungan yang beriklim tropis. Salah satu bentuk penyesuaian adalah dengan membuat teras depan yang luas, terlindung dari panas matahari oleh atap gantung yang lebar, mengembang ke segala sudut yang terdapat pada atap.

Selanjutnya bale tidak terlepas dari bangunan purba yang disebut punden berundak, sebuah bangunan suci (Hedi, 2005: 28-38), struktur dan bentuk bersusun memusat semakin ke atas semakin kecil (Sunarningsih, 1999:32). Susunan atas ditutup atap menjulang ke atas berbentuk seperti gunungan yang bagian puncaknya terhubung malayang membujur, biasa orang Jawa menyebut penuwun.

Pada bagian tengah bale terdapat struktur penyangga bagian atas, namanya sakaguru, berupa bahan kayu berjumlah empat dengan formasi persegi. Bagian bawah sakaguru ditopang umpak atau bebatur dari bahan batu. Apabila dicermati, struktur dan bentuk bale sama dengan struktur dan bentuk candi Hindu. Oleh karena itu, dapat diduga bahwa bale adalah transformasi bentuk candi.

Bangunan tradisi atau rumah adat merupakan salah satu wujud budaya yang bersifat konkret. Dalam konstruksinya, setiap bagian/ruang dalam rumah adat sarat dengan nilai dan norma yang berlaku pada masyarakat pemilik kebudayaan tersebut. Begitu juga dengan rumah adat Jawa, konstruksi bangunan yang khas dengan fungsi setiap bagian yang berbeda satu sama lain mengandung unsur filosofis yang sarat dengan nilai-nilai religi, kepercayaan, norma, dan nilai budaya adat etnis Jawa.

Selain itu, bangunan juga memiliki makna historis yang perlu dipelihara dan dilestarikan. Rumah tradisi Jawa masih dapat ditemukan pada Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta serta beberapa rumah di pedasaan Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Selebihnya, Rahmanu Widayat (2004: 2) menyatakan bahwa rumah adat Jawa memiliki bentuk beraneka ragam dan mempunyai pembagian ruang yang khas, yaitu terdiri atas pendhapa, pringgitan, dan dalem. Terjadi penerapan prinsip hierarki dalam pola penataan ruangnya. Setiap ruangan memiliki perbedaan nilai, ruang bagian depan bersifat umum (publik), dan bagian belakang bersifat khusus (pribadi/privat).

Bale sebagaimana ruang publik tidak lepas dari karakteristik orang Jawa. Hal ini disebabkan orang Jawa lebih mementingkan keselarasan masyarakat dari pada kepentingan individu. Niels Mulder (1973: 43-44) mengatakan, cita-cita masyarakat Jawa terletak dalam tata-tertib masyarakat yang selaras, melihat orang sebagai individu tidak sangat penting, mereka bersama-sama mewujudkan masyarakat.

Terciptanya keselarasan masyarakat akan menjamin kehidupan yang baik bagi individu-individu. Tugas moral seseorang dalam masyarakat Jawa adalah menjaga keselarasan masyarakat dengan menjalankan kewajiban-kewajiban sosial.

Terlebih lagi kehidupan Jawa bersifat seremonial. Sifat seremonial ini terlihat pada pandangan hidup orang Jawa yang selalu meresmikan segala sesuatu dengan upacara. Segala sesuatu harus diformalkan, serba sah dan nyata, entah isinya sudah ada atau belum. Misalnya, orang mengadakan slametan setelah kematian salah satu keluarga, hal itu dilakukan dengan mengundang warga dan makan bersama serta memberikan berkat (sebuah bingkisan) kepada masyarakat, tanpa memikirkan perasaan yang dialaminya.

Demikian juga mereka yang datang tidak lagi memikirkan siapa yang mengadakan slametan, apakah mereka bersedih atau tidak, yang penting mereka mengikuti upacara tersebut (Mulder, 1973: 59).

Bale yang memiliki ruang yang luas, dan terlihat yang paling terbuka dari berbagai sisi. Misal sisi depan didukung dengan pintu yang lebar dan jendela yang lebar baik dari sisi kanan dan kiri serta samping dari bangunan tersebut. Selain itu ada juga versi lain yang lebih terbuka, yaitu hanya ada sekat atau dinding penutup kanan dan kiri saja, layaknya pendopo dalam balai-balai yang ada di rumah Jawa.

Ruang yang luas inilah simbol masyarakat Jawa yang terbuka. Sebab setiap apa yang dibangun dalam ruang kebudayaan Jawa selalu menyimpan makna vertikal dan horizontal dalam kehidupan mereka. Hal tersebut mengindikasikan bahwa dari ruangan dalam rumah adat membuktikan Jawa memiliki keterbukaan dalam berkomunikasi dalam ruang masyarakat.

Orang Jawa gemar bersosial hal tersebut bisa kita amat dengan seksama melalui tradisi-trasdisinya. Seperti halnya kenduri atau slametan yang notabene diramaikan oleh banyak orang. Tuan rumah akan mengumpulkan masyarakat sekitar dan menampungnya ke dalam ruang tamu atau bale.

Selain itu istilah nonggo sering kita jumpai dalam masyarakat Jawa. Memang pada dasarnya gemar bermasyarakat. Nonggo inilah sebuah kecederungan umum bagi masyarakat Jawa.

Baik nonggo maupun slametan atau aktivitas lain yang dilakukan orang Jawa merupakan dimensi sosial yang berkembang dari dulu hingga kini. Hal tersebut membuat rumah atau model rumah bagi masyarakat Jawa sangat mempertimbangkan keberadaan bale yang besar. Hal ini dimaksukkan untuk menampung semua aktivitas yang biasa dilakukan bersama masyarakat. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme