Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Tedhak Siten: Mengenalkan Anak pada Bumi

Robiatul Adawiyah [] Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Robiatul Adawiyah [] Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Di kalangan masyarakat Jawa tedhak siten atau upacara turun tanah bagi anak berusia 7 bulan merupakan peristiwa penting.

Tedhak siten berasal dari kata tedhak dan siten. Tedak artinya turun sedangkan kata siten berasal dari bahasa jawa kata siti/tanah. Dengan demikian maksud dari tedhak siten adalah turun tanah. Gambaran anak dalam menjalani kehidupan tumbuh mandiri dan mampu menghadapi rintangan. Tedhak siten juga bermakna kedekatan anak dengan ibu pertiwi atau tanah kelahiran.

Bagi para sepuh, ritual adat ini merupakan wujud penghormatan bagi bumi sebagai tempat berpijak si kecil. Kebanyakan masyarakat Jawa sering menyebutnya tradisi, di mana seorang anak yang sudah waktunya menginjakkan kaki ke tanah. Baik untuk merangkak hingga mulai diajari atau dituntun menggunakan kakinya untuk berjalan.

Tradisi ini masih dilestarikan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Tuhan. Bagi sebagian masyarakat Jawa masih percaya bahwa dengan tetap melaksanakan adat istiadat maka mereka akan selalu diberi keselamatan. Masyarakat beranggapan bahwa tanah mempunyai kekuatan gaib, di samping itu juga adanya suatu anggapan kuno bahwa tanah ada yang menjaga yaitu Batharakala (Murniatmo, 2000: 243).

Biasanya tedhak siten dilaksanakan saat bayi masuk usia 7 bulan. Karena pada saat bayi sudah berusia 7 bulan, potensi anak mulai diketahui. Pemilihan beberapa benda dalam tradisi tedhak siten seperti kitab, buku, pensil, kaca, sesuai barang yang diberikan oleh orang tua tersebut. Potensi anak akan terlihat dengan jelas, sehingga orang tua paham bagaimana meningkatkan potensi anak dengan sebaik-baiknya.

Biasanya tedhak siten dilaksanakan pada pagi hari di halaman rumah tepat pada weton/hari kelahiran. Misalnya jika anak tersebut lahir pada hari Senin Legi, maka upacaranya dilangsungkan pada hari tersebut.

Ciri khas yang dilakukan saat tradisi tedhak siten adalah anak dituntut untuk berjalan di atas bubur dari beras ketan sebanyak tujuh buah. Tujuh bubur tersebut memiliki warna yang berbeda-beda. Warnanya adalah: merah, putih, oranye, kuning, hijau biru dan ungu. Karena bubur tersebut terbuat dari beras ketan maka bubur lengket saat diinjak oleh bayi. Hal itu dipercaya saat bayi sudah dewasa dapat mengatasi berbagai kesulitan dan rintangan di dalam kehidupannya.

Setelah itu anak dituntun untuk menaiki anak tangga yang terbuat dari batang tebu Arjuna, lalu turun lagi. Tebu merupakan akronim dari anthebing kalbu, hati yang mantap. Tebu Arjuna melambangkan supaya anak memiliki sikap seperti Arjuna, seseorang yang memiliki watak pejuang sejati dan bertanggung jawab. Selalu berbuat baik dan benar, membantu sesama dan juga berbakti. Melewati tebu Arjuna berarti anak mampu menapaki jalan hidup dengan penuh tekad dan percaya diri seperti Arjuna (Kadita, 2016: 4).

Setelah turun tangga tebu, anak dituntun untuk berjalan di atas onggokan pasir. Di situ anak mengais pasir dengan kakinya. Dalam bahasa Jawa yaitu ceker-ceker. Ceker-ceker arti kiasannya mencari makan. Maksudnya, si anak setelah dewasa akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemudian anak dimasukkan ke dalam kurungan yang sudah dihias.

Di dalam kurungan tersebut terdapat berbagai benda seperti: buku tulis, pensil, al-Quran, uang dan sebagainya. Di dalam kurungan si anak dibiarkan memilih barang yang dia sukai. Barang-barang yang ada di dalam juga memiliki arti (Kadita, 2016: 4).

Misalnya dia memegang buku, suatu hari saat anak sudah dewasa dia berkeinginan menjadi ilmuwan. Pensil, saat dia sudah dewasa dia akan menjadi penulis. Uang, suatu hari dia akan pandai mencari uang. Kurungan merupakan perlambangan dunia nyata, jadi si anak memasuki dunia nyata. Dalam kehidupannya dia akan dipenuhi kebutuhannya melalui pekerjaan/aktivitas yang telah dipilihnya secara intuitif sejak kecil.

Kemudian ayah dan kakek dari si anak menyebar undhik-undhik. Undhik-undhik adalah uang logam yang dicampur dengan berbagai macam bunga. Maksudnya saat si anak sudah dewasa akan mendapatkan jalan yang mudah untuk memenuhi keperluan hidupnya dan menjadi seorang yang dermawan, suka menolong orang lain. Kerena suka memberi dan baik hati, dia juga akan mudah mendapat rizki ( Solihatin, 2015: 42).

Setelah menyebar undhik-undhik, si anak dibersihkan dengan air sritaman atau bunga setaman, yaitu air yang dicampuri bunga-bunga: melati, mawar, kenanga dan kanthil. Ini merupakan pengharapan dalam kehidupan, si anak nantinya bisa mengharumkan nama baik keluarganya.

Dan pada akhir acara, anak akan didandani dengan pakaian bersih dan bagus. Maksudnya supaya si anak mempunyai jalan kehidupan yang baik, makmur dan bisa membuat bahagia keluarganya.

Bagi masyarakat Jawa anak merupakan dambaan karena anak dapat memberikan suasana hangat dalam sebuah keluarga di mana kehangatan dapat menentramkan dan memberikan kedamaian dalam hati. Selain itu anak juga dianggap sebagai jaminan bagi orang tua kelak di hari tuanya. Karena hal ini masyarakat Jawa memiliki banyak sekali  tradisi yang dilaksanakan oleh orang tua terhadap anaknya baik saat anak di dalam kandungan hingga sudah dewasa.

Orang Jawa memandang bahwa mereka mempunyai hubungan erat dengan Tuhan. Bagi mereka Tuhan merupakan Dzat pemberi rizki, kesehatan, dan juga perlindungan. Cara mereka menjalin hubungan itu dengan mengadakan berbagai macam tradisi, salah satunya ialah tradisi tedhak siten. Melalui tradisi tersebut, orang tua menunjukkan rasa kasih sayang yang besar kepada anak mereka. Mereka mengungkapkan harapan yang hakiki supaya anak tidak mengalami kesulitan di kemudian hari. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme