Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Pantangan Neptu Patlikur

Anma Muniri [] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Semester V; Staf magang di IJIR []

Anma Muniri [] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Semester V; Staf magang di IJIR []

Masyarakat Jawa memiliki cara tersendiri untuk menentukan hari baik/buruk. Penentuan hari baik  ini dimanifestasikan dalam  segala kegiatan. Proses ini tidak terlepas dari proses perhitungan hari yang dianggap memiliki nilai-nilai kebaikan dan dijauhkan dari malapetaka.

Segala kegiatan sosio-kultural baik membangun rumah, menikah, panen dan sebagainya diwajibkan melakukan perhitungan untuk menentukan hari yang paling baik. Hal ini bertujuan agar orang selalu memetik kebaikan dalam segala urusan kehidupan.

Masyarakat sangat mempercayai hari baik dan hari tidak baik, atau gejala alam, dan mereka tidak akan melakukan pekerjaan atau kegiatan tanpa melihat jenis harinya (Raffles, 2008: 155). Salah satu contoh yang paling sering terjadi di masyarakat dalam perhitungan Jawa adalah pernikahan. Terlebih pernikahan merupakan suatu kegiatan yang sakral. Hanya terjadi sekali seumur hidup. Dalam konteks masyarakat Jawa, pernikahan harus dilangsungkan dengan berbagai ritual khusus.

Kemudian dalam menentukan hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan. Masyarakat Jawa biasanya dengan menghitung neptu si calon perempuan maupun laki-laki. Hal ini sangatlah penting, karena hasil dari perhitungan neptu tersebut memengaruhi proses diperbolehkan atau tidaknya suatu pernikahan,

Setelah dilihat kemudian dijumlahkan neptu kedua calon tersebut misalnya neptu Kamis Kliwon (16) ditambah dengan neptu Rabu Pahing (16) maka berjumlah 32. Dengan mengetahui jumlah neptu tersebut, maka akan bisa diketahui dengan mudah hari yang cocok untuk melaksanakan pernikahan.

Salah satu daerah di Jawa yang masih melakukan perhitungan Jawa adalah Trenggalek. Khususnya di Dusun Wonogondo, Kecamatan Panggul.  Masyarakatnya masih kental akan perhitungan Jawa dalam menentukan hari dan di perbolehkan atau tidaknya dalam melangsungkan pernikahan.

Mereka biasanya pergi ke rumah seorang dukun yang diyakini mampu menghitung neptu. Baik dalam menafsirkan kelebihan maupun kelemahan neptu tersebut, sehingga nantinya si calon pria maupun wanita yang akan menikah mengerti dan saling melengkapi segala kekurangan maupun kelebihan.

Selain penafsiran neptu juga terjadi penggabungan neptu dari calon pengantin laki-laki dan perempuan. Supaya bisa menghasilkan hari yang cocok untuk melaksanakan pernikahan. Tetapi ada juga penggabungan neptu yang dianggap tidak cocok dan harus dihindari dari calon pria dan wanita.

Gabungan weton yang wajib dihindari adalah patlikur (dua puluh empat). Bila dalam  masyarakat Jawa penggabungan antara pria dan wanita wetonnya berjumlah patlikur, umumnya keluarga memilih untuk membatalkan rencana pernikahan tersebut.

Hal ini dilakukan karena keluarga tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Mengingat prinsip orang tua dalam masyarakat Jawa adalah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Salah satu alasan tidak diperbolehkannya neptu patlikur dalam suatu pernikahan di ungkapkan oleh Mbah Bonimin. Ia merupakan salah satu dukun Jawa yang biasanya mencarikan hari pernikahan di Dusun Wonogondo. Menurutnya dalam penggabungan neptu yang berjumlah neptu patlikur menimbulkan suatu malapetaka.

Malapetaka tersebut bisa berupa salah satu dari anggota keluarganya yang meninggal secara mendadak maupun  misterius, kesulitan mencari rezeki, keluarga tidak bahagia dan ditimpa musibah.

Konon, menurut Mbah Bonimin pada zaman dahulu terdapat salah satu calon pengantin yang memiliki neptu berjumlah patlikur. Mereka nekad melanggar larangan dari neptu tersebut sampai ke jenjang pernikahan. Alhasil salah satu anggota keluarga dari pria meninggal secara misterius. Kemudian tak lama kemudian pengantin pria mengalami gangguan Jiwa.

Oleh sebab itu, tidak sedikit dari masyarakat Jawa yang percaya terhadap larangan neptu patlikur. Pada dasarnya masyarakat tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan. Sekaligus mereka masih sangat kental dengan adat dan tradisi yang berlaku di daerah setempat. Kepatuhan terhadap tradisi mengakar kuat dalam diri mereka.

Kepercayaan terhadap larangan neptu seperti ini karena masyarakat Jawa yang masih memercayai hari yang baik maupun buruk, maupun neptu yang baik dan buruk. Layaknya ada sifat baik dan ada sifat buruk.

Selain neptu patlikur menurut kepercayaan masyarakat Jawa, bila seseorang menikah tanpa melakukan perhitungan Jawa maka orang tersebut akan tertimpa kesialan dan mara bencana dalam kehidupannya.

Kesialan tersebut disebabkan karena tidak mematuhi dan tidak menjalankan tradisi yang secara turun-temurun diwariskan. Maka dari itu, perhitungan neptu dalam masyarakat Jawa menjadi tolok ukur dalam menentukan jodoh secara duniawi. Dengan melihat sisi kekurangan dan kelebihan dari segi penafsiran neptu dan juga menjauhi segala larangan dalam neptu, sehingga menghasilkan keluarga yang kuat dan saling melengkapi sesuai dengan falsafah masyarakat Jawa. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme