Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Jedhoran: Sepakat untuk Berbeda

Seli Muna Ardiani [] Peneliti IJIR []

Seli Muna Ardiani [] Peneliti IJIR []

Jika Andrew Beatty menyebutkan slametan sebagai “ambiguitas yang teratur”, maka potret seni Jedhoran sebagaimana yang berkembang di beberapa tempat di Tulungagung, agaknya menemui titik persamaan dengan slametan.

Pada seni Jedhoran di desa Tiudan, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, misalnya, ditemukan konsesus di antara orang-orang yang berbeda orientasi keagamaannya. Mereka dipertemukan dalam momentum ambigu yang teratur tersebut. Tulisan ini berupaya merefleksi kembali temuan Beatty mengenai slametan di desa Bayu, Banyuwangi, lalu dikomparasikan dengan model Jedhoran yang berkembang di Tulungagung.

Refleksi ini bermula dari rasa takjub saya ketika menghadiri undangan Tedhak Siten di rumah salah satu warga Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Desa Tiudan. Hajatan Tedhak Siten tersebut digelar bersama dengan acara slametan dan tanggapan seni Jedhoran.  Setelah ritual Tedhak Siten di sore hari, pada malam hari semua warga disambut dengan tampilan seni Jedhor Campursari Al-Hikmah.

Menarik karena dalam acara tersebut, semua warga baik muslim maupun jemaat GKJW berkumpul menyaksikan seni shalawat tersebut. Mereka membaur dan bersama-sama menikmati shalawat.

Seni Jedhor Campursari Al-Hikmah pimpinan Bapak Lamuji dimulai pada pukul 20.30 WIB. Syair Arab berlanggam Jawa dinyanyikan oleh salah seorang dhalang. Sholawat berjanjen (Al-Barzanji) diiringi dengan tabuhan jedhor, terbang, ketipung, dan kempling menghasilkan rampak yang begitu khas dengan masyarakat Jawa.

Seusai pembacaan sholawat Al-Barzanji pada pukul 24.00, acara dilanjutkan dengan Campursari. Ketika tembang campursari-an mulai dilantunkan oleh seorang sinden perempuan, maka warga lebih ramai berdatangan. Tembang Jawa dan campursari dinyanyikan secara acak dan cenderung tidak memiliki pakem khusus. Hingga pukul 03.00, bahkan menurut kesaksian warga, Jedhoran hanya akan berakhir ketika adzan subuh terdengar.

Perbedaan yang Disatukan

Pada dasarnya, warga Tiudan tidak meresahkan atau membeda-bedakan dalam kegiatan perayaan. Bapak Lamuji sendiri menyatakan bahwa ia tidak memiliki keberatan jika seni sholawatnya disandingkan dengan perayaan lain. Pria yang pernah saya temui dua tahun lalu ini mengaku senang, sebab warga Tiudan dari latar agama yang berbeda-beda dapat menikmati pertunjukan seninya.

Bahkan, seni Jedhoran yang berisi lantunan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW bukan menjadi problem berarti bagi umat Kristiani yang menanggap maupun menyaksikan. Bagi yang tidak mengerti makna lantunan shalawat, karena tidak mengerti bahasa Arab maupun berbeda keyakinan, cenderung lebih menyukai lantunan musik Jedhorannya. Sementara bagi umat muslim yang mengetahui, lantunan tersebut akan jauh dipahami sebagai pujian dan ibadah.

Sama halnya dengan tesis Beatty mengenai konsep sinkretisme slametan, seni Jedhor memiliki unsur tersebut. Jedhor merepresentasikan proses sosial, hubungan antara Islam dan tradisi lokal, serta multivokalitas simbol-simbol ritual (Beatty, 2001: 38). Slametan memiliki unsur-unsur multivokal yang bukan semata-mata tindakan maupun simbol-simbol material, melainkan kata-kata yang hanya bermakna jika diucapkan dalam upacara.

Seni Jedhoran yang ada di Desa Tiudan juga memiliki unsur multivokal yang sama. Meski simbol-simbol secara material berbeda antara slametan dan Jedhoran–misalnya saja, praktik slametan yang menggunakan sesajen dan adanya kemenyan (Beatty, 2001: 42), sementara dalam praktik Jedhoran tidak ditemui penggunaan benda-benda tersebut. Simbol material hanya tampak pada penggunaan alat musik Jawa, syair Arab, serta dilantunkan dengan langgam Jawa.

Seni Jedhor Campursari menjelma menjadi sebuah pertunjukan yang mampu menyatukan masyarakat dengan orientasi berbeda. Orang-orang dengan orientasi berbeda datang bersama ke suatu ritual dan merajut konsesus, atau sekurang-kurangnya demikian tampak dari luar (Beatty, 2001: 38).

Ada kesan kesederhanaan dan keseragaman dalam Jedhor Campursari di Desa Tiudan. Sebagaimana tesis Beatty, kesan tersebut tampak pada ritual slametan; namun semu. Slametan, mengacu pada trikotomi Clifford Geertz (Geertz: 1983), mampu menyandingkan antara abangan, santri dan priyayi. Pedagang yang taat Islam, petani yang animis, dan penganut mistik hadir dalam peristiwa sama. Mereka seolah melupakan perbedaan-perbedaan yang memisahkan mereka, duduk bersama dan menyantap hidangan yang sama pula.

Shalawat yang dilantunkan oleh sekelompok laki-laki baik dalam bahasa Arab dan atau Jawa dengan iringan alat musik terbang (Ricklefs: 2013) memiliki interpretasi simbolik tersendiri dalam seni Jedhoran. Sebagaimana slametan dalam tesis Beatty, Jedhoran menggunakan konsep kunci yang sebagian besar bersumber dari Islam. Masyarakat yang hadir dari latar agama yang berbeda, akan menanggung interpretasi secara personal. Ada yang menarik kesimpulan ortodoks, yakni dengan memberi garis batas atas ajaran agama yang berbeda. Ada pula yang berusaha menempatkan konsep-konsep Islam dalam kosmologi Jawa atau memahaminya sebagai simbolisme universal manusia.

Beberapa Hal yang Berbeda

Sebagai ritual keagamaan, jelas slametan tidak dapat disamakan dengan kesenian Jedhor yang memiliki nilai komersial. Meskipun Jedhor Campursari tidak lagi hanya digelar dalam langgar atau masjid, seni ini bukanlah ritual yang bersifat rutin.

Sementara slametan merupakan ritual yang rutin dilaksanakan dari rumah ke rumah oleh masyarakat Jawa, Jedhoran hanya akan dinikmati oleh masyarakat, jika digelar pada acara pitonan (slametan bayi), boyongan omah (pindah rumah), serta kegiatan sosial yang bersifat umum. Adanya campursari juga menjadi faktor yang lebih merekatkan masyarakat dari berbagai orientasi agama.

Betapapun demikian, baik seni Jedhor Campursari maupun slametan dalam amatan Beatty, mampu menyatukan masyarakat. Jedhoran bukan semata ritus agama Islam sebagai sarana ibadah. Bukan pula sebuah seni yang bersifat profan. Sebagai seni yang lekat dengan Islam dan Jawa, Jedhoran dapat dinikmati dengan berbagai tafsir simbolik oleh orang-orang yang hadir dalam orientasi berbeda.

Oleh sebagian umat Kristiani yang sengaja menanggap ataupun menyaksikan seni Jedhor, ritual tersebut mampu dipahami sebagai dimensi universal yang dapat menyatukan perbedaan. Orang-orang yang hadir tidak lagi sibuk memikirkan perbedaan yang menyekat pada diri mereka.

Maka, dengan melihat Jedhoran sebagaimana tesis Beatty dalam Variasi Agama di Jawa, ada suatu garis tegas dalam satu fenomena yang begitu kompleks. Jedhoran yang ada di Desa Tiudan, mencerminkan suatu fungsi kritis dari simbolisme dan tatanan yang secara ideologis beragam. Yakni, sebuah ritus yang mendorong kesadaran kolektif masyarakat Jawa. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme