Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Al-Ḥaqībah: Kumpulan Mantra Pesantren KH. Bisri Musthofa

Heru Setiawan [] Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Masyarakat Jawa tak hanya meyakini apa saja yang nampak, melainkan juga apa yang gaib.  Dalam pikiran masyarakat Jawa, perasaan bahagia, sedih, kemudahan, kesulitan, dan segalanya tak lepas campur tangan dunia ghaib.

Karena itu, di samping melakukan ikhtiar, manusia Jawa juga berusaha mengakses dunia ghaib tersebut dalam memenuhi kebutuhan atau menyelasikan suatu permasalahan.

Sayangnya, upaya mengakses dunia ghaib tidaklah bisa dilakukan olah sembarang orang. Diperlukan adanya suatu perantara untuk menuju ke sana. Perantara itu bisa berupa doa, sesaji, jimat, mantra, rajah dan lain-lain (Dwiatmojo: 2018: 76). Tak hanya itu, tiarakat pun juga sering dilakukan guna membuka pintu dunia ghaib itu.

Kepercayaan akan dunia ghaib merupakan keyakinan mayoritas masyarakat, tak terkecuali kalangan pesantren, terlebih pesantren tradisonal. Tirakat dan amalan merupakan hal yang lumrah dilakukan oleh para santri, bahkan para kiai. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya kitab Al-Ḥaqībah yang ditulis oleh KH. Bisri Musthofa Rembang.

Kitab Al-Ḥaqībah merupakan kitab kumpulan doa dan wirid yang ditulis oleh KH. Bisri Musthofa Rembang. Tidak ada penjelasan kapan kitab ini mulai dan selesai ditulis. Namun, halaman kedua kitab terdapat pengantar dari KH. Bisri Musthofa tertanggal 1 Juli 1972.

Dalam versi cetaknya yang diterbitkan oleh percetakan Menara Kudus, kitab ini memiliki ketebalan 46 halaman. Struktur kitab terdiri dari empat bagian. Secara berurutan, masing-masing bagian adalah sampul, pengantar penulis, isi kitab dan daftar isi.

Kitab ini berisi tentang kumpulan do’a dan wirid yang dianggap penting oleh penulisnya. Ditulis dengan bahasa Jawa beraksara pegon, kecuali bagian-bagian yang berupa bacaan wirid dan do’a yang ditulis dengan bahasa dan aksara Arab.

Do’a dan wirid yang ada dalam kitab tersebut sangatlah baragam. Mulai dari shalawat, asmā’ al-ḥusnā, basmalah, kalimat tauhid, istighfar dan lain-lain. Bahkan dalam kitab itu ada dua do’a dari Syaikhona Kholil Bangkalan Madura yang menggunakan bahasa Jawa.

Dalam kitab juga disebutkan enam macam bacaan shalawat yang didapatkan dari Kiai Jawa. Keenam shalawat tersebut adalah shalawat An-nūr Al-Dzātiy dari KH Wahab Hasbullah Jombang, shalawat Țibbilqulūb dari KH. Nawawi Kajen, shalawat Fātiḥ dari Sayyid Abdul Qadir Bafaqih Tuban, shalawat Nāriyyah dari KH. Mahrus Lirboyo, shalawat Nūrul Anwar dari KH. Abdullah Zaini, dan shalawat Badawiyyah dari K. Abdul Hamid Pasuruan.

Selain itu, kitab itu juga memuat aurād untuk keselamatan dari Mbah Ma’shum Lasem. Aurad tersebut berisi tujuh macam bacaan di mana salah satunya berupa Hizib Autad Syekh Abdul Qadir Al-Jilaniy. Setelah itu, dilanjutkan dengan paparan mengenai tata cara do’a dan bacaan lain untuk bermunajat.

Selanjutanya, paparan kitab itu berisi bacaan wirid bagi orang yang ingin berpidato. Wirid ini merupakan ijazah dari Kiai Toha Rembang. Paparan setelah itu berisi tentang wirid asmā’ al-ḥusnā, faedah dan tata cara pengamalannya.  Wirid ini merupakan pemberian Kiai Iskandar Banyuwangi dan Kiai Ma’ruf, Kedunglo Kediri.

Bagian selanjutanya berisi tentang do’a untuk menyapih anak dan doa untuk mendiamkan anak yang menangis di malam hari tanpa henti, atau dalam kitab ini disebut dengan susuk munthoh. Kedua do’a ini merupakan ijazah dari Syaikona Kholil, Bangkalan Madura.

Menariknya, kedua doa itu menggunakan bahasa Jawa yang dimulai dengan bacaan basmalah dan dikahiri dengan kalimat tauhid. Bahkan redaksi salah satu do’a dari Syaikhona Kholil itu bisa dibilang saru, karena secara eksplisit menyebutkan (maaf) alat kelamin laki-laki.

Bagian berikutnya berisi tentang do’a asmā’ al-ḥusnā yang didapat dari Kiai Ma’ruf Kedunglo Kediri. Pada bagian ini KH. Bisri Musthofa mengutip perkataan Kiai Ma’ruf yang mengatakan bahwa sebaiknya para santri menghafalkan asmā’ al-ḥusnā. Jika hal itu sulit dilakukan, beliau memberi alternatif bacaan nadzam asmā’ al-ḥusnā guna mempermudah hafalan. Bagian ini tertera dalam halaman 26 sampai 39.

Selanjutnya pada halaman 40 berisi tentang do’a al-Fatiḥah. Doa ini merupakan pemberian dari Kiai Abdullah Zaini Demak. Bagian berikutnya adalah doa untuk mengusir ular atau binatang berbisa semisal tawon. Do’a ini merupakan pemberian dari Kiai Abdul Jabar Kajen, Tayu.

Bagian akhir dari  kitab berisi do’a agar mudah bangun tengah malam untuk melakukan shalat tahajjud. Do’a ini merupakan ijazah atau pemberian dari Syaikhona Kholil Bangkalan. Do’a ini dijalankan dengan cara membaca Surat Al-Ikhlas 3 kali, Al-Falaq 1 kali, An-Nas 1 kali dan Fatihah 1 kali. Setelah itu si pembaca do’a menyebutkan keinginannya untuk bangun pada jam tertentu.

Itulah sekilas gambaran mengenai pandangan orang-orang Jawa yang juga tembus dalam dunia pesantren dan kiai Jawa. Seperti halnya harapan KH. Bisri Musthofa yang teruang dalam bagian penutup kitabnya, semoga tulisan ini bermanfat.

Bila ingin mengetahui mantra-mantra pesantren dan mengamalkannya, bacalah kitab tersebut. Wassalam. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme