Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Uthak-Uthak Ugel: Kentrung Sebagai Media Pendidikan

Yudha Ahmada AF [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Yudha Ahmada AF [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Sabtu, 3 Agustus 2019, Sanggar Seni Gedhang Godhog (SSGG) menyelenggarakan pementasan Kentrung Kreasi di Balai Desa Campurdarat. Acara ini bertajuk “Pentas Studi Pagelaran Kentrung Kreasi”. Kebanyakan pemainnya ialah para pelajar penerima program beasiswa Kentrung periode kedua yang diberikan oleh SSGG.

Pagelaran budaya ini berada dalam rangkaian menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia di Balai Desa Campurdarat. Pagelaran tersebut mengambil tema Uthak-uthak Ugel.

Acara pagelaran budaya Kentrung Kreasi dimulai sekitar pukul tujuh malam. Kehadiran Yayak Priasmoro selaku pendiri SSGG menambah semangat murid-murid Sanggar.

Di awal-awal sesi pementasan, pertunjukan menghadirkan sosok Mbok Gimah dalam cerita. Hal ini menunjukkan masih demikian kuat pengaruh sang Maestro Kentrung Tulungagung tersebut dalam sanubari para murid ideologisnya.

Pagelaran berlangsung meriah. Secara keseluruhan pentas Kentrung Kreasi tersebut berjalan dua jam tanpa terasa, karena memang penampilan para pelakunya yang begitu renyah dan komunikatif dengan penonton. Pagelaran juga mengusung lagu-lagu dolanan yang sekarang hampir hilang.

Memori kolektif masa kanak-kanak seakan dibangkitkan kembali. Bahkan ada satu lagu yang amat bagus dan bermuatan moral yang begitu kuat membangkitkan kenangan masa kecil.

Uthak Uthak Ugel, nyengkelit kudhi bujel

Thak uthak ugel e a e dongengan jaman kuno

Sekotak kari setugel ae ae mbiyen sing akon sopo

00

Uthak Uthak Ugel, nyengkelit kudhi bujel

Ning kuning kae opo elae kuni menuke podang

Dipenging wis ora keno jarene mandeg lah kok jebul mblandang

 

Uthak Uthak Ugel adalah nama julukan seseorang yang berbadan gempal dan rakus. Ia akan melahap habis makanan yang ada di hadapannya, dan bukan itu saja, bila ia masih mencium bau makanan pasti akan dicarinya sampai dapat. Tidak heran masyarakat menamainya Uthak Uthak Ugel dengan perwatakan badan pendek gemuk, perut buncit dan gaya berjalan sleyat-sleyot. Selain itu, ia juga mempunyai sifat takabur dan suka dipuji (sombong).

Di dalam salah satu adegan pementasan, Uthak Uthak Ugel merasa gelisah. Matanya berlari ke sana kemari untuk mencari makanan. Sampai pikirannya tertuju pada buah Elo, yang rasanya asam-asam manis. Buah itu memang sangat cocok dibuat rujak.

Ketika ia sedang berjalan, ada orang yang bertanya kepadanya, “mau ke mana, Ki?”

“Emm, mau pergi ke bukit”

“Mencari apa, Ki?”

“Mencari Elo”

“Di sebrang kali ada pohon Elo, buahnya masak-masak”

“Apakah pohon itu berbuah lebat?”

“Tidak, Ki”

“Aku tidak mau, terlalu sedikit. Akan kucari lagi yang lebih banyak.”

Uthak Uthak Ugel meneruskan perjalanan. Penampilan Uthak Uthak Ugel pada siang itu benar-benar prima. Bajunya berwarna merah, longgar tidak menutupi perut, di punggungnya menyandang bumbung yang berisi garam dan cabe. Jalan sleyat-sleyot dengan bahu agak terangkat layaknya ksatria hendak berperang.

Tidak lama sesudah itu, ada lagi orang yang bertanya kepadanya “Ki Uthak Uthak Ugel, siang ini terlihat sangat gagah, mau pergi kemana?” Merasa ada yang memuji, Uthak Uthak Ugel berhenti berjalan, lalu menjawabnya dengan sombong, “aku sedang mencari buah Elo, kesana kemari aku tidak mendapatkan buah Elo yang pantas kumakan.”

“Oh, aku tahu yang kau kehendaki, tentu buah Elo yang ranum dari pohon yang besar. Di sana Ki, dekat lereng bukit tidak jauh dari sini.”

“Bila Ki menghendaki, aku akan antarkan.” Cepat-cepat Uthak Uthak Ugel menukas, “tidak usah, aku dapat ke sana sendiri.”

Bergegas Uthak Uthak Ugel menuju bukit tersebut. Sesampainya di sana, cepat-cepat ia memanjat pohon dengan bumbung berada di punggung. Di cabang yang besar, ia duduk sambil meramu cabe dan garam. Kemudian ia memetik buah Elo dan memasukkannya ke dalam bumbung. Hal demikian dilakukannya berulang-ulang, beralih dari satu cabang ke lainnya, hingga tak terasa buah Elo yang mulanya sangat banyak kini tak tersisa.

Mulut Uthak Uthak Ugel kepedasan. Perutnya terasa terbakar, air liurnya menetes-netes dari mulut yang menganga. Tergopoh-gopoh ia mencari air ke segala tempat. Ketika sedang berjalan ada penduduk desa yang mendatanginya dan bertanya, “mau ke mana Ki?”

“Mencari air,” jawab sangar sambil air liurnya terus menetes.

“Di sumur itu Ki, airnya belum kering, kiranya cukup untuk minum.”

“Aku akan mencari air yang lebih banyak.”

Ia berjalan terus menjuku ke lembah. Kemudian bertemu dengan penduduk desa, juga menunjukkan air telaga yang dangkal. Uthak Uthak Ugel menolaknya. Akhirnya ditemukannya sebuah sungai, airnya jernih berasal dari mata air kecil di atas bukit. “Ini dia yang aku cari,” kata hatinya. Tanpa berpikir panjang air sungai diminumnya sampai habis.

Tentu saja ikan dan udang jingkat-jingkat kekeringan. Sehingga warga yang mengetahui hal tersebut segera berduyun-duyun untuk saling menangkapnya. Sementara warga menangkap ikan, Uthak Uthak Ugel dalam keadaan payah. Perutnya semakin membesar, nafasnya tersengal-sengal. Mulutnya hanya bisa mengucapkan kata “ampun” dan “tolong” dengan lirihnya.

Tidak ada orang yang dapat menolongnya. Mereka hanya dapat memijit-mijit perut Uthak Uthak Ugel, namun tidak dapat mengurangi rasa sakit yang dideritannya.

Penduduk desa pun sedikit demi sedikit beranjak pulang meninggalkan Uthak-Uthak Ugel dengan membawa ikan hasil tangkapan. Namun masih ada juga beberapa orang yang sampai senja belum beranjak dari sungai, walaupun air sungai mulai menggenang kembali.

Tiba-tiba terdengar suara seperti tempayan pecah. Perut Uthak Uthak Ugel pecah. Air keluar membanjiri desa seperti air bah. Beberapa penduduk terbawa oleh air tersebut. Uthak Uthak Ugel mati. Penduduk yang serakah ikut terseret air bah.

Kisah yang dibawakan Kentrung Kreasi tersebut begitu renyah, penuh canda, tetapi juga mengandung pesan moral yang sangat penting untuk membentuk karakter anak-anak muda dan para pelajar. Inti pesan tersebut adalah: orang tidak boleh hidup dengan serakah. Sifat serakah dan tamak hanya akan berujung celaka. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme