Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Kitab Panyirèp Gemuruh Karya KH. Abdul Wahab Chasbulloh

Hamim Mustofa [] Mahasiswa AFI Semester IV; Staf di Departemen Manuskrip Islam Jawa, IJIR []

Hamim Mustofa [] Mahasiswa AFI Semester IV; Staf di Departemen Manuskrip Islam Jawa, IJIR []

Pesantren merupakan salah satu subkultur masyarakat muslim Indonesia, begitu kata Gusdur (Wahid, 2001: 3). Dalam keberadaannya itu, pesantren tak dapat dipisahkan dengan kitab kuning. Di Indonesia, keduanya menjadi elemen kunci untuk melakukan transformasi keilmuan, khususnya keilmuan Islam. Tak berlebihan jika Martin van Bruinessen menyebut keduanya sebagai pemelihara dan pelanjut tradisi keilmuan Islam.

DI balik peran seperti itu, selama ini kitab kuning hanya dianggap sebagai sumber acuan pembelajaran. Faktanya, anggapan itu tidalah selalu benar. Terbukti ada sebuah kitab yang lahir dalam rangka menjawab problematika sosial, yaitu kitab “Panyirèp Gemuruh” karya KH. Abdul Wahab Chasbullah.

Naskah asli kitab Panyirèp Gemuruh karya KH. Abdul Wahab Chasbullah tersebut ditemukan oleh Komunitas Pegon di lemari buku peninggalan almarhum KH. Ki Agus Muhammad Saleh Syamsudin Lateng, Banyuwangi.

Deskripsi Kitab Panyireb Gemuruh

Panyirèp Gemuruh, siapa sangka jika kedua kalimat tersebut merupakan nama dari sebuah kitab kuning. Hal ini bisa dimaklumi, karena umumnya judul kitab identik dengan bahasa Arab. Namun kitab karya KH. Wahab Chasbulllah tersebut tidak begitu. Alih-alih menggunakan judul Arab, bahkan isi kitab tersebut ditulis menggunakan bahasa Jawa, beraksara pegon.

Kitab ini memiliki ketebalan 68 halaman, yang terdiri dari: Sampul Depan, Muqaddimah, Daftar Isi, dan Lembar Koreksi. Kitab ini diterbitkan oleh percetakan “Al-Irsyad”. Sayangnya, tak ada bagian yang menyebutkan kapan kitab ini diterbitkan. Informasi pada sampul dan Muqaddimah hanya meyebutkan bahwa kitab ini mulai dikarang pada bulan Muharam 1343 H dan selesai 16 Muharam 1343 atau 17 Agustus 1924.

Menariknya, kitab tersebut bukan sekadar kitab yang ditulis untuk materi pembelajaran di pesantren, melainkan untuk menjawab permasalahan yang konkret terjadi di masyarakat. Permasalahan itu adalah polemik tentang perluasan Masjid Paneleh di Surabaya.

Dikisahkan, masjid tersebut bangunannya kecil sehingga tak lagi mampu menampung jamaah. Karena itu, sudah barang tentu masjid tersebut perlu diperluas. Sayangnya, masjid tersebut dikelilingi oleh area pemakaman kuno. Hal inilah yang menyebabkan adanya polemik di antra pihak takmir masjid.

Singkat cerita, setelah melakukan konsultasi dan kajian (hukum syar’i), pihak takmir memutuskan untuk melakukan perluasan masjid. Namun permasalahan tidak berhenti di situ. Saat hendak mencangkul tanah yang akan dijadikan pondasi, pihak pekerja menemukan tulang-belulang manusia. Polemik pun kembali menghangat. Dalam konteks seperti inilah kitab tersebut ditulis.

Isi kitab ini tediri dari 27 pasal pembahasan yang tentunya terkait erat dengan konteks ditulisnya. Pasal-pasal tersebut adalah hukum ngramut masjid, sebab-sebab nggèdekake masjid kanggo tanah kuburan, maknane ‘indirasāt maqburoh’, pènjaluke takmir masjid marang negara, hukume ngéduk tanah kuburan, gèlis suwene dadine lamahe mayit, dèdalani weruhe ahli khobaroh, ngaweruhi dadine lemahe mayit songko suwine mongso koyo 85 tahun, pengaruhe bester (lantai) maring dadine lemah, jawabe pengarang ing pitakon lamun nemu balung ing tengah-tengah ngedok koyo opo, dan tandang ngèduk ing tengah-tengah nemu balung.

Setelah itu disusul dengan beberapa pasal lain, di antaranya: nerangno pangèndikane syaraḥ buhjah ila dafnil akhori ma’ahu, tarkib’e allatī fī ḥujūrikum lan ilā dafni al-akhār ma’ahu, ora sah ‘ila dafni al-akhār’ dadi qayyid pitakon ana endi kanggone qā’idah ‘lā athara’, ngrembuk gedhe cilike hajat lan dlārurāt, hajat kang dadi sebabe kaya nerusne ngeduk sarta nemu balung ing tengah-tengah, kè-afshah-ane nékel kang wus kasiaraken, nglakoni paunéne neket kang wus sah mungguhe poro ulama’, mlebune hajat kabeh saking neket kang wos sah.

Beberapa pasal lanjutan adalah: sebabe takmir masjid ngénékna musyawaroh ulama’, beda-bedane ḥujjahe para kiai kang ngénéaken utawa kang ora ngénéaken, ḥujjahe pengarang sak kancane, pelanggèrane ijtihād lan bedane ijtihād mutlak lan muqayyad, anane kitab iki dadi Panyirèp gemuruh, musykil-musykil ing dalem sepadane hadis la min Allah al yahudi ittakhadza waaqburo anbiyaihim masajid, musykil manéh ing dalem ittakhadzu maqburoh masjidan nabsyutu am lam tnabsyut, lan pitakon kaya apa karèpe makruh sambang ing dalem kuburan.

Setelah itu, bagian penutup diakhiri dengan kalimat yang berisi harapan pengarang atas kitab tersebut. Kalimat tersebut ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa singkat dan lugas.

اِكِيْ كِتَابْ تَاءْ ڤُوْݞكَسِيْ مُوْكَا٢ چُوْچُوْك اِݷْع اَرَنِيْ ڤَاݷِيْرۤفْ كۤمُوْرُوْه لَنْ اِيْكِيْ كِتَابْ بِيْسَاهَا مَنْفَعَاتِيْ مَارِيْݞ سِيْݞ ݞَارَاعْ لَنْ سِيْݞ ڤَاࢮَا مَاچَا اِݞْدَلۤمْ دُنْݷَا اَخِيْرَةْ

“Iki kitab tak pungkasi, muga-muga cocok ing arane Panyirèp Gemuruh lan iki kitab bisaha manfaati maring sing ngarang lan sing podo moco ingdalem dunya akhirat.”

Keistimewaan Kitab

Hal yang membedakan kitab ini dengan kitab pada umumnya adalah cara pengutipan sumber rujukan. Umumnya, kitab-kitab kuning yang ada, pengutipan hanya menyebutkan pengarang dan kitabnya saja. Berbeda dengan itu, kitab ini dalam mengutip sumber menyebutkannya lebih rinci, mulai dari nama pengarang, nama kitab, juz, halaman, bahkan ada yang sampai menyebutkan letak baris. Seperti contoh dalam fasal 7 berikut:

“…سۤبَابْ بِيْدَا٢نِيْ نۤݣَارَاݞۤنْدِيْكَا كَنْجۤعْ إمَامْ شَافِعِيْ اݞْدَلۤم كِتَابْ الاَم جُزْ اوَلْ بَابْ مَا يَكُوْنُ بَعْدَا لِدَفْنِ صَحِفَةْ نُوْمۤرْ ٢٤٣ لاَرِيْئَانْ ڤِيْݞْ ١٠ نَصَهُ هُنَاكَ …”

sebab beda-bedane negara, ngendika kanjeng Imam Syafi’i ing dalem kitab Al-Um, juz awal, Bab ma yakunu ba’da lidafni, shohifah 243, larikan ping 10, nashohu hunaka…”

Selain itu, kitab ini juga dilengkapi dengan lembar Koreksi. Pada bagian ini, dituliskan pembenaran mengenai redaksi yang salah dan melengkapi yang masih kurang. Lembar Koreksi ini menunjukkan bahwa di kala itu sudah ada sistem revisi kitab.

Itulah salah satu bagian menarik dari kitab ini. Bagaimana tidak, di era di era 40-an seorang Kiai Wahab Chasbullah telah menggunakan standar penulisan akademik seketat itu. Suatu hal yang tak banyak dilakukan oleh ulama’ sezamanya. Padahal, saat itu di Indonesia belum banyak lembaga pendidikan formal. Bahkan KH Wahab Chasbullah sendiri merupakan santri tulen.

Terlebih penting dari semua itu, kitab tersebut telah meberi kita pelajaran berharga. Bahwa dalam menjalankan hukum syari’at, sudah seharusnya tidak melupakan konteks masyarakat pemangkunya. Dengan begitu, agama akan dapat dihayati oleh para pemeluknya, bukan sekadar formalitas belaka. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme