Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Simbol Kala Pada Relief Candi Bajang Ratu

Ahmad Fahrur Rozi [] Mahasiswa SPI Semester II; Peserta Klinik Menulis IJIR []

Ahmad Fahrur Rozi [] Mahasiswa SPI Semester II; Peserta Klinik Menulis IJIR []

Di zaman Majapahit, Kala sudah sangat familiar dikenal. Ia menjadi binatang mitologi yang kisahnya masih terjaga hingga kini. Kala digambarkan sebagai buto, memiliki perawakan yang sangat menyeramkan dengan sepasang tanduk, mata melotot, mulut lebar dan memperlihatkan taringnya yang tajam, serta sepasang cakar di kanan-kiri kepalanya.

Kala, biasanya terdapat pada hiasan candi bercorak Hindu ataupun Buddha. Satu-satunya candi di Trowulan peninggalan kerajaan Majapahit yang pada struktur bangunannya terdapat relief Kala adalah gapura Candi Bajang Ratu yang ditemukan oleh warga di area persawahan masyarakat Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Gapura Candi Bajang Ratu ialah tempat yang suci dan sakral bagi kerajaan Majapahit, di mana pada zaman dahulu difungsikan sebagai gapura masuk untuk menuju ke tempat suci untuk prosesi penobatan bagi Raja Jayanegara sekaligus tempat pengkremasian abu jenazahnya.

Candi Bajang Ratu juga dipercaya oleh masyarakat Trowulan sebagai  gerbang masuk kerajaan di bagian belakang kompleks istana kerajaan Majapahit. Relief Kala ini terletak pada bagian atas ambang pintu keluar-masuk tangga candi dan di bagian kanan-kiri pipi candi.

Dalam cerita agama Hindu, Kala pada awalnya dikisahkan sebagai seorang dewa yang tampan, tetapi karena suatu kesalahan, ia mendapat hukuman dan sebuah kutukan dari Sang Hyang Widi. Kemudian ia seketika berubah menjadi buto yang buas dan setiap binatang yang ditemuinya pasti akan dilahapnya dan diterkamnya hidup-hidup. Terakhir, ia memakan tubuhnya sendiri hingga hanya tinggal kepalanya.

Kala merupakan simbolisasi dari waktu, maut dan hitam. Waktu berarti bentuk kehidupan manusia akan ‘dimakan’ oleh waktu, hanya waktu yang kekal sedangkan yang lain akan musnah. Maut artinya sebagai lonceng atau pengingat bagi manusia akan pertemuannya dengan kematian (maut), dibuktikan dengan penemuan nisan bermotif Kala di Trowulan. Hitam diartikan sebagai kebatilan atau perbuatan buruk manusia yang memiliki sifat rakus akan segala hal di dunia.

Menurut kepercayaan budaya Majapahit, Kala pada relief gapura memiliki fungsi sebagai pelindung dan penolak dari marabahaya (roh-roh jahat). Simbol cakar pada kanan-kiri kepalanya sebagai bentuk ancaman terhadap kejahatan yang akan mengusik kesakralan dan kesucian bangunan candi.

Pada waktu tertentu, ada ruwat dusun atau slametan desa dan juga diadakan pagelaran  tumpek wayang khususnya di daerah Trowulan. Masyarakat setempat akan membuat sesajen yang akan diletakkan khusus di pintu keluar-masuk tangga Candi Bajang Ratu sebagai bentuk persembahan kepada Buto Kala agar diberi keselamatan dan terhindar dari kemalangan dan hal-hal yang tidak diinginkan pada saat awal acara sampai akhir acara berlangsung.

Kegiatan tersebut, sudah menjadi rutinitas yang terus dilaksanakan. Tutur lisan yang berkembang di daerah sekitar Temon, apabila pemberian sesajen di tempat relief Kala pada candi ini tidak dilaksanakan pada hari-hari tersebut, maka masyarakatnya akan mengalami kesialan.

Apa yang diyakini masyarakat lahir bukan tanpa alasan. Masyarakat masih memegang tradisi lisan yang berkembang tentang asal muasal tradisi tersebut terutama yang berkenaan dengan Kala. Diceritakan bahwa Kala tengah mengejar seorang dewa bernama Kumara untuk menjadi santapannya. Namun setelah lama mengejar akhirnya ia kelelahan dan menemukan sesajen yang diberikan Sang Amengku Dalang yang sedang asik bermain wayang. Karena haus dan lapar, sesajen itu dilahapnya habis.

Akhirnya ada dialog antara Kala dan Amengku Dalang yang meminta agar segala sesajen yang dimakan dimuntahkan kembali. Kala tidak memenuhi permohonan tersebut. Sebagai gantinya, ia berjanji tidak akan memakan orang yang lahir pada tumpek wayang jika sudah menghaturkan sesajen pada saat menggelar pertunjukan.[]

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme